//
you're reading...
Opini, Surat Pembaca

Wanita dan Anak dalam Paparan Asap (Hari Anti Tembakau 31 Mei 2012)

Miris. Selain masalah korupsi dan narkoba, untuk urusan rokok pun, Indonesia adalah juaranya. Pasalnya, setelah Cina dan India, Indonesia berada di urutan ke-3  sebagai konsumen tembakau atau rokok terbanyak di dunia. Jumlah yang diisap tidak tanggung-tanggung, yaitu mencapai 220 milliar batang per tahun (www.republika.co.id).

Saat ini ada sekitar 89 juta keluarga perokok di Indonesia. Nah, jika satu keluarga memiliki satu anak, terdapat 89 juta perokok pasif anak di Indonesia. Karena itu, tidak heran bila jumlah perokok anak terus meningkat. Usia perokok pun kian muda. ”Sudah ada anak usia 11 tahun dan 14 tahun yang merokok,” ungkap Ketua Komnas PA  Arist Merdeka Sirait (Jawa Pos, 28/5/12). Pada tahun 2007, data dari Kemenkes menunjukkan, ada 426.214 perokok anak. Dimana, yang terkategori anak adalah mereka yang berusia 10 sampai 14 tahun. Dan jumlah terbanyak anak-anak pengonsumsi rokok adalah di daerah Jatim. Disusul Jateng, Jabar, dan DI Yogyakarta. Bila sekitar lima tahun lalu, perokok pemula lebih kurang usia 13 tahun. Sekarang ini usia tujuh hingga delapan tahun sudah merokok. Dan dikhawatirkan, kedepan usia balita sudah merokok juga (www.voanews.com).

Wanita dan Seputar Rokok

Hampir semua orang tahu bahwa merokok itu tidak sehat, tak terkecuali perokok itu sendiri. Bahkan, tidak ada satu pun organ di dalam tubuh yang tidak terpengaruh oleh asap rokok, hampir semua bagian tubuh bisa rusak oleh rokok, karena di dalam satu batang rokok mengandung 4.000 senyawa kimia yang 40 diantaranya termasuk racun (toksik) atau karsinogenik yang bisa menyebabkan kanker. “Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan janin”, namun, seperti angin lalu, peringatan itu tidak juga mampu mengurangi jumlah perokok. Justru, dari tahun ke tahun malah semakin meningkat.

Beberapa riset telah menemukan bahwa orang tua perokok (ibu atau ayah), berisiko memiliki anak lahir dengan cacat atau kehilangan anggota badan sebesar 25 persen. Bagi wanita, merokok selama kehamilan tidak hanya mempengaruhi kondisi kesehatan bayi pada masa kehamilan saja, tetapi juga memengaruhi kondisi anak saat beranjak dewasa.  Beberapa fakta ilmiah tentang fakta merokok sebelum dan selama kehamilan, seperti dikutip kompas.com dari geniuspregnancy berikut ini;

1. Merokok mengurangi kesuburan baik pria maupun wanita.

2. Tubuh laki-laki biasanya dapat menghilangkan nikotin lebih cepat ketimbang wanita – yakni dalam waktu sekitar 3 bulan.

3. Wanita yang merokok cenderung lebih sulit hamil ketimbang mereka yang tidak pernah merokok. Toksemia, preeklamsia, varises, sembelit dan pusing adalah risiko yang mungkin dialami apabila memiliki kebiasaan merokok sebelum dan selama kehamilan.

4. Vitamin C umumnya cenderung lebih mudah hancur di dalam tubuh seorang wanita yang merokok, sehingga menyebabkan tubuh kekurangan vitamin C. Akibatnya, wanita berisiko menderita penyakit metabolik, penurunan kekebalan, depresi, dan kelelahan.

5. Wanita yang merokok dalam periode perikonseptional, berisiko mengalami keguguran 8-10 kali lebih tinggi.

6. Di dalam sebuah keluarga, di mana salah satu atau kedua orang merokok, anak-anak mereka dua kali lebih mungkin untuk menderita pneumonia, bronkitis dan asma, dan 6 kali lebih mungkin memiliki penyakit gastrointestinal.

7. Merokok menyempitkan pembuluh darah dan mengganggu proses saturasi oksigen di dalam darah. Kondisi ini sangat berbahaya selama kehamilan, karena harus ada jumlah yang cukup oksigen dalam darah ibu untuk perkembangan janin.

8. Anak perempuan, yang ibunya merokok selama kehamilan, lebih mungkin untuk menderita ketidaksuburan di kemudian hari.

9. Anak-anak dari ibu yang merokok selama kehamilan, biasanya akan terlahir dengan berat badan lahir rendah dan kondisi paru-paru yang lemah.

10. Hasil riset para ilmuwan dari Karolinska Institute (Stockholm, Swedia) yang telah berlangsung selama 33 tahun, menemukan bahwa anak-anak, yang ibunya merokok lebih dari 10 batang per hari sebelum kelahiran, anak-anaknya memiliki risiko peningkatan diabetes hampir 4,5 kali. Dan risiko obesitas adalah 34-38 persen lebih tinggi ketimbang anak-anak, yang ibunya tidak merokok. Para ilmuwan mengatakan bahwa rokok menghasilkan racun pada janin dan menyebabkan malnutrisi pada janin. Oleh karena itu, anak memiliki kecenderungan untuk menumpuk lemak.

Ideologi di Balik Rokok

Memprihatinkan. Perilaku merokok di kalangan anak dan remaja dari hari ke hari semakin meningkat. Pemerintah, yakni, melalui RPP tentang Pengamanan Produk Tembakau Sebagai Zat Adiktif bagi Kesehatan, atau dikenal dengan RPP Tembakau, mengatur penggunaan bahan yang mengandung zat adiktif diarahkan agar tidak mengganggu dan membahayakan kesehatan perorangan, keluarga, masyarakat, dan lingkungan.

Namun, RPP Tembakau sesungguhnya tidak melarang orang untuk menanam tembakau, tidak pula melarang orang untuk merokok, namun diharapkan mengatur supaya tidak menimbulkan kerugian bagi anak-anak dan tidak merugikan kesehatan orang lain yang tidak merokok. Yaitu, dengan cara mengendalikan penyebaran perokok, rokok dan produk tembakau lainnya.  Pemerintah hanya melakukan pengendalian, seperti aturan di mana seseorang boleh merokok dan tidak, serta mengatur agar perempuan, ibu hamil, anak-anak tidak terkena dampak buruk dari orang yang merokok. Sebagai contoh, RPP Tembakau menegaskan bahwa Pemerintah Daerah harus menetapkan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di fasilitas kesehatan, tempat belajar mengajar, tempat anak bermain, tempat ibadah, angkutan umum, tempat kerja, dan tempat-tempat umum lainnya. Dengan begitu, mulai dari anak-anak, ibu hamil maupun masyarakat umum yang beraktivitas di tempat-tempat tersebut diharapkan terbebas dari paparan bahaya asap rokok (Kemenkes).

Ironinya, ditengah berbagai upaya untuk melindungi wanita, anak-anak, ibu hamil maupun masyarakat umum dari bahaya paparan asap rokok. Namun di kalangan industri rokok, isu itu jelas dianggap kontradiksi. Dan lucunya pemerintah tampak setengah hati dalam upaya memerangi rokok ini. Tidak ada sanksi yang tegas bagi pelanggarnya. Industri rokok tetap berjalan dan memberikan pajak yang besar bagi negara. Lalu bagaimana dengan bahaya rokok yang telah banyak diungkap? Biarkan saja, toh akan lenyap laksana asap. Karena yang terpenting adalah Uang. Uang telah menjadi ideologi penguasa.[]

Ayati Fadhilatunnisa

Anggota Pramuda Angkatan 5 FLP Bogor

dimuat di: www.radaronline.co.id/berita/pembaca/4042/2012/Wanita-dan-Anak-dalam-Peparan-Asap

Iklan

About Ayatifa

Muslimah yang di besarkan di sebuah dusun yang bernama Kuamang Kuning di pedalaman Jambi, aktivitas sehari-harinya lebih banyak 'bersembunyi'. Hijrah ke Bogor untuk memenuhi hasrat petualangan intelektualnya. Menyukai dunia politik khususnya yang berkaitan dengan perempuan, keluarga dan generasi. Lahir di Sragen, 20 Juni lebih dari seperempat abad lalu. ^_^ Saat ini sedang belajar menulis untuk mengekspresikan diri. Memperoleh pengalaman yang sangat berharga saat numpang tinggal bersama Dara Apipb di Asrama Putri Bogor hingga menghantarkannya kepada tiga pertanyaan mendasar, "Dari mana kita berasal? Untuk apa kita hidup di dunia? Dan hendak kemana kita setelah kematian? Terkesan dengan sebuah bait, "Islam akan bangkit dengan atau tanpa kita. Lalu, apakah kita termasuk ke dalam orang-orang yang diam saja atau ke dalam barisan orang-orang yang memperjuangkannya?? Padahal, Islam akan tetap bangkit dengan atau tanpa kita." Belajar melawan, melalui perang pemikiran. Allahu Akbar!!!

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Assalamu’alaykum…

Demi Masa

Kini

Statistik Blog

  • 8,598 hits

Arsip

%d blogger menyukai ini: