//
you're reading...
Opini, Surat Pembaca

Menkes Baru, Kondomisasi Pun Melaju

Pemandangan pun terlihat berbeda. Setelah fotografer istana meletakkan kursi di belakangnya, Nafsiah Mboi pun duduk seraya menerima ucapan selamat dari para pejabat Negara. Nafsiah Mboi resmi menjabat sebagai Menteri Kesehatan di usianya yang ke 72 tahun. Ia diangkat lewat Keputusan Presiden RI Nomor 61/P/2012 dan ditetapkan di Jakarta, 13 Juni 2012 (republika.co.id).

Dengan masa tugas yang tinggal 2,5 tahun, Menkes tampaknya masih belum mengemukakan program-program kerja seperti apa yang akan dilaksanakan secara konkrit. “Untuk pastinya, silakan tanya saya lagi satu bulan dari sekarang,” kata Menkes (detik.com). Namun, ketika ditanya mengenai permasalahan HIV/AIDS yang telah ditanganinya selama beberapa tahun terakhir ini, Menkes yang sebelumnya menjabat sebagai Sekretaris Eksekutif Komite Penanggulangan AIDS (KPA) Nasional ini akan melakukan gebrakan. Yaitu mengusulkan agar remaja dipermudah aksesnya untuk mendapatkan kondom.  Menurutnya, dengan pemakaian kondom, remaja sebagai pelaku seks aktif akan terhindar dari penularan HIV dan kehamilan yang tidak diinginkan. Berbagai kalangan ulama, guru dan tokoh masyarakat pun menolak kebijakan ini. Benarkah kondomisasi adalah solusi penggulangan HIV/AIDS?

Remaja Dalam Cengkeraman HIV/AIDS

Remaja adalah aset bangsa, generasi penerus yang akan melanjutkan tonggak estafet perjuangan. Namun, arus globalisasi saat ini, telah merangsek, menggempur siapa saja termasuk di dalamnya adalah remaja. Sistem sekulerisme-kapitalisme memaksa remaja hidup dengan gaya hedonis, individualis, liberalis dan materialistis. Pornografi, narkoba, seks bebas bahkan aborsi pun seakan-akan telah menjadi santapan sehari-hari.

Menurut Tifatul Sembiring, berdasarkan riset pornografi di 12 kota besar Indonesia terhadap 4.500 siswa-siswi SMP, ditemukan sebanyak 97,2 persen dari mereka pernah membuka situs porno. Selanjutnya, 91 persen dari mereka sudah pernah melakukan kissing, petting atau oral sex. Bahkan, data tersebut juga menyebutkan 62,1 persen siswi SMP pernah berzina dan 22 persen siswi SMU pernah melakukan aborsi, (jpnn.com, 16/6/2012).

Prihatin. Temuan tersebut tentulah tidak membanggakan. Seks bebas sebagai salah satu biang penularan HIV telah menjadi gaya hidup remaja kini. Tidak dapat dibayangkan, bagaimana jadinya bila atas nama kampanye global memberantas HIV/AIDS remaja justru semakin dipermudah aksesnya untuk mendapatkan kondom. Bahkan gratis. Tentu ini keputusan yang tidak mendasar bahkan nekat.

Di DKI Jakarta saja, sampai Desember 2011 tercatat ada 11.205  kasus HIV/AIDS, namun dinkes mengestimasi ada lebih dari 42.000  orang di Jakarta yang telah terinfeksi HIV/AIDS yang berarti lebih dari  30.000 belum terdeteksi (Jakarta Globe, 04/06/2012). Data tersebut tentulah belum seberapa. Bahkan penyebaran virus HIV/AIDS sudah sangat mengkhawatirkan, karena hingga saat ini sudah merata di 33  provinsi di Indonesia dan yang paling dominan penularannya yaitu melalui hubungan seks bebas dan melalui narkoba suntik, terutama di wilayah Pulau Jawa (Hidayatullah.com).

Target MDGs: Racun Berbalut Madu

Program kerja Menkes sejatinya adalah pemaksaan dari agenda-agenda MDGs. Dimana, salah satu tujuan dari delapan tujuan MDGs, yaitu; memerangi HIV/AIDS, malaria dan penyakit menular lainnya.

Setelah Indonesia turut menandatangani MDGs, yang dideklarasikan pada Konferensi Tingkat Tinggi Millenium oleh 189 negara anggota PBB di New York, September 2000 lalu. Indonesia harus berkomitmen mengintegrasikan MDGs sebagai bagian dari program pembangunan nasionalnya. Sehingga secara otomatis, parameter segala pembangunan di setiap lini harus sesuai dengan kedelapan tujuan MDGs tersebut. Dimana, secara nasional, komitmen tersebut telah dituangkan dalam berbagai dokumen perencanaan nasional, antara lain dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2004–2009. Dan dipertegas pada RPJMN 2010-2014 dan Inpres No 3 Tahun 2010 tentang Program Pembangunan Berkeadilan, (padangekspres.co.id, 29/03/2012).

Adapun, sesungguhnya, tujuan MDGs hanyalah program yang didesain secara membabi-buta, diaplikasikan dengan berbagai upaya demi tercapainya target-target angka semata. Tanpa memandang, apakah program-program tersebut sesuai dengan agama, norma, adat budaya, bahkan kebutuhan masyarakat itu sendiri. Dan dari tujuan keenam MDGs ini, yakni penanganan berbagai penyakit menular berbahaya diantaranya HIV/AIDS,  ternyata prevalensi HIV/AIDS nasional saat ini adalah 5,6 per 100.000 orang. Bahkan, tidak ada indikasi laju penyebaran HIV/AIDS terhenti, (padangekspres.co.id, 29/03/2012).

Nah, tampak sekali, untuk mencapai target tahun 2015 itu,  Menkes membabi buta akan mengerahkan semua jajarannya untuk menkampanyekan pemakaian kondom bagi pelaku seks resiko tinggi. Mengapa? Karena memang hanya itulah satu-satunya cara yang direkomndasikan MDGs, yaitu kondomisasi, tanpa memutus mata rantai sumber penularan HIV itu sendiri : seks bebas (zina). Sungguh tujuan dari program MGDs ini adalah racun yang setiap waktu akan membunuh siapa saja yang meminumnya. Sebab, dapat diartikan Menkes justru memberikan fasilitas gratis dan lampu hijau kepada remaja untuk terus melakukan seks bebas (zina) asalkan aman (terhindar dari panularan HIV dan kehamilan yang tak diinginkan).

Tolak Kondomisasi Remaja

Sesungguhnya, berbagai macam problem yang mendera bangsa ini merupakan dampak dari diterapkannya sistem sekulerisme-kapitalisme. Atas dasar itu, solusi untuk menyelesaikan berbagai problem yang menimpa negeri ini adalah dengan mengganti sistem sekulerisme-kapitalisme dengan sistem yang lebih baik yaitu sistem yang bersumber dari Yang Maha Baik. Selama sistem bobrok ini masih mencengkeram negeri ini maka segala kebobrokan ini tidak akan pernah tuntas.

Adanya pembinaan yang melahirkan individu bertakwa, kontrol masyarakat yang senantiasa dijaga dan pemberlakuan aturan yang tegas dan jelas akan  menjadi  solusi tuntas dalam penanggulangan HIV/AIDS.  Yaitu, kewajiban menutup aurat, larangan berdua-duaan tanpa mahram, terjaganya pergaulan antara pria dan wanita, menutup kemungkinan terjadinya pergaulan bebas. Hukuman dera, rajam pun semakin memberikan  efek jera bagi penggemar zina. Sungguh, bila Syariat Allah ini diterapkan maka mata rantai penularan berbagai penyakit menular termasuk HIV/AIDS pun akan terputus dari akarnya.

Program MDGs adalah racun berbalut madu, seolah baik untuk masyarakat padahal menyesatkan. Untuk itu, kita semua wajib menolak kondomisasi yang akan menyuburkan seks bebas ini. Tolak Kondomisasi Remaja!

Bogor, 19 Juni 2012

Ayati Fadhilatunnisa

Iklan

About Ayatifa

Muslimah yang di besarkan di sebuah dusun yang bernama Kuamang Kuning di pedalaman Jambi, aktivitas sehari-harinya lebih banyak 'bersembunyi'. Hijrah ke Bogor untuk memenuhi hasrat petualangan intelektualnya. Menyukai dunia politik khususnya yang berkaitan dengan perempuan, keluarga dan generasi. Lahir di Sragen, 20 Juni lebih dari seperempat abad lalu. ^_^ Saat ini sedang belajar menulis untuk mengekspresikan diri. Memperoleh pengalaman yang sangat berharga saat numpang tinggal bersama Dara Apipb di Asrama Putri Bogor hingga menghantarkannya kepada tiga pertanyaan mendasar, "Dari mana kita berasal? Untuk apa kita hidup di dunia? Dan hendak kemana kita setelah kematian? Terkesan dengan sebuah bait, "Islam akan bangkit dengan atau tanpa kita. Lalu, apakah kita termasuk ke dalam orang-orang yang diam saja atau ke dalam barisan orang-orang yang memperjuangkannya?? Padahal, Islam akan tetap bangkit dengan atau tanpa kita." Belajar melawan, melalui perang pemikiran. Allahu Akbar!!!

Diskusi

One thought on “Menkes Baru, Kondomisasi Pun Melaju

  1. I love that quotation by Hemingway , the one which suggests that there is nothing to writing.
    All you do is sit down at a typewriter and bleed. I think that superior quality writing must be like that and I’ll
    unquestionably come back to this blog, since it has plenty of great writing,
    and it is clear that the writer This blog proves that good writing is
    not always easy, but “bled” to get it right.

    Posted by tumblr.com | 24 Oktober 2013, 1:36 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Assalamu’alaykum…

Demi Masa

Kini

Statistik Blog

  • 8,598 hits

Arsip

%d blogger menyukai ini: