//
you're reading...
Denting Cinta, Episode

Kegalauan Si Anak Dalam

“Dari Jambi? Suku Anak Dalam, dong?” Tanya Pak Pos kepadaku.

“Iya, hee saya Anak Dalam yang sudah keluar, jadi sekarang saya Suku Anak Luar” jawabku sambil tersenyum malu-malu

“Eeh, beneran, sering ketemu Suku Anak Dalam?” Pak Pos pun melanjutkan pertanyaannya sambil tersenyum pula.

“Iya, Pak, hee, biasanya mereka akan memakai baju saat memasuki parkampungan, meskipun saat kembali ke komunitas mereka, pakaiannya akan dilepas lagi” sahutku sambil menyerahkan uang Rp.500,- kepada Pak Pos untuk membayar perangko yang telah kulekatkan pada sepucuk surat rindu untuk ibu.

Yap, serasa memasuki lorong waktu, kembali pada masa awal tahun 2000. Bogor dengan hawanya yang dingin, sejuk, bahkan hampir setiap hari hujan, sehingga kemana-mana harus membawa payung sebagai perbekalan. Dan pastinya belum semacet sekarang. Lucu juga, meski hampir tiap bulan aku mengirimkan surat ke kampung halamanku, yaitu Kuamang Kuning, Jambi. Namun, setiap kali pula Pak Pos selalu bertanya tentang keberadaan Suku Anak Dalam. Tidak hanya Pak Pos, memang, ketika aku di pasar, di kost-an teman, dan di tempat-tempat lain pun, bila aku menyebutkan asal daerahku, Jambi, pertanyaan yang muncul adalah mengenai Suku Anak Dalam. Aku pun akan menjawab, “Saya Suku Anak Dalam yang sudah keluar.” Dan pastinya mereka pada tersenyum-senyum mendengar jawabanku, hee, atau ada yang mengatakan kepadaku, “Suku Anak Dalam palsu”. Aih, tapi ada juga yang pernah memanggilku dengan sebutan “Kubu”. Dan dengan panggilan ini aku agak ngeri mendengarnya. Uuuhhh, Suku Anak Dalam yang sesungguhnya pun bisa jadi marah dengan panggilan itu. Nah, kawan, biasanya kami akan memanggil mereka dengan sebutan “Sanak” atau “Kisanak” sebagai bentuk penghormatan.

Wahh, waktu cepat nian berlalu ya, lebih dari sepuluh tahun rupanya aku telah meninggalkan kampung halaman tercinta. Yup, bila kita melihat peta pulau Sumatera, kampung  tercinta Kuamang Kuning ini tepatnya terletak di daerah kabupaten Bungo. Kurang lebih tiga puluh menit perjalanan mengendarai sepeda motor dari kota Muara Bungo. Jalannya berliku-liku, naik turun, dan di setiap sisi jalan terhampar perkebunan karet dan kelapa sawit. Aiha, angin berhembus sejuk di sela-sela pepohonan karet, menyapu lembut dan mengibas-ngibaskan kerudung putihku.  Kupeluk Abangku erat, dengan kecepatan lebih dari 100 KM/Jam Abang memboncengkanku di motor kesayangannya. Setiap aku pulang kampung, Abang akan setia menjemputku di Simpang Jambi, Muara Bungo. Abang tak henti-hentinya mengajakku berbicara, meski suaranya tersapu angin, aku berusaha menjawab semua yang Abang tanyakan, tentang bagaimana perjalananku dari Jakarta, mabok darat atau tidak, sudah makan atau belum dan hal-hal lain seputar perjalanan yang kami lalui. Abang tidak ingin aku tertidur saat berkendara, jadinya kami harus berbincang-bincang terus. Meski aku sudah terkantuk-kantuk, aku selalu merasa nyaman duduk manis di belakang punggung Abang. Meskipun ngebut tapi tetap terkendali dan aku selalu kangen dengan saat-saat berkendara berduaan dengan Abang. Kemana-mana berduaan.. Abang I will miss u. T_T

Tep, “jengginggat” aku pun tersadar, serasa ada yang menepuk bahuku.  Wahai manis, kini engkau sedang berkendara, lho.. Hayoo, ngaku, lagi kangen Abang, ya? Sisi hatiku yang lain pun menggoda. Makanya, kalau kangen ngomong, ndak berani ngomong langsung  ya kirim surat, lanjut suara-suara lain yang terus saja menggodaku.. Aku pun senyum-senyum sendiri, rupanya lebih dari satu tahun sudah aku belum berkunjung ke dusun kami. Aku pun teringat percakapan kami lewat telepon tadi siang. Adik kelas di SMA, panggilannya Is. “Mbak, kapan pulang? Kampung kita butuh SDM, mbak, kita harus segera mengembangkan kampung kita.” Hmm, kalimat yang sama yang selalu aku terima dari beberapa teman, “mengembangkan kampung kita”, meskipun definisi teman-teman tentang kata “mengembangkan” ini agak berbeda. Duh, dan aku belum benar-benar maksimal untuk menyiapkan diri, pulang kampung. “Alhamdulillah kita sekarang ada beberapa teman, mbak, liqa sebulan sekali ke kota Jambi, minimal Rp. 300.000,- buat transportasi. Makanya, ayo, mbak pulang, kita nanti bersama-sama mengembangkan kampung kita, biar liqa kita ndak terlalu jauh”, lanjut Is siang itu panjang lebar. “Liqa ndak terlalu jauh”, manis sekali terdengar. Dan perlu kawan-kawan ketahui, ndak terlalu jauh ini adalah minimal satu jam perjalanan tanpa hambatan dengan mengendarai sepeda motor, ngebut, wussss.. Subhanallah, semoga kawan-kawan dimantapkan dan dikokohkan dalam perjuangan ini, aamiin.. Aku termenung, berusaha merajut kenangan tentang kampung halamanku.

Kuamang Kuning, aku tinggal di sana dari kelas 1 SD hingga SMA. Masa kecil listrik belum ada, pakai diesel, accu, atau lampu petromak, bahkan ada juga lampu teplok. Belakang rumah kami masih hutan, bersama teman-teman aku sering mengunjunginya. Burung rangkong, manyar dengan sarangnya yang menggantung, babi, monyet, beraneka ragam ular dan masih banyak sekali binatang lain yang sering kami jumpai. Beraneka ragam tanaman, jamur dan keanekaragaman jenis lainnya pun banyak yang telah aku kenal. Meminum air dari akar pohon, bergelantungan mengikuti gayanya Tarzan dan berbagai permainan anak kampung pun sering kami mainkan. Di kala terang bulan, bapak-bapak dan ibu-ibu menggelar tikar di halaman, memperbincangkan masa-masa perjuangan atau berbagai kenangan di masa muda. Anak-anak bermain gubak sodor, bentengan, petak umpet, dan lain sebagainya, dengan membakar getah damar atau kami biasa menyebutnya meranti sebagai penerangan. Di siang hari, permainan-permainan pun tak kalah seru, perang-perangan, kasti, sepak bola, sepak takrau, lompat tali, sudamanda, gatheng, gangsing, egrang, layangan dan yang lebih serius adalah main catur. Hihi, kami anak perempuan suka diremehkan bila mau ikutan main catur. Karena kami tak diijinkan meminjam papan catur, akhirnya kami membuat papan sendiri. Bersama mbak Nur, kuambil kertas dan kugaris-garis seperti papan catur, kuwarnai dengan pensil warna. Sedangkan anak caturnya, kertas kubentuk kotak datar, semua bentuknya sama, dan kutulis di bagian atasnya, “Raja”, “Ratu”, “Kuda”, dan lain sebagainya. Ketika demam catur, papan catur akan kami bawa kemanapun kami pergi, berdua selalu dengan mbak Nur aku memainkannya. Hii, prestasi tertinggi yang pernah aku peroleh adalah juara dua saat classmeeting semasa SMP, karena jarang sekali anak perempuan yang bisa main catur. Lalu saat aku di Bogor, aku berhasil “menscakmat” kakak kelas laki-laki tidak lebih dari 7 langkah, teman-teman pun bersorak-soray, sejak itu, aku melupakannya.

Kuamang Kuning terdiri dari 20 unit (desa), itu pun belum semua unit aku kunjungi, paling banter aku melewatinya karena ada keperluan ke daerah lain. Penghasilan utamanya adalah kelapa sawit dan karet. Mirip dengan namanya “Kuning”, di beberapa tempat di Kuamang Kuning banyak kandungan emas nya. Dulu, tetangga banyak yang mencari emas secara tradisional, dengan cara mendulang menggunakan dulang (dari kayu, bulat cekung seperti wajan penggorengan). Hingga datanglah para penambang emas dari Jawa yang sebelumnya pernah menambang di Kalimantan dengan menggunakan alat-alat yang lebih modern. Orang-orang biasa menyebutnya “Dompeng”, aku pun belum pernah menyaksikan secara langsung bagaimana proses menambang emas dengan mendompeng. Kala itu aku sudah “sembunyi” di Bogor. Aku hanya mendengar suara mesin diesel yang kencang saat melewati jalan sepulang dari Bungo, dan yang kutahu itu suara diesel dompeng.  Serta dengan melihat sisa-sisa penambangan yang tidak pernah direboisasi. Kalau Abang bilang, “Bila mau lihat padang sahara, pergi saja ke bekas dompengan”. Hmm,iya, secara ekonomi, aku tidak memungkiri, emas yang dihasilkan memang jauh lebih banyak, uangnya pun banyak pula, akhirnya masyarakat tampak jauh lebih sejahtera. Tapi, aku tetap saja bersedih, hutan, ladang, dan rawa-rawa banyak yang rusak, susah untuk menghijaukannya kembali. Dibiarkan terbengkalai, terlantar, menganga tanpa perawatan. Aku kehilangan hutanku, tempat persembunyiannku.

Lalu, aku pun teringat kejadian yang lain, beberapa tahun lalu saat aku mudik lebaran ke kampung halamanku. Seorang wanita muda datang ke rumah kami, dandanannya rapi dan modis. Wah, sepertinya mahasiswa, bathinku berkata. Beliau dari UNJA. Universitas negeri di kota Jambi yang akupun baru sekali mengunjunginya, saat mampir ke kost-an teman ketika mau balik ke Bogor. Beliau sedang penelitian di anak perusahaan Astra Group yang ada di Propinsi Jambi, tepatnya di Kuamang Kuning ini. Terkait dengan dampak dan manfaat pabrik kelapa sawit bagi kesejahteraan masyarakat. Saya katakan padanya, secara ekonomi keberadaan pabrik memang sangat berarti, petani dapat menjual hasil kelapa sawitnya kesana, dan ini memang tampak sekali perubahannya. Masyarakat memang menjadi lebih sejahtera. Hanya saja, petani tidak memiliki posisi tawar, mau tidak mau harus menjual kelapa sawitnya kesana, dengan harga termurah sekalipun. Masyarakat begitu lugu, polos dan manut. Misalnya pada saat lebaran begini, disaat harga-harga kebutuhan pokok melonjak, bukankah seharusnya harga minyak kelapa sawit juga naik? Tapi apa yang dilakukan oleh pabrik? Pabrik menurunkan harga kelapa sawit dengan tak terkira. Kenapa? Karena pabrik tidak mau merasa rugi harus mengeluarkan tunjangan hari raya untuk para karyawannya dengan mengambil dari keuntungan yang telah diperolehnya selama ini. Jadi yang dia lakukan adalah dengan menurunkan harga kelapa sawit, karena pabrik yakin, petani akan pasrah-pasrah saja dan tetap menjualnya kesana. Semuanya dibebankan kepada petani. Semua ini adalah imbas dari diterapkannya system kapitalisme liberalisme. Uang menjadi tolak ukur segalanya, dan hanya pemilik modal lah yang akhirnya bisa berkuasa. Mbak nya sepertinya terheran-heran tidak menyangka mendapatkan jawaban seperti itu. Dan sebelum beliau pulang, beliau pun memberikan kepadaku sebotol minyak goreng satu liter dengan merk tertentu yang akupun belum pernah menemukannya, bahkan di Bogor sekalipun. Duh, minyak gorengku untuk memenuhi kepentingan penjajah barat. Sementara kita hanya bisa menikmati sisanya dan dengan harga yang mahal pula. Miris.

Lalu, kembali aku teringat percakapan dengan Is, adik kelas SMA. Iya, kita harus segera mengembangkan kampung kita, bukan semata secara ekonomi, tapi meningkatkan taraf berfikir saudara kita sehingga mereka akan tahu hak dan kewajibannya sebagai hamba Allah, bukan semata sebagai warga negara yang baik.

“…Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah kedaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadan diri mereka sendiri..” (TQS. Ar-Ra’d:11)

Bismillah, Ya Rabbi, lapangkan jalan hamba, mudahkanlah usaha hamba, kabulkan segala cita-cita hamba, mantabkanlah hamba pada pilihan yang Engkau Ridhai dan masukkan hamba ke dalam barisan orang-orang yang senantiasa memperjuangkan AgamaMu.. Aamiin…

*Teruntuk saudara-saudaraku dari “Suku Anak Dalam”  dimana pun berada. Mari kita mempersiapkan diri memperbanyak perbekalan membangun kampung di manapun kita tinggal. Termasuk Tanah Pilih Pesako Betuah..

Bismillah.. Semoga kita bukan di gerbong kereta terakhir, kawan.. Ma’annajah!!!

Bogor, 18 April 2012

 

    

Iklan

About Ayatifa

Muslimah yang di besarkan di sebuah dusun yang bernama Kuamang Kuning di pedalaman Jambi, aktivitas sehari-harinya lebih banyak 'bersembunyi'. Hijrah ke Bogor untuk memenuhi hasrat petualangan intelektualnya. Menyukai dunia politik khususnya yang berkaitan dengan perempuan, keluarga dan generasi. Lahir di Sragen, 20 Juni lebih dari seperempat abad lalu. ^_^ Saat ini sedang belajar menulis untuk mengekspresikan diri. Memperoleh pengalaman yang sangat berharga saat numpang tinggal bersama Dara Apipb di Asrama Putri Bogor hingga menghantarkannya kepada tiga pertanyaan mendasar, "Dari mana kita berasal? Untuk apa kita hidup di dunia? Dan hendak kemana kita setelah kematian? Terkesan dengan sebuah bait, "Islam akan bangkit dengan atau tanpa kita. Lalu, apakah kita termasuk ke dalam orang-orang yang diam saja atau ke dalam barisan orang-orang yang memperjuangkannya?? Padahal, Islam akan tetap bangkit dengan atau tanpa kita." Belajar melawan, melalui perang pemikiran. Allahu Akbar!!!

Diskusi

2 thoughts on “Kegalauan Si Anak Dalam

  1. Wah tulisan yang menarik… emang tulisan yang berangkat dari pengalaman pribadi di jamin lebih menarik dari pada sekedar khayalan… lebih hidup dan berwarna, trus realistis…
    Tulisan ini mengingatkan saya pada kenangan masa lalu, terutama tentang gak ada listrik dan terpaksa harus pake diesel sendiri karena jaringan PLN belum masuk kampung… trus tentang beraneka ragam flora dan fauna… wah ini kampung gue banget dah.. ingat dulu pas waktu sering ke hutan utk mencari buah2an, menangkap ikan di sungai dan berburu…
    Oh ya.. bila mau ini bisa dikembangkan lagi menjadi sebuah novel yg menarik loh.. idenya di tambahkan.. trus banyakin lagi sub tema ceritanya.. maka jadilah sebuah novel kultur budaya.. Semangat!

    Posted by oedi | 18 April 2012, 4:52 pm
    • kemungkinan kampung kita mirip amat besar, mas Oedi. Ayok, kapan balik ke Jambi?. tetangga saya di Kuamang banyak yg menikah dg orang Pamenang..
      Kalau berburu saya ndak ikut, tapi kalau mancing ikan, ciblon di rawa pengalaman yg mengasikkan juga..

      iya, mulanya mau terus, panjang, tapi kwatir bosen bacanya.. wah, terima kasih mas Oedi atas dukungannya.. mohon bimbingannya selalu.. semangat, semangat, semangat…. 🙂

      Posted by Ayatifa | 18 April 2012, 5:29 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Assalamu’alaykum…

Demi Masa

Kini

Statistik Blog

  • 8,598 hits

Arsip

%d blogger menyukai ini: