//
you're reading...
Opini, Surat Pembaca

Kapitalisasi Budaya Korea

“Sekarang bukan lagi jamannya Won Bin dengan drama Endless Love atau Choi Jung-eun yang memerankan Winter Sonata” tulis seseorang saat diskusi di sebuah dinding FB. “Sekarang lebih banyak lagi bintang-bintang Korea yang keren dan oke banget” lanjutnya. Ya, cuplikan percakapan di atas bisa jadi mewakili sebagian remaja kita yang saat ini tak kuasa menolak gempuran budaya Korea. Dimana, sejak ditayangkannya drama seri berjudul “Endless Love” di sebuah stasiun TV swasta yang konon memiliki rating tinggi, serbuan Korean Wave pun dimulai. Sejak saat itu tayangan melodrama yang alay dan mengaduk-aduk perasaan berjejalan masuk membanjiri televisi kita. Tidak hanya itu, rupanya para artis melodrama itu juga berprofesi sebagai penyanyi.  Sehingga kesuksesan K-drama diikuti pula dengan mewabahnya K-pop di panggung hiburan tanah air. Bahkan banyak bermunculan Boyband dan Girlband yang terinspirasi dari budaya pop Korea atau Hallyu ini. Mulai dari gaya hidup, penampilan, tontonan, dan koleksi aksesoris para remaja pun membebek pada budaya Negeri Gingseng. Remaja kita benar-benar berada dalam cengkraman penjajahan budaya cemen bin lebay.

Lihat saja konser Suju yang bertajuk “Super Show 4” di Jakarta pada 27-29 April 2012 yang ditonton lebih kurang dari 25 ribu remaja. Untuk menarik minat remaja, promotor memberikan harga khusus yakni buy one get one, tiket kelas Super Fast dan Super Box yang berharga Rp.1,7 juta bisa menjadi Rp.850 ribu. Ini tentu belum untuk kelas VIP yang bisa mencapai harga Rp.2 juta. Dengan jumlah penonton 25 ribu, hitunngan kasar memakai harga tiket Rp.850 ribu maka uang yang diraup dari penjualan tiket adalah Rp.21.250.000.000,-. Ya, tentu ini belumlah seberapa, karena pasti yang didapatkan lebih dari itu. Belum lagi keuntungan dari penjualan berbagai aksesoris, mulai dari kaos, selendang, kipas tangan, bando, light stick dan lain-lain yang harganya tidaklah murah. Apakah remaja kita mendapatkan keuntungan dari semua ini? Tentu tidak.  Dan yang paling diuntungkan hanyalah segelintir orang khususnya para pelaku bisnis industri hiburan.

Budaya pop ini adalah produk ideologi kapitalisme yang dimotori oleh negara-negara barat. Dan industri hiburan termasuk di dalamnya musik dan film merupakan bagian dari industri kapitalis yang didesain hanya untuk mengeruk keuntungan.  Negara kita, khususnya remaja hanya sebagai konsumen yang tidak mendapatkan keuntungan materi apa-apa. Yang ada, remaja kita justru menjadi generasi pembebek, konsumtif, hedonis dan materialistis yang bisanya cuma menjadi penonton. Menghambur-hamburkan uang hanya untuk kenikmatan semu, sementara masih banyak saudara lain yang kelaparan. Walhasil, sudahlah generasi kita rusak dengan budaya melow dan cuek, uang negeri ini pun amblas disedot oleh para konglomerat dari Negeri Gingseng sana. Nah, sudikah terus-menerus terjajah?

Bogor, 3 Mei 2012

Ayati Fa

Iklan

About Ayatifa

Muslimah yang di besarkan di sebuah dusun yang bernama Kuamang Kuning di pedalaman Jambi, aktivitas sehari-harinya lebih banyak 'bersembunyi'. Hijrah ke Bogor untuk memenuhi hasrat petualangan intelektualnya. Menyukai dunia politik khususnya yang berkaitan dengan perempuan, keluarga dan generasi. Lahir di Sragen, 20 Juni lebih dari seperempat abad lalu. ^_^ Saat ini sedang belajar menulis untuk mengekspresikan diri. Memperoleh pengalaman yang sangat berharga saat numpang tinggal bersama Dara Apipb di Asrama Putri Bogor hingga menghantarkannya kepada tiga pertanyaan mendasar, "Dari mana kita berasal? Untuk apa kita hidup di dunia? Dan hendak kemana kita setelah kematian? Terkesan dengan sebuah bait, "Islam akan bangkit dengan atau tanpa kita. Lalu, apakah kita termasuk ke dalam orang-orang yang diam saja atau ke dalam barisan orang-orang yang memperjuangkannya?? Padahal, Islam akan tetap bangkit dengan atau tanpa kita." Belajar melawan, melalui perang pemikiran. Allahu Akbar!!!

Diskusi

20 thoughts on “Kapitalisasi Budaya Korea

  1. Hehe.. 🙂 ijin komentar deh mba.. 🙂
    Kapitalis sudah merambat dalam diri WNI, entah itu karna apa… mngkin benar kata mba, jaman.
    yang kurang nya rasa nasionalisme dan agama ini yang harus di perhatikan… 😀
    #hehe… 🙂

    Posted by мυнαмαđ яoмđoиι | 20 Mei 2012, 11:12 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Assalamu’alaykum…

Demi Masa

Kini

Statistik Blog

  • 9,150 hits

Arsip

%d blogger menyukai ini: