//
you're reading...
Denting Cinta, Episode

Galauku

“Ribuan kilo jalan yang kau tempuh

Lewati rintangan untuk aku anakmu

Ibuku sayang masih terus berjalan

Walau tapak kaki penuh darah penuh nanah

Seperti udara kasih yang engkau berikan

Tak mampu ku membalas

Ibu… ibu……”

Senandung lagu lawas yang dinyanyikan Iwan Fals mengalun merdu di sudut kamarku. Di tengah berbagai pemberitaan media tentang kenaikan BBM, TDL, sidang Nazarudin,  premanisme, kecelakaan maut dan tentu kenaikan berbagai bahan pokok yang terus melonjak, serta seabreg berita lain terus berjejalan merangsek masuk ke ruang-ruang privat layaknya para politisi yang tak malu-malu lagi berlaku korup. Saya pun teringat Ibu. “Hay, manalah mungkin ada orang jujur?” begitu Ibu bilang setiap melihat koruptor mejeng di TV senyam-senyum tak punya malu. Hmm, di tengah gencarnya promosi pendidikan berbasis karakter. Saya pun bingung, karakter seperti apakah yang mau dibangun? Karakter seperti koruptor? Pembohong? Materialis? Hedonis? Atau apa? Tak satupun saya temukan pemimpin negeri ini yang patut dijadikan teladan. Barangkali Ibu benar. Bahwa kini, tak ada lagi orang yang jujur? Apalagi sosok pemimpin yang jujur dan seagung Umar bin Khaththab. Sungguh miris.

Katanya negeri ini telah merdeka. Lebih dari 66 tahun sudah proklamasi telah dikumandangkan. Berbagai orde pun telah dilalui, dari orde lama, orde baru, bahkan orde reformasi yang sempat menjadi tumpuan harapan akan membaiknya kondisi negeri ini. Namun lacur, memasuki 14 tahun usia reformasi kondisi bukanlah semakin membaik, rakyat tetap saja sengsara, kelaparan di negeri kaya. Kondisi ekonomi, politik, hukum, sosial dan lain-lain di negeri ini bukan saja makin berantakan. Namun, ibarat kanker sudah masuk stadium empat. Bukan cuma harus dikemoterapi, tapi harus diradiasi, bahkan diamputasi. Lalu, apakah akar persoalan dari kebobrokan semua ini? Tidak adakah sebuah solusi yang mampu menuntaskannya?

Lagu Ibu-nya Iwan Fals terus berputar, berkali-kali, mengiringi kegalauan sore ini akan nasib negeri tercinta, Indonesia.

Hampir setiap petang jam 18.00 WIB saya mendengarkan berita yang disiarkan RRI, khas, pemberitaan harga-harga sembako di berbagai kota di Indonesia. Dari harga terendah di pasar kota A hingga harga tertinggi di pasar kota B dan lain sebagainya. Dan paginya, “Indonesia menyapa” yang dipandu Maulana atau Panji menjadi sarapan pagi sambil menyibak kemacetan Jakarta. Dua penyiar itu, bila beliau tidak memperkenalkan namanya, saya sering tidak bisa membedakan, mana yang Panji dan mana yang Maulana, karena menurut saya keduanya bersuara mirip. Nah, kalau yang baca berita harga sembako, Marwan Zubaidi, meski lebih dari 8 tahun tidak ketemu, saya masih ingat bahwa itu suara Marwan. Terbayang saat beliau teriak-teriak di AKP (Awas Kepala, eh salah Aula Kantor Pusat). [Ngomong-ngomong sudah lama juga tidak membeli makanan di kantin AKP (disebut Awas Kepala, karena pintunya pendek jadi harus hati-hati biar tidak kejedug J) dan McD (Mang Dais)]. Lalu ada Luna dan beberapa penyiar lain yang belum saya hapal namanya. Aduh, BBM belum naik saja, harga berbagai bahan pokok telah melonjak, dan dapat dipastikan kemampuan daya beli masyarakat langsung melorot anjlok. Berbagai media pun dipenuhi dengan kabar miris, selalu mengaduk-aduk perasaan. Tapi, entahlah, apakah pemimpin negeri ini tidak mendengar, tidak membaca atau memang telah dibutatulikan oleh kekuasaan sehingga beliau-beliau yang terhormat ini tidak mampu lagi melihat dan mendengar berbagai jeritan dan penderitaan rakyat? Benar-benar miris!

Dua bocah yang diduga menderita busung lapar di Polewali Mandar, Sulawesi Barat, bukan hanya kekurangan gizi lantaran keluarganya tak mampu memberi asupan makanan yang cukup. Namun, bocah-bocah bernama Sahrul (7) dan Sahril (5) ini juga harus merajut derita panjang dalam sangkar berukuran 1 x 1,5 meter di salah satu pojok rumah bibinya. Nurhayati, yaitu bibi kedua bocah yang telah merawatnya sejak kecil terpaksa mengurung keponakannya dalam sangkar yang tak layak huni itu lantaran tak ada yang menjaga di rumah saat ia berjualan subuh hari di pasar. Di tempat itulah Sahrul dan Sahril menghabiskan hari sampai Nurhayati pulang dari pasar pada siang hari. Dari pagi hingga siang hari, selama Nurhayati berjualan di pasar tentu tidak ada yang mengurus keperluan Sahrul dan Sahril, termasuk ketika kedua bocah tersebut sadang kelaparan dan berlumuran kotorannya sendiri. Sebab, libur sehari saja dari berjualan sayur-mayur di pasar, berarti Nurhayati harus menambah daftar hutang ke tetangga atau shahabat yang bersedia memberinya pinjaman.


Kisah di atas hanyalah sepenggal cerita yang tersingkap dari salah satu sudut negeri ini dan pasti masih banyak rentetan kisah memilukan yang tak sempat terungkap, seputar gizi buruk, busung lapar dan berbagai kisah lainnya yang dari hari ke hari selalu meningkat. Pada musim pilkada mereka mendapat bantuan sekarung beras, tapi setelah pilkada usai, usai pula bantuan itu. Rakyat miskin hanya diingat saat mereka dibutuhkan untuk mencontreng atau mencoblos. Begitu pula nasib Nurhayati dan kedua keponakannya. Saat musim pilkada tiba, mereka pun mendapat bantuan, namun begitu usai masa pemilihan, orang-orang itu pun tak kelihatan lagi batang hidungnya. Tampaknya, keberadaan saudara kita yang kurang mampu ini memang dipelihara untuk persiapan pemilu atau pilkada periode selanjutnya. Mereka hanya akan didatangi ketika dibutuhkan untuk meraup suara. Jadi, sebenarnya, siapa yang butuh siapa?

Malam semakin larut, rintik-rintik hujan mulai menderas. Saya biarkan jendela kamar sedikit terbuka, angin berhembus pelan menyelusup di balik tirai. Udara malam ini terasa sejuk. Tiba-tiba saya teringat dengan murid saya sewaktu saya masih mengajar dulu. Sebagai wali kelas tentu bingung saat mengetahui murid perwaliannya lebih dari dua minggu tidak masuk kelas tanpa keterangan. Surat panggilan kepada orang tua pun telah beberapa kali dilayangkan. Sedihnya, tidak ada yang mengetahui secara pasti dimana rumah keluarganya, sehingga saat saya mau mengunjungi pun bingung mau berkunjung kemana. Alamatnya tidak jelas, berpindah dari satu kontrakan ke kontrakan yang lain. Tetangga di kontrakan yang lama pun tidak mengetahui kemana kepindahan keluarga murid saya itu. Alhamdulillah, akhirnya, ibu guru teman saya mengajar berhasil menemukan dimana keluarga murid kami itu tinggal dan berhasil membawa murid kami serta untuk kembali masuk sekolah. Panggilannya Ryan, masih kelas 8 di salah satu SMP swasta di Bogor. Anak pertama dari tiga bersaudara. Ayahnya bekerja sebagai pengayuh becak dan ibunya di rumah menjaga kedua adiknya. Kontrakan terakhir yang berhasil kami kunjungi adalah di pinggiran sungai Cisadane dengan ukuran kurang lebih 3 x 3 meter, beratapkan asbes berlantai tanah. Di ruangan itulah seluruh anggota keluarga melakukan seluruh aktivitasnya, tidur, makan, belajar, dan lain-lain.  Akhirnya Ryan berhasil menyelesaikan SMP nya, setelah kami lobi pihak sekolah untuk memberikan berbagai potongan biaya pendidikan yang sebenarnya tidak terkategori mahal. Namun bagi keluarganya Ryan, uang Rp.10.000,- amat sangat berarti. Sebenarnya masih banyak murid-murid kami yang tidak berhasil kami bawa masuk sekolah kembali. Sedih memang, meski pihak sekolah telah membebaskan berbagai biaya. Namun, karena beban hidup yang terus meningkat, akhirnya orang tuanya memutuskan untuk “mencabut” putra/putrinya dan tidak lagi sekolah, supaya dapat membantu keluarga menjadi pencuci baju atau buruh serabutan. Tampak jelas wajah-wajah sedih mereka. Tidak tahu harus berbuat apa lagi?

Kini, biaya pendidikan dari hari ke hari semakin mahal. Pendidikan yang berkualitas sudah pasti identik dengan mahal. Wajib belajar Sembilan tahun yang dicanangkan pemerintah pun tidak benar-benar menyentuh masyarakat. Jangankan untuk membayar sekolah, untuk biaya hidup sehari-hari saja mereka harus memutar otak, memeras keringat bahkan mungkin darah dan nanah. Sehingga wajar, sampai detik ini masih banyak anak putus sekolah, bukan karena tidak mau sekolah, tetapi keadaanlah yang memaksanya. Mereka bekerja serabutan agar bisa membantu kedua orang tuanya mencari nafkah. Bila pemerintah belum mampu memenuhi kebutuhan pangan, sandang dan papan, sudah dapat dipastikan akan masih banyak anak-anak yang tidak sekolah bukan lantaran mereka yang tidak mau sekolah, tetapi persoalan hidup dan mati yang disebabkan tidak terpenuhinya kebutuhan pangan mereka lebih penting dan urgen. Lalu apalagi, kesehatan? Bagaimana dengan biaya kesehatan kita? “orang miskin dilarang sakit”, begitulah, sebuah ungkapan yang sering saya dengar yang menggambarkan betapa mahalnya biaya pengobatan kita. Hidup sehat dan terjamin hanya bisa dinikmati oleh orang-orang berduit, sehingga wajar bila muncul pemikiran seperti kalimat di atas. Beberapa rumah sakit hanya akan menerima pasien bila telah membayar deposit, bahkan banyak diwartakan di berbagai media, pasien akhirnya tak tertolong lagi karena lambatnya penanganan yang disebabkan ketiadaannya uang muka. Innalillahi..

Hari semakin larut. Masih banyak persolan negeri ini yang lainnya. Di bidang sosial, politik, keamanan dan lain sebagainya. Semoga kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang senantiasa peduli akan perbaikan nasib ummat.. aamiin…

“Siapa saja yang bangun pagi hari dan hanya memperhatikan masalah dunianya maka orang tersebut tidak berguna sedikit pun di sisi Allah.. Siapa yang tidak memperhatikan urusan kaum Muslim maka ia tidak termasuk golongan mereka. (HR, ath-Thabrani dari Abu Dzar al-Ghifari)”

Bogor, 14 Maret 2012

`@yati fa`

Iklan

About Ayatifa

Muslimah yang di besarkan di sebuah dusun yang bernama Kuamang Kuning di pedalaman Jambi, aktivitas sehari-harinya lebih banyak 'bersembunyi'. Hijrah ke Bogor untuk memenuhi hasrat petualangan intelektualnya. Menyukai dunia politik khususnya yang berkaitan dengan perempuan, keluarga dan generasi. Lahir di Sragen, 20 Juni lebih dari seperempat abad lalu. ^_^ Saat ini sedang belajar menulis untuk mengekspresikan diri. Memperoleh pengalaman yang sangat berharga saat numpang tinggal bersama Dara Apipb di Asrama Putri Bogor hingga menghantarkannya kepada tiga pertanyaan mendasar, "Dari mana kita berasal? Untuk apa kita hidup di dunia? Dan hendak kemana kita setelah kematian? Terkesan dengan sebuah bait, "Islam akan bangkit dengan atau tanpa kita. Lalu, apakah kita termasuk ke dalam orang-orang yang diam saja atau ke dalam barisan orang-orang yang memperjuangkannya?? Padahal, Islam akan tetap bangkit dengan atau tanpa kita." Belajar melawan, melalui perang pemikiran. Allahu Akbar!!!

Diskusi

2 thoughts on “Galauku

  1. mudah” ke galau an’y udah mulai brkurang.. karna sudah membagikan’y & membwt pembaca lain jd ikut”n galau !

    Posted by ommding | 17 Maret 2012, 9:53 pm
    • terima kasih telah turut galau. semoga semakin banyak yg galau semakin membuat kta sadar untuk segera melakukan perbaikan..
      sayangnya galaunya belum berkurang juga, sebelum akar masalah penyebab galaunya terpecahkan..
      makasih kunjungannya,,

      Posted by Ayatifa | 17 Maret 2012, 11:18 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Assalamu’alaykum…

Demi Masa

Kini

Statistik Blog

  • 9,150 hits

Arsip

%d blogger menyukai ini: