//
you're reading...
al-Mar'ah, Opini, Surat Pembaca

Keluarga Muslim Dalam Malapetaka (Hari Keluarga Nasional 29 Juni 2012)

Indonesia adalah negara dengan penduduk Muslim terbesar  di dunia. Dimana negara yang memiliki luas kurang lebih 1,904,569 km2  pada tahun 2012 ini diperkirakan jumlah penduduknya sekitar 257.516.167 jiwa (www.tutorialto.com). Meskipun berdasarkan sensus jumlah penduduk Indonesia mengalami pertambahan. Namun, Menteri Agama RI Suryadharma Ali mengatakan, bahwa dari tahun ke tahun jumlah umat Muslim di Indonesia terus mengalami penurunan. Semula, jumlah umat Muslim di Indonesia mencapai 95 persen, kemudian turun menjadi 87 persen, dan kini anjlok menjadi 85 persen (www.galamedia.com). Menteri Agama mengatakan, ada banyak faktor yang menyebabkan terus berkurangnya populasi Muslim di Indonesia akhir-akhir ini. Salah satunya adalah  faktor kemiskinan. Karena, kemiskinan seringkali dekat dengan kekufuran. Sehingga jika tidak kuat keimanan seseorang, maka bisa mengubah ketakwaannya  (www.galamedia.com).

Menyambut peringatan Hari Keluarga XIX Tingkat Nasional 2012, yang jatuh pada tanggal 29 Juni ini, BKKBN telah menyelenggarakan Konferensi Keluarga Indonesia (KKI), dengan tema Keluarga Kokoh Pilar Ketangguhan Bangsa, selama 2 hari 25-26 Juni 2012 di hotel Bidakara Jakarta (www.bisnis.com).

Keluarga merupakan tempat pertama bagi setiap manusia memahami makna hidup. Bisa dikatakan, keluarga sebagai soko guru yang menopang kokohnya pondasi suatu masyarakat atau bangsa. Di mana proses pendidikan atau penanaman nilai dan norma kehidupan, serta pembentukan karakter dini seorang anak pertama dan utama akan terjadi di dalam keluarga. Setiap keluarga Muslim sejatinya berfungsi sebagai masjid, madrasah, benteng, rumah sakit dan kompi pejuang. Sebagai masjid, keluarga akan mampu memberikan pengalaman beragama pada setiap anggotanya. Dimana anggota hanya akan tunduk patuh dengan setiap aturan yang telah Allah turunkan. Keluarga juga akan menjadi madrasah tempat belajar dan mengajarkan nilai-nilai Islam. Keluarga akan menjadi benteng yang melindungi anggotanya dari gangguan fisik maupun non fisik. Dan sebagai rumah sakit, keluarga akan merawat dan memelihara kesehatan jasmani maupun psikologis setiap anggotanya serta mampu menjadi kompi pejuang yang akan melahirkan generasi calon pemimpin umat, yakni tampat kelahiran pejuang Islam.

Tak disangsikan, bahwa peran orang tua merupakan kunci yang akan menjadikan berlangsungnya kesuksesan sebuah keluarga, masyarakat dan bangsa. Sehingga keluarga yang kokoh tidak hanya membawa kepada bangsa yang kokoh-mandiri namun juga berpengaruh pada pembentukan peradaban dunia. Namun sayangnya, kondisi sekarang ini, untuk memujudkan keluarga yang kokoh tidaklah mudah.

Malapetaka Menimpa Keluarga

Sebagai institusi terkecil, keluarga seharusnya mampu menjadi pelindung dari setiap gempuran arus globalisasi yang melanda dunia saat ini. Sungguh, terabaikannya fungsi dan peran suami-istri merupakan salah satu sumber malapetaka yang akan mengakibatkan guncangnya sebuah keluarga. Suami-istri, yang oleh Allah telah diberikan hak dan kewajibannya masing-masing, kini mulai terabaikan. Mereka saling menggugat hak-nya masing-masing tanpa memperhatikan terlaksananya kewajiban yang menjadi tanggungjawabnya. Sehingga, kekerasan pun acapkali menjadi sesuatu yang sering terjadi bahkan menjadi santapan sehari-hari. Komnas perempuan mencatat, ada lebih dari 100.000 kasus kekerasa pada tahun 2010. Dimana 96 persen adalah kasus istri yang dianiaya suami.

Demikian halnya, kehidupan yang semakin sempit akibat kesulitan ekonomi juga membuat orang mudah kalap dan bermain kasar. Bahkan, banyak yang berujung pada bunuh diri karena putus asa tidak mampu menanggung beban hidup yang semakin sulit. Atau peristiwa tragis lainnya adalah banyak keluarga miskin yang menggadaikan akidahnya karena urusan perut. Jadi wajar bila dari tahun ke tahun jumlah penduduk muslim pun akan semakin berkurang. Tentu ini adalah kodisi yang sangat memprihatinkan. Lalu, siapakah yang harus bertanggung jawab atas semua ini?

Miris. Begitulah kata yang tepat untuk mewakili kondisi keluarga Muslim saat ini. Keluarga Muslim, kini telah mengalami disfungsi dan disorientasi sehingga mengakibatkan hancurnya institusi keluarga tersebut. Nilai-nilai Islam di tengah keluarga pun sedikit demi sedikit luntur. Keluarga tidak lagi menjadikan aturan Allah sebagai standar kehidupan mereka. Di sisi lain, serangan arus globalisasi yang merangsek masuk semakin mempengaruhi memudarnya nilai-nilai Islam dalam keluarga. Karena globalisasi seringkali dimaknai sebagai kapitalisasi dan liberalisasi. Sehingga wajar, keluarga pun semakin lemah dan permasalahan pun semakin parah mengerogoti keluarga.

Sementara itu, trend wanita bekerja pun menjadi salah satu sumber masalah dalam keluarga. Memang, yang menjadi alasan bekerjanya seorang wanita sangatlah beragam, ada yang karena faktor tuntutan ekonomi, ingin mangaktualisasi diri, bahkan ada juga karena dorongan kesetaraan gender, yang menginginkan posisi yang sama dengan laki-laki. Jargon-jargon ekonomi pun membuat perempuan harus bersaing dengan laki-laki, sehingga beban perempuan pun semakin bertambah.

Keutuhan keluarga muslim saat ini terancam. Angka perceraian di Indonesia dari tahun ke tahun makin meningkat. Pada tahun 2010 terjadi 285.184 perceraian di seluruh Indonesia. Penyebab perceraiannya diantaranya adalah akibat faktor  ketidakharmonisan, tidak ada tanggungjawab, masalah ekonomi, perselingkuhan dan KDRT (Republika.co.id, 24/01/ 2012). Dan mirisnya, 70 persen yang mengajukan cerai adalah istri, dengan alasan suami tidak bisa memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga (artikelindonesia.com)

Akibat maraknya perceraian dan ketidakharmonisan suami-istri, keluarga pun menjadi rapuh. Kerapuhan ini berpengaruh pada nasib anak-anak. Hal itu tercermin dari besarnya kasus Pergaulan bebas, hamil di luar nikah, aborsi, narkoba dan infeksi HIV/AIDS.  Seks Survey 2011 yang didanai oleh DKT melaporkan bahwa usia rata-rata remaja Indonesia pertama kali berhubungan seksual adalah 19 tahun. 31 persen kaum muda yang berhubungan seksual adalah mahasiswa dan 6 persen merupakan siswa SMP. Sebelas persen remaja putri yang pernah berhubungan seks mengaku pernah hamil dan 17% diantaranya mengakui pernah melakukan aborsi (Kompas.com, 05/12/2011). Meskipun hasil survey ini dikatakan tidak dapat dianggap mewakili gambaran remaja Indonesia, namun temuan terserbut sangat memprihatinkan.

Demikian pula kasus HIV/AIDS. Data kasus Dirjen PP dan PL Departemen Kesehatan RI menyebutkan usia rentan semakin muda yaitu pada usia 13-15 tahun.  Kebanyakan dari penderita tertular virus HIV melalui jarum suntik dan seks bebas. Di mana, Indonesia termasuk ke dalam negara dengan percepatan paling banyak bersama Vietnam, India, dan Thailand.  (Kompas.com, 12/09/2009). Tanpa perencanaan nasional, angka tersebut akan meledak mencapai 2,18 juta pada 2025 (Detik.com). Angka HIV AIDS juga akan semakin bertambah seiring dengan bertambahnya kasus narkoba. Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Nasional Anti-Narkotika (Granat) menyatakan, saat ini pencandu narkotika di tanah air mencapai lima juta orang (Hidayatullah.com, 23/06/2012).

Di DKI Jakarta saja, sampai Desember 2011 tercatat ada 11.205  kasus HIV/AIDS, namun dinkes mengestimasi ada lebih dari 42.000  orang di Jakarta yang telah terinfeksi HIV/AIDS yang berarti lebih dari  30.000 belum terdeteksi (Jakarta Globe, 04/06/2012). Data tersebut tentulah belum seberapa. Bahkan penyebaran virus HIV/AIDS sudah sangat mengkhawatirkan, karena hingga saat ini sudah merata di 33  provinsi di Indonesia dan yang paling dominan penularannya yaitu melalui hubungan seks bebas dan melalui narkoba suntik, terutama di wilayah Pulau Jawa (Hidayatullah.com).

Inilah sebagian potret kelam yang malanda keluarga Indonesia yang sebagian besar adalah keluarga Muslim. Gambaran suram tersebut menujukkan bahwa keluarga Indonesia yang mayoritas Muslim ternyata sangat rapuh. Berbagai permasalahan tersebut tentu menjadi kendala untuk mewujudkan keluarga yang tangguh. Gempuran gaya hidup barat yang penuh dengan kebebasan makin memperburuk gambaran keluarga Muslim. Dan ini akan terus terjadi ketika peradaban Barat dijadikan sebagai acuan.

Di Amerika Serikat angka perceraian termasuk tinggi. Data tahun 2010 menunjukkan angka perceraian sebesar 3,6 per 1000 populasi (http://familylaw.typepad.com/stats/divorce_rates_us/ 31/05/2012). Di Inggris, terdapat 119.589 kasus perceraian pada tahun 2010, meningkat 4,9 % dari 113.949 pada tahun 2009. Dikatakan penyebabnya adalah akibat resesi yang terjadi di Inggris, (http://www.dailymail.co.uk/ 09/12/2011).

Sementara itu gambaran kerusakan moral dapat dilihat tingginya angka aborsi atau kehamilan diluar pernikahan yang menjadi gambaran adanya seks bebas di kalangan remaja.  Pada tahun 2006, di Amerika Serikat terdapat 7% gadis remaja hamil, atau 71,5 kehamilan per 1000 remaja, ini meningkat bila dibandingkan dengan angka pada tahun 2005 yang sebesar 69,5.  Pada tahun 1990 angka mencapai puncak hingga 12% remaja mengalami kehamilan (http://www.usatoday.com/26/01/2010). Kasus aborsi di Turki juga mengalami kenaikan dibanding tahun sebelumnya. Pada tahun 2009 silam, angka kasus aborsi mencapai 60.000, setahun kemudian menjadi 70.000 kasus aborsi (www.republika.co.id/30/05/2012).

Dengan demikian jelas bahwa keluarga Indonesia khususnya keluarga Muslim tengah diarahkan untuk meninggalkan jalan Islam, menuju jalan kebebasan manusia atau liberalisme ala Barat.  Hal ini tentu saja membahayakan umat karena akan membawa umat kepada kehancuran. Tentu keluarga tangguh tidak akan terwujud. Fakta di dunia Barat telah secara jelas menunjukkan kerusakan  tatanan keluarga. Dan yang lebih utama adalah adanya upaya mengajak umat untuk melepaskan keterikatannya kepada hukum Allah. Jadi mungkinkah “Keluarga Kokoh Pilar Ketangguhan Bangsa” akan terwujud jika dicengkram oleh liberalisme sosial seperti hari ini? Tidak.

Oleh karena itu keluarga muslim harus waspada terhadap setiap konsep yang tidak berlandaskan aturan Islam. Konsep Barat lahir dari peradaban Barat yang bertentangan dengan peradaban Islam. Apalagi tatanan sosial khususnya struktur keluarga di Barat sebentar lagi hancur. Maka Sudah saatnya kita terpacu untuk segera keluar dari kubangan lumpur kapitalisme yang sudah sedemikian kuat mencengkeram keluarga kita dan sekaligus mengeluarkan keluarga-keluarga Muslim lainnya dari kubangan yang sama. Selanjutnya membina diri dengan Islam sehingga terwujud keluarga Muslim yang senantiasa memiliki cara pandang Islam ideologis  sebagai acuan dalam menilai seluruh permasalahan berikut penyelesaiannya. Kemudian  bersama-sama  dengan keluarga-keluarga Muslim lainnya, membangun sebuah peradaban luhur nan mulia yaitu peradaban Islam dengan tegaknya kembali Daulah Khilafah Islamiyah ‘ala minhajin nubuwwah.

Bogor, 29 Juni 2012

Ayati Fadhilatunnisa

*dimuat di:http://www.radaronline.co.id/berita/pembaca/4091/2012/Keluarga-Muslim-Dalam-Malapetaka

Iklan

About Ayatifa

Muslimah yang di besarkan di sebuah dusun yang bernama Kuamang Kuning di pedalaman Jambi, aktivitas sehari-harinya lebih banyak 'bersembunyi'. Hijrah ke Bogor untuk memenuhi hasrat petualangan intelektualnya. Menyukai dunia politik khususnya yang berkaitan dengan perempuan, keluarga dan generasi. Lahir di Sragen, 20 Juni lebih dari seperempat abad lalu. ^_^ Saat ini sedang belajar menulis untuk mengekspresikan diri. Memperoleh pengalaman yang sangat berharga saat numpang tinggal bersama Dara Apipb di Asrama Putri Bogor hingga menghantarkannya kepada tiga pertanyaan mendasar, "Dari mana kita berasal? Untuk apa kita hidup di dunia? Dan hendak kemana kita setelah kematian? Terkesan dengan sebuah bait, "Islam akan bangkit dengan atau tanpa kita. Lalu, apakah kita termasuk ke dalam orang-orang yang diam saja atau ke dalam barisan orang-orang yang memperjuangkannya?? Padahal, Islam akan tetap bangkit dengan atau tanpa kita." Belajar melawan, melalui perang pemikiran. Allahu Akbar!!!

Diskusi

One thought on “Keluarga Muslim Dalam Malapetaka (Hari Keluarga Nasional 29 Juni 2012)

  1. It’s going to be ending of mine day, but before finisah I
    am reading this wlnderful article to improve my experience.

    Posted by Cecila | 9 September 2014, 7:05 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Assalamu’alaykum…

Demi Masa

Kini

Statistik Blog

  • 9,150 hits

Arsip

%d blogger menyukai ini: