//
you're reading...
Denting Cinta, Episode

Jum’at Bersamamu

Kulihat gamis putihmu berkibar-kibar. Iya, sepulang shalat Jumat, engkau langsung menuju kandang domba, menggembalakan domba di ladang dengan gamis putih yang berkibar-kibar. Gamis hadiah dari Abi sepulangnya beliau dari Mekah kemarin.

“Wah, penggembala domba bergamis putih” pujiku terhadapmu. Engkau pun tersenyum-senyum di
bawah sengatan matahari.

Aku mengeluarkan mobil dari parkiran. Tiba-tiba engkau telah duduk di kursi depan sebelah sopir.

“Ibu, Abang ikut muter-muter ya” pintamu. “Dombanya sudah Abang ikat koq.” Engkau pun  melanjutkan.

Jujur, seringkali aku berfikir, bila aku masih seusia denganmu, tentu akan kutonjok setiap kejahilanmu kambuh. Bahkan airmata ini selalu tertahan setiap menghadapi ulahmu dan biasanya aku akan berlari mencari Bang Izul  mengharap perlindungannya. Padahal Bang Izul itu adikmu, Bang. Tapi aku merasa nyaman berada di balik punggungnya. Keberadaannya membuatku terlindungi dan juga teman-teman sesusiamu. Entahlah, mungkin karena kalian masih anak-anak.

Tapi, Jumat kemaren benar-benar berbeda. Engkau tampak sangat polos dan keinginan untuk menonjokmu sirna sudah. Karena sesungguhnya engkau benar-benar masih anak-anak, meski sering membuat kita ‘merah’. Argumen-argumen yang engkau katakan, terkadang membuatku lupa, kufikir
engkau telah dewasa.

Kalau ke Makasar, dipanggil Muhammad Taqiyuddin. Kalau ke Medan, Muhammad An Nabhani, ujarmu. Aku senyum-senyum mendengarnya. Siang itu, sepanjang perjalanan kita berdiskusi banyak hal. Tentang rekayasa genetika, tentang berternak domba dan sapi, tentang pluralisme, kapitalisme, bahkan tentang khilafah hingga strategi perang bila nanti khilafah telah tegak dan engkau turut berjihad. Engkau sangat
terobsesi dengan kuda. Ingin berjihad menunggang kuda seperti Rasulullah dan para Shahabat pada masa lalu. Engkau pun bercita-cita ingin menyilangkan berbagai kuda, agar mendapat kuda yang hebat dan kuat.

Berdiskusi denganmu sangat asyik, layaknya diskusi dengan mahasiswa. Kita pun membahas berita-berita terkini, seperti kasus century, target 100 hari pemerintahan SBY dll yang bahkan banyak mahasiswa yang tidak peduli atau tidak faham sedikitpun. Diskusi kita benar-benar serius. Tidak terfikir sedikit pun bahwa engkau masih anak-anak yang berusia 10 tahun.

“Ibu kenal Pak Budi?” Tanyamu terhadapku.

“Tidak kenal secara pribadi, tapi tahu, kenapa memang?” aku pun balik bertanya.

“Pak Budi balighnya kelas 1 SMA, Bu. Kalau Abang boleh minta, pingin baligh setelah kuliah saja.” Tertawa..  Aku benar-benar tertawa lepas. Di mobil itu tinggal kita berdua, yang lain sudah turun. Aku benar-benar tertawa lepas. Abang Taqi.. Abang Taqi.. Berdiskusi denganmu begitu serius, tiba-tiba aku tersadar bahwa engkau benar-benar masih anak-anak. Bahkan ketika engkau bertanya tentang ‘baligh’ benar-benar tampak polos.

Hee. Aku tak berani melirik wajahmu yang polos. Konsentrasiku tetap di jalan yang lumayan padat. Sungguh, meski tak kutatap kepolosanmu itu, tapi aku tetap terbayang: Taqi yang perfeck, tegas, pengkritik. Hee, tiba-tiba tampak begitu lucu.

“Memangnya kenapa ingin baligh setelah kuliah? Aku bertanya sambil tetap tertawa.

“Biar tidak cepat-cepat menanggung dosa. Memangnya ibu balighnya kapan?” jawabmu lagi.

“Ibu balighnya kelas 3 SMA. Berarti kalau balighnya lebih cepat, kesempatan mengumpulkan pahala semakin cepat, sehingga pahalanya semakin banyak” aku berusaha memberimu motifasi.

“Tapi Bu, kayaknya Abang lebih cepat balighnya, soalnya kata orang-orang suara Abang sudah berubah.”

Aku semakin tak kuasa menahan tawa. Abang.. Abang.. Engkau benar-benar masih anak-anak rupanya, bahkan bertanya tentang ini pun belum malu. Sungguh berbeda sekali dengan anak-anak lain yang ghorizah nau’nya berkembang begitu pesat. Hee, aku benar-benar tak kuat menahan tawa. Bukankah baru saja kita diskusi begitu serius.. Ahh, engkau benar-benar anak-anak yang jernih dan lucu, meski terkadang membuatku menangis..

“Oh ya, kalau Abang sudah baligh, nanti tidak boleh ikut ibu lagi lho, berduaan seperti ini tidak boleh”, ujarku.  Dan engkau pun menjawab akan mengajak Fahma serta agar tetap bisa ikut berkeliling.

Kenangan bersama Muhammad Taqiyuddin. Usia 10 tahun, kelas 5 SD. Ingin kuliah ke Jepang menjadi ahli rekayasa genetika. Bercita-cita memiliki peternakan sapi dan domba yang banyak, supaya bisa berinfak seperti Usman Bin Affan atau Abdurahman Bin Auf. Sebentar lagi tamat Al-Baqarah. Semoga Allah senantiasa melimpahkan RahmatNya.. Aamiin.. Ma’annajah..

*pengalaman seseorang*

Bogor, Januari 2010

Iklan

About Ayatifa

Muslimah yang di besarkan di sebuah dusun yang bernama Kuamang Kuning di pedalaman Jambi, aktivitas sehari-harinya lebih banyak 'bersembunyi'. Hijrah ke Bogor untuk memenuhi hasrat petualangan intelektualnya. Menyukai dunia politik khususnya yang berkaitan dengan perempuan, keluarga dan generasi. Lahir di Sragen, 20 Juni lebih dari seperempat abad lalu. ^_^ Saat ini sedang belajar menulis untuk mengekspresikan diri. Memperoleh pengalaman yang sangat berharga saat numpang tinggal bersama Dara Apipb di Asrama Putri Bogor hingga menghantarkannya kepada tiga pertanyaan mendasar, "Dari mana kita berasal? Untuk apa kita hidup di dunia? Dan hendak kemana kita setelah kematian? Terkesan dengan sebuah bait, "Islam akan bangkit dengan atau tanpa kita. Lalu, apakah kita termasuk ke dalam orang-orang yang diam saja atau ke dalam barisan orang-orang yang memperjuangkannya?? Padahal, Islam akan tetap bangkit dengan atau tanpa kita." Belajar melawan, melalui perang pemikiran. Allahu Akbar!!!

Diskusi

2 thoughts on “Jum’at Bersamamu

  1. Cerita yang bagus nih … 🙂

    Posted by onesetia82 | 13 Juli 2012, 5:44 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Assalamu’alaykum…

Demi Masa

Kini

Statistik Blog

  • 8,598 hits

Arsip

%d blogger menyukai ini: