//
you're reading...
Politik [as-Siyasi]

REPOSISI ‘DAKWAH QALBU’

Oleh MR Kurnia

Krisis  multidimensional telah mengepung masyarakat, tatanan ekonomi kapitalistik, perilaku politik oportunistik, budaya hedonistik, sikap sosial egoistik dan individualistik, sikap beragama yang sinkretistik, dan paradigma pendidikan materialistik. Ajaran Islam semakin jauh dari kehidupan seseorang.  Banyak orang sulit mendapat ketenangan dan ketentraman. Kesibukan duniawi menjadikan hatinya kering dan mendorongnya mencari kedamaian hati untuk diri sendiri.  Lahirlah pandangan pentingnya ‘dakwah qalbu’.

Ada beberapa asumsi yang mendasari ‘dakwah qalbu’ ini[i]Pertama, qalbu (sering diartikan hati) merupakan pusat segala-galanya. Perilaku seseorang adalah ceminan isi qalbunya.  Kedua, qalbu sifatnya individual. Sehingga ‘dakwah qalbu’ diperuntukkan bagi pembinaan individual.  Ketiga, qalbu itu laksana cermin. Qalbu yang jernih, tanpa belajar, akan dapat menangkap pengetahuan, kebaikan, dan sikap terpuji langsung dari Allah Swt.; seperti cermin yang menangkap gambar benda di depannya.  Keempat, sifat qalbu bertentangan dengan jasmani. Jika qalbu lebih diperhatikan, maka perhatian terhadap hal-hal material akan berkurang. Demikian sebaliknya.   Dalam pandangan ini, qalbulah yang menjadi pusat perhatian untuk diubah.

Dakwah qalbu menekankan pada pembersihan qalbu karena persoalan kemasyarakatan dipandang lahir dari persoalan qalbu ini.  Dari caranya, ‘dakwah qalbu’ lebih merupakan perenungan atas apa yang terjadi, dialami, atau dilihat. Lalu  direfleksikan bagaimana sebagusnya dan sangat individual. Hasilnya berupa ketenangan pribadi.

Meluruskan Persepsi

Allah Swt. memerintahkan setiap Muslim untuk membersihkan qalbunya.  Sebab, isi qalbu akan dihisab oleh Allah. Abu Hurairah, menuturkan Rasulullah Saw. bersabda:

]إِنَََّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ اِلَى أَجْسَامِكُمْ وَلاَ اِلىَ صُوَارِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ اِِلىَ قُلُوْبِكُمْ[

Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk tubuh kalian dan tidak pula rupa kalian, tetapi Allah melihat qalbu kalian. (HR Muslim).[ii]

Namun kesalahpahaman tentang qalbu ini menyebabkan kesalahan dalam amal seorang muslim. Seperti ‘dakwah qalbu’ yang kini terjadi semata-mata didasarkan pada perasaan-perasaan qalbu.  Yang ditekankan adalah sifat-sifat qalbu an sich seperti harus sayang, belas kasihan, lembut dsb. Hal itu tidak serta-merta keliru bila landasannya adalah akidah dan hukum Islam.  Bila dasarnya semata-mata perasaan, maka akan banyak dihasilkan  pertentangan dengan hukum Islam itu sendiri. Sebagai contoh, qalbu harus senantiasa memiliki rasa kasihan. Jika semata hal itu, ketika ada orang dicambuk 100 kali karena berzina, akan timbul rasa kasihan. Bahkan, boleh jadi akan menolak—minimal keberatan dengan—hukum tersebut. Kalaupun menerima, ia tidak setuju bila diterapkan secara terbuka, harus sembunyi-sembunyi.  Alasannya, ‘kita harus belas kasihan’.  Jelas yang demikian bertentangan dengan firman allah surat al-Nûr ayat 2.

Contoh lain, bila ‘dakwah qalbu’ hanya didasarkan pada keharusan lemah-lembut maka setiap persoalan akan dihadapi dengan lemah-lembut. Boleh jadi, terhadap AS -yang jelas-jelas telah menggempur umat Islam di Afganistan, di Irak dan berencana menyerbunya kembali, mendukung Israel yang secara terang-terangan membantai anak-anak, wanita, orang tua dan muslim lainnya di Palestina- akan bersikap dan meminta dengan berlemah lembut,  duduk dan tertawa bersama, atau bersalaman penuh kemesraan.  Padahal, Allah Swt. justru memerintahkan bersikap keras terhadap kaum kafir dan kekufurannya (firman Allah Swt. surat al-Fath [48] :29).

Redefinisi Qalbu

Qalbu persis seperti energi, dapat dirasakan adanya namun tak dapat dilihat.  Dalam mendefiniskan qalbu, orang akan kembali pada apa yang dirasakannya sebagai qalbu tersebut.  Tetapi, karena qalbu tidak kasatmata, pemaknaannya jadi sering kabur.  Untuk itu, apa itu qalbu perlu didefinisikan kembali dengan pengertian yang berasal dari Allah Swt., Zat Pencipta qalbu tersebut.

Dalam bahasa Arab, qalbu merupakan lafadh musytarak[iii], maknanya banyak.  Secara bahasa, qalbu (qalb) bermakna hati, isi, lubuk hati, jantung, inti (lubb), akal (‘aql), kekuatan, semangat, keberanian, bagian dalam (bâthin), pusat, tengah, bagian tengah (wasath), dan yang murni (khâlish, mahdh). Al-Quran sendiri menggunakan kata qalb dalam makna yang beraneka ragam dan tidak keluar dari cakupan makna bahasa tersebut. Makna qalbu berdasarkan AL-Quran antara lain: Pertamam makna qalbu berkaitan dengan upaya memahami, mengerti, tadabbur, dan berakal. Dengan kata lain, qalbu berkaitan dengan proses berpikir (al-fikr/al-idrâk/al-‘aql), yakni proses pemindahan fakta melalui penginderaan ke otak yang disertai dengan adanya informasi pendahulu yang ada di otak yang menilai fakta tersebut. Berikut ini makna qalbu dalam engertian yang pertama:

Qalbu berarti ‘aqlu, yaitu pemahaman dan pemikiran.  Allah Swt. berfirman :

]لَهُمْ قُلُوبٌ لاَ يَفْقَهُونَ بِهَا[

Mereka mempunyai qalbu (qulûb) tetapi tidak dipergunakan untuk memahami (yafqahûna) ayat-ayat Allah. (QS al-A’raf [7]: 179).

Qalbu pada ayat tersebut bermakna akal karena Allah Swt. mengaitkannya dengan al-fiqh (pemahaman).        Makna al-fiqh juga terdapat pada surah al-Munafiqun (63) : 3 dan at-Taubah (9) : 92.

Qalbu juga dimaknai sebagai ilmu, sebagaimana firman Allah Swt.:

]رَضُوا بِأَنْ يَكُونُوا مَعَ الْخَوَالِفِ وَطُبِعَ عَلَى قُلُوبِهِمْ فَهُمْ لاَ يَفْقَهُونَ[

Mereka rela berada bersama orang-orang yang tidak pergi berperang, sementara qalbu-qalbu mereka telah dikunci mati, sehingga mereka tidak mengetahui (ya’lamûn) (kebahagiaan beriman dan berjihad). (QS at-Taubah [9]: 87).

Al-Quran juga memaknai qalbu dengan  berpikir secara mendalam (tadabbur).  Tegas sekali Allah Swt. berfirman:

]أَفَلاَ يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْءَانَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا[

Mengapa mereka tidak mentadabburi al-Quran ataukah di dalam qalbu-qalbu  mereka ada penutupnya? (QS Muhammad [47]: 24).

Bahkan, secara nyata Allah Swt. memberi makna qalbu dengan akal-pikiran:

]أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا[

Apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati (qulub) yang dengan itu mereka dapat berpikir (memahami). (QS al-Hajj [22]: 47).

Begitu juga di dalam surah Muhammad (47) ayat 16 dan surah al-A’raf (7) ayat 100.

       Kedua, qalbu bermakna tempat perasaan (wijdân/fu’âd), baik yang benar maupun yang salah. Banyak sekali ayat-ayat al-Quran yang menegaskan hal ini. Misalnya: tempat kekhusyukan (QS al-Hadid [57]: 16), kelembutan dan kasih sayang (QS al-Hadid [57]: 27), perasaan terguncang (QS al-Anfal [8]: 3), takut dan kecut (QS Ali Imran [3]: 151), sombong (QS al-Mukmin [40]: 35), marah (QS at-Taubah [9]: 15), ketenangan dan ketentraman (QS ar-Ra’du [13]: 28), keraguan dan syak (QS at-Taubah [9]: 110), keras dan bandel (QS al-Baqarah [2]: 74).

Qalbu dengan makna ini lebih merupakan ihsâs gharîzî (perasaan instingtif), yaitu sikap yang muncul dari perasaan yang ada sebagai bentuk penampakan naluri. Qalbu dalam makna ini tidak dapat menetapkan mana yang harus ada dan mana yang tidak. Malahan qalbu menjadi tempat berbaurnya berbagai perasaan baik dan buruk.  Persoalannya, bagaimana supaya perasaan yang dominan di dalam qalbu hanyalah yang baik-baik saja dengan hukum syariat sebagai tolok-ukurnya.

Di antara arti penting qalbu sebagai tempat perasaan adalah qalbu sebagai tempat iman dan takwa. Iman sebagai pembenaran yang tegas tanpa sedikit pun keraguan didapatkan melalui qalbu (dalam arti perasaan) yang mengendapkan dan menempelkan pemikiran (fikrah) ke dalamnya, lalu menyatukannya dengan sempurna, sungguh-sungguh penuh keyakinan dan ketenangan disertai kesesuaiannya dengan akal. Syarat dari keyakinan yang tegas tanpa keraguan (tashdîq jâzim) adalah kesesuaiannya dengan akal. Apabila keyakinan yang pasti dalam qalbu dan kesesuaian akal dengan keyakinan tersebut ada maka terbentuklah iman itu. Berkaitan dengan masalah ini, Allah Swt. berfirman:

]إِلاَّ مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ [

…kecuali orang yang dipaksa, sementara  qalbunya tenang dalam keimanan. (QS an-Nahl [16]: 106).

]أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ[

Mereka itulah yang dituliskan di dalam qalbu mereka iman. (QS al-Mujadalah [58]: 22).

]وَلَكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ[

Akan tetapi, katakanlah, “Kami telah tunduk,” karena iman itu belum masuk ke dalam qalbu kalian. (QS al-Hujurat [49]: 14).

Selain sebagai tempat iman, qalbu juga merupakan tempat keraguan, syak, bahkan penolakan terhadap kebenaran. Allah Swt. menegaskan hal ini:

]رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا [

Wahai Tuhan kami, janganlah engkau memalingkan qalbu-qalbu kami setelah Engkau menunjuki kami. (QS Ali Imran [3]: 8).

Karenanya penting memberikan pemahaman tentang suatu perkara yang wajib diimani sebagai wajib diimani. Dengan begitu, qalbu tidak keliru mengimani sesuatu yang sebenarnya tidak boleh diimani, atau mengingkari sesuatu yang mestinya diimani.  Di sini pula letak pentingnya memberikan pemikiran dan pemahaman Islam sehingga qalbu merasa tenang dalam perkara yang benar dan gelisah dalam perkara dosa; bukan sebaliknya.

Selain iman dan syak/keraguan, takwa juga terdapat di dalam qalbu. Sebagaimana dipahami, takwa merupakan sikap takut kepada Allah Swt. seraya menjalankan syariat-Nya. Hal ini dijelaskan dalam al-Quran:

]ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ[

Demikianlah (perintah Allah). Siapa saja yang mengagungkan syiar-syiar Allah (ibadah), sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan qalbu. (QS al-Hajj [22]: 32).

Jelaslah bahwa makna qalbu mencakup akal-pikiran dan perasaan. Seseorang qalbunya bersih bila akal-pikiran dan perasaannya sesuai dengan aturan Allah Swt. dan bersih dari aturan thâghut. Untuk itu, agar qalbu menjadi bersih perlu dilakukan beberapa hal berikut:

  1. Setiap Muslim mutlak memenuhi qalbunya dengan ketakwaan kepada Allah Swt.  Sebab, qalbu adalah tempat menerima kebaikan dan hidayah (QS surah at-Taghabun [64]: 11). Seorang Muslim juga harus sering berdoa agar qalbunya tetap lurus di atas Islam, senantiasa mengingat-Nya, bertasbih siang malam, mengingat-Nya sepanjang shalat dan tahajjud niscaya dengan zikir itu qalbu menjadi tenteram (QS ar-Ra’du [13]: 28).
  2. Setiap Muslim mutlak mendidik pemikiran-pemikirannya dengan suatu pembelajaran yang menjadikan pikirannya menyatu dengan perasaannya. Dengan begitu, akan terbentuklah api yang membakar kezaliman, kemaksiatan, kefasikan, kekufuran, dan segala dosa; sekaligus ia menjadi cahaya yang menunjuki masyarakat kepada hidayah dan risalah agung ini (Islam) hingga Islam diterapkan bukan hanya pada diri sendiri melainkan di tengah-tengah masyarakat secara total.
  3. Setiap Muslim mutlak menyadari bahwa di dalam qalbu itu terdapat berbagai penyakit yang harus disterilkan (QS Muhammad [47]: 20), yaitu setiap perasaan internal dalam qalbu yang dilarang dan bertentangan dengan hukum Allah Swt. Oleh karenanya penting memahami hukum-hukum Islam.
  4. Setiap Muslim mutlak memahami bahwa baiknya seseorang bergantung pada baiknya qalbu, demikian juga sebaliknya.  Sebab, qalbu itu tempat iman jika diisi dengan akidah yang rusak ia akan menjadi asas bagi kerusakan kehidupan seseorang. Qalbu juga tempatnya takwa. Sekalipun dari segi akidah seseorang itu Muslim, tetapi apabila ia ‘sakit’ dalam muamalah, akhlak, dan ibadahnya karena kelemahan ketaqwaan maka ia, tanpa ragu lagi, adalah seorang yang rusak (fâsid).  Inilah makna sabda Rasul yang menyatakan bahwa di dalam diri manusia itu ada qalbu, bila qalbu itu baik maka baik seluruh jasadnya, bila qalbu rusak maka rusaklah seluruh jasadnya. Itu pula yang dijelaskan Allah Swt.:

]فَإِنَّهَا لاَ تَعْمَى الأَبْصَارُ وَلَكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ[

Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta itu adalah qalbu yang ada di dada. (QS al-Hajj [22]: 46). 

 

Dengan demikian upaya membersihkan hati tidaklah bisa dilakukan dengan olah perasaan yang tidak disertai dengan dalil. Tidak cukup pula hanya lewat dzikir dan ibadah ritual. Namun haruslah diawali dengan keimanan yang shohih lewat proses berpikir yang jernih, disertai dengan ilmu dan penerapan hukum-hukum Allah secara menyeluruh (pribadi, keluarga, politik, ekonomi, negara, dsb) sebagai cerminan ketaqwaan seorang muslim.  

Dakwah Qalbu dalam Konteks Dakwah Islam

Dakwah merupakan upaya untuk menyeru manusia ke jalan Allah Swt. Dakwah merupakan upaya terus-menerus untuk mengubah manusia—baik pikiran, perasaan, maupun perilakunya—dari yang jahiliah ke Islam, atau dari yang sudah Islam menjadi lebih Islam lagi, hingga terbentuklah tatanan masyarakat islami yang melaksanakan dan menerapkan hukum Islam secara kaffah dalam wadah Daulah Khilafah Islamiyah.

Hal tersebut baru akan terjadi apabila terjadi dua hal, yaitu[iv]:

  1. Kebangkitan individu. Kebangkitan individu diperoleh apabila individu-individu Muslim telah memiliki pola pikir dan pola jiwa Islam sehingga menyadari kedudukannya sebagai hamba AllahSwt., wajib taat total kepada-Nya, menyadari realitas buruk yang dialami umat dan segera bergabung dengan kaum Muslim yang tengah berjuang melaksanakan dan menegakkan Islam. Upaya itu dilakukan dengan mendidik akal-pikiran dan perasaan dengan akidah dan hukum Islam.  Sehingga akal pikiran dan perasaan qalbunya senantiasa terpaut dengan Islam, isi qalbunya bersih sesuai aturan Islam. Jadilah ia seorang pemikir-politikus (mufakkir-siyâsiyyun) yang mempedulikan persoalan diri dan umatnya.  Di sinilah dan dalam makna inilah  letak ‘dakwah qalbu’ dalam konteks dakwah Islam secara keseluruhan; bukan ‘dakwah qalbu’ dalam arti olah perasaan semata.
  2. Kebangkitan umat. Kebangkitan umat tidak dapat terjadi bila kebangkitan sebatas individual. Kebangkitan umat akan terjadi apabila individu-individu yang telah bangkit berjuang bersama secara terorganisasi dengan rapi dalam bentuk satu atau lebih kelompok.  Persis seperti Rasulullah saw. yang berjuang menegakkan Islam secara terorganisasi bersama para sahabatnya. Kelompok tersebut melakukan pembinaan (untuk memproduksi individu-individu yang bangkit) pergolakan pemikiran (shirâ’ul fikrî) sehingga tampak mana yang benar dan mana yang batil, perjuangan politik (kifâh siyâsî), dan terus-menerus membentuk opini publik mendukung Islam melalui pembinaan umum (tatsqîf jamâ‘î).

Tampak jelas, dakwah Islam untuk melanjutkan kehidupan Islam tidak cukup dengan membentuk pribadi-pribadi yang baik.  Lebih dari itu, dakwah Islam mutlak dilakukan secara komprehensif.  Membatasi dakwah sebatas ‘dakwah qalbu’ hanya akan memproduksi pribadi-pribadi yang mencapai ketenangan dan ketenteraman individual, tanpa menghasilkan kebangkitan umat secara keseluruhan. Bahkan, prioritas dakwah untuk mengubah kehidupan jahiliah menjadi tata kehidupan Islam menjadi terpinggirkan.  Alhamdulillâh. []


[i]   Pandangan demikian dapat dipelajari dalam buku Rahasia Hati (terj.), karya Imam Al Ghazali, terbitan CV. Bintang Pelajar, tanpa tahun.

[ii]   Hadits ini pula dikutip dalam buku Riyâdhus Shâlihîn, Bab Tentang Ikhlas dan Niyat, hadits nomor 8.

[iii]              Lihat Kamus Al Munawwir, Ahmad Warso Munawwir, halaman 1232, tentang al qalbu.

[iv] Bahasan ini dapat dikaji lebih detail dalam buku: An Nahdhah, karya Hafizh Shalih terbitan Dâr an Nahdhah al Islâmiyyah, tahun 1988; dan Usus an Nahdhah ar Râsyidah, karya Ahmad Qashash terbitan Râbithah al Wâ’ie ats Tsaqâfiyyah tahun 1995.

Iklan

About Ayatifa

Muslimah yang di besarkan di sebuah dusun yang bernama Kuamang Kuning di pedalaman Jambi, aktivitas sehari-harinya lebih banyak 'bersembunyi'. Hijrah ke Bogor untuk memenuhi hasrat petualangan intelektualnya. Menyukai dunia politik khususnya yang berkaitan dengan perempuan, keluarga dan generasi. Lahir di Sragen, 20 Juni lebih dari seperempat abad lalu. ^_^ Saat ini sedang belajar menulis untuk mengekspresikan diri. Memperoleh pengalaman yang sangat berharga saat numpang tinggal bersama Dara Apipb di Asrama Putri Bogor hingga menghantarkannya kepada tiga pertanyaan mendasar, "Dari mana kita berasal? Untuk apa kita hidup di dunia? Dan hendak kemana kita setelah kematian? Terkesan dengan sebuah bait, "Islam akan bangkit dengan atau tanpa kita. Lalu, apakah kita termasuk ke dalam orang-orang yang diam saja atau ke dalam barisan orang-orang yang memperjuangkannya?? Padahal, Islam akan tetap bangkit dengan atau tanpa kita." Belajar melawan, melalui perang pemikiran. Allahu Akbar!!!

Diskusi

2 thoughts on “REPOSISI ‘DAKWAH QALBU’

  1. Wah semangat terus neh.. Chayoo.. 🙂
    Hmm.. tulisan yang bagus.. bisa kembali mengingatkan kita pribadi, tentang apa tujuan hidup ini… tapi seandainya ini tulisan mbak Ayati sendiri.. Tentu akan jauh bermakna keindahan dan dakwah yg sejati… 🙂

    Posted by oedi | 18 Februari 2012, 12:51 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Assalamu’alaykum…

Demi Masa

Kini

Statistik Blog

  • 8,598 hits

Arsip

%d blogger menyukai ini: