//
you're reading...
Opini, Surat Pembaca

Derita Rohingya, Kemana Mereka Harus Mengadu?

Derita Rohingya, Kemana Mereka Harus Mengadu?

Ramadhan, dialah bulan yang permulaannya rahmat, pertengahannya ampunan dan akhirnya adalah pembebasan dari api neraka.

Ramadhan kini telah berakhir. Bulan yang penuh rahmat, ampunan dan pembebasan dari api neraka berlalu sudah. Lebaran dengan tradisi mudik bagi Muslim di Indonesia adalah sebuah ritual yang setiap tahun telah membudaya. Berkumpul bersama handai taulan di kampung halaman, menikmati makanan khas lebaran dan anak-anak pun akan bersuka cita menerima pembagian “galak gampil” dari mbah, budhe, pakdhe dan kerabat lainnya. Lebaran, perayaan akbar yang setiap tahun selalu dinantikan. Lalu, bagaimana dengan saudara kita Muslim Rohingya? Apakah mereka juga merasakan kebahagiaan di hari kemenangan ini?

Sejarah Kesultanan Islam Arakan

Rohingya adalah nama sebuah etnis di Arakan, Myanmar Utara. Kata Rohingya berasal dari kata Rohang, yang merupakan nama lama dari negara bagian Arakan. Pada tahun1203 M, Bengali menjadi sebuah negara Islam. Dan sejak saat itu pengaruh Islam mulai merambah masuk ke wilayah Arakan. Hingga pada tahun 1430 M. Arakan menjadi sebuah negara Muslim.

Selama 350 tahun Kesultanan Islam berdiri di Arakan dan Umat Islam hidup dengan tenang. Namun pada 24 September 1784 M. Raja Boddaw Paya dari Burma menginvasi Arakan dan menguasainya. Pada 1824-1826 M perang Anglo-Burma pertama pecah. Tahun 1935 diputuskan bahwa Burma terpisah dari British-India tepatnya mulai tanggal 1 April 1937 M. Melalui keputusan itu pula digabungkanlah Arakan menjadi bagian British-Burma. Hingga pada akhirnya Arakan menjadi bagian Burma yang merdeka pada Tahun 1948.

Membaca sejarah Arakan, wilayah di mana mayoritas Muslim Rohingya tinggal, sesungguhnya sudah ada terlebih dahulu bahkan sebelum Negara Burma lahir pada tahun 1948 yang kemerdekaannya diberi oleh Inggris. Kaum Muslimin  di sana telah berabad-abad tinggal sebagai kesultanan Islam yang merdeka. Justru yang terjadi adalah penjajahan oleh kerajaan Budha dan Kolonial Inggris di negara itu.

Para sejarawan menyebutkan bahwa Islam masuk ke negeri itu tahun 877 M pada masa Khalifah Harun ar-Rasyid. Saat itu Daulah al-Khilafah menjadi negara terbesar di dunia selama beberapa abad. Islam mulai menyebar di seluruh Birma ketika mereka melihat kebesaran, kebenaran, dan keadilannya.

Penderitaan Muslim di sana mulai terjadi saat kerajaan Budha maupun kolonialis Inggris menjajah negeri tersebut. Tidak seperti etnis lain yang diakui warganegaranya oleh Myanmar, masyarakat Rohingya dianggap sebagai penduduk sementara yang tidak diperbolehkan bekerja sebagai pengajar, perawat dan abdi masyarakat. Mereka pun tidak mendapatkan pelayanan pulik. Bahkan, mereka dianggap sebagai orang-orang yang tak bernegara dan tidak diakui oleh pemerintah Myanmar. Sungguh miris.

Sejarah Penjajahan Negeri Muslim Arakan Oleh Kerajaan Budha dan Inggris

Berikut ini adalah tahun-tahun penderitaan Muslim Rohingya setelah kerajaan Budha dan Kolinial Inggris menjajah negeri Muslim Arakan (mediaumat).

Tahun 1784 M : Kerajaan Budha berkoalisi menyerang provinsi dan menduduki wilayah Arakan. Mereka membunuh kaum Muslimin, membunuh para ulama dan para da’i. Mereka juga merampok kekayaan kaum Muslimin, menghancurkan bangunan-bangunan Islami baik berupa masjid maupun sekolah.

Tahun 1824 M : Inggris menduduki Burma termasuk wilayah Arakan dan menancapkan penjajahan mereka atas Burma.

Tahun 1937 M : Kolonial Inggris menduduki provinsi Arakan dengan kekerasan dan menggabungkannya ke Burma (yang saat itu merupakan koloni Inggris yang terpisah dari pemerintah Inggris di India). Inggris mempersenjatai umat Budha untuk menundukkan umat Muslim.

Tahun 1942 M : lebih dari 100 ribu umat Muslim dibantai oleh orang-orang Budha dan ratusan ribu mengungsi ke luar negeri.

Tahun 1948 M : Inggris memberi Burma kemerdekaan formalistik. Sebelumnya, pada 1947 M Inggris menggelar konferensi untuk mempersiapkan kemerdekaan dan mengajak seluruh kelompok dan ras di negeri tersebut kecuali Muslim Rohingya. Pada konferensi itu Inggris menjanjikan kemerdekaan kepada tiap kelompok atau suku sepuluh tahun kemudian. Namun pemerintahan Burma tidak mengimplementasikan hal itu. Yang terjadi adalah penindasan terhadap kaum Muslimin yang terus berlanjut.

Tahun 1962 M : terjadi kudeta militer di Burma di bawah pimpinan militer Jenderal Ne Win. Rezim militer melanjutkan ‘tugas penting’ pembantaian terhadap umat Islam. Lebih dari 300 ribu Muslim diusir ke Bangladesh.

Tahun 1978 M : rezim militer mengusir lagi setengah juta Muslim ke luar Burma. Menurut UNHCR, lebih dari 40 ribu orang Muslim terdiri atas orang-orang tua, wanita dan anak-anak meninggal dunia saat pengusiran akibat kondisi mereka yang memprihatinkan.

Tahun 1982 M : operasi penghapusan kebangsaan kaum Muslim karena dinilainya sebagai warga negara bukan asli Burma.

Tahun 1988 M : lebih dari 150 ribu kaum Muslimin terpaksa mengungsi ke luar negeri. Pemerintah Myanmar menghalangi anak-anak kaum Muslimin mendapatkan pendidikan. Untuk mengurangi populasi kaum muaslimin. Kaum Muslim dilarang menikah sebelum berusia tiga puluh tahun.

Tahun 1991 M : lebih dari setengah juta kaum Muslim mengungsi akibat penindasan yang mereka alami.

Pada bulan Juni 2012 konflik kembali pecah. Orang-orang Budha melakukan serangan terhadap sebuah bus yang membawa umat Muslim dan membunuh sembilan orang dari mereka. Konflik cenderung dibiarkan oleh pemerintah. Pembunuhan, pembakaran rumah, dan pengusiran pun kembali terjadi. Puluhan ribu kaum Muslimin keluar dari rumah mereka.

Bangladesh menolak untuk membantu kaum Muslim. Bahkan mengembalikan dan menutup perbatasan. Tidak ada angka yang pasti berapa jumlah korban umat Muslim. Namun diduga puluhan ribu Muslim terbunuh pasca pecahnya kembali konflik pada awal Juni 2012 itu.

Pusat Informasi dan Advokasi Rohingya-Arakan (PIARA) membeberkan bagaimana kondisi Rohingya yang kini sedang mengalami kekerasan di negaranya sendiri. Dimana PIARA menemukan fakta kekerasan dan penindasan terhadap Muslim Rohingya dalam beberapa dekade ini telah menyebabkan ribuan warga Rohingya tewas dan rumah tinggal mereka dibakar. Lalu pembatasan gerak warga Rohingya untuk keluar masuk wilayah Rakhine (bahkan untuk keluar kampungnya pun sulit), pembatasan terhadap pernikahan, pendidikan, pekerjaan, kesehatan dan berbagai macam pelayanan publik lainnya.

PIARA mencatat, terutama sejak 1940-an, Muslim Rohingya selalu mengalami penindasan, pembunuhan, penyiksaan, perkosaan, dan pemiskinan, maupun diskriminasi baik oleh negara, pemerintah, maupun dari sesama penduduk yang berbeda etnis dan agama dengan mereka (inilah.com, 2/8/2012).

Menyedihkan. Di hari kemenangan ini, mereka pun tidak bisa merasakan nikmatnya hari raya kecuali ketakutan dan ketidakjelasan akan nasib mereka.  Negara-negara barat yang selama ini mengembar-gemborkan HAM pun tetap diam akan nasib mereka. Karena HAM hanyalah alat penjajahan yang berkedok kemanusiaan yang tidak pernah diperuntukkan bagi umat Islam. Sungguh, tidak ada yang membela mereka. Lalu, kepada siapa mereka harus mengadu?

Sesungguhnya keamanan tidak akan kembali menjadi milik kaum Muslimin di negeri tersebut kecuali jika kaum muslimin kembali kepada Khilafah. Muslim Rohingya telah bernaung di bawah Khilafah sejak masa Khalifah Harun ar-Rasyid lebih dari tiga setengah abad lamanya. Kaum muslimin yang saat ini terkotak-kotak dalam berbagai nation state, tidak mampu memberikan perlindungan dan keamanan. Jadi, hanya Khilafah sajalah yang mampu memberikan keamanan dan menyebarkan kebaikan ke seluruh dunia. Insya Allah Khilafah telah di depan mata. Aamiin..

dimuat di radaronline Derita Rohingya, Kemana Mereka Harus Mengadu?

Iklan

About Ayatifa

Muslimah yang di besarkan di sebuah dusun yang bernama Kuamang Kuning di pedalaman Jambi, aktivitas sehari-harinya lebih banyak 'bersembunyi'. Hijrah ke Bogor untuk memenuhi hasrat petualangan intelektualnya. Menyukai dunia politik khususnya yang berkaitan dengan perempuan, keluarga dan generasi. Lahir di Sragen, 20 Juni lebih dari seperempat abad lalu. ^_^ Saat ini sedang belajar menulis untuk mengekspresikan diri. Memperoleh pengalaman yang sangat berharga saat numpang tinggal bersama Dara Apipb di Asrama Putri Bogor hingga menghantarkannya kepada tiga pertanyaan mendasar, "Dari mana kita berasal? Untuk apa kita hidup di dunia? Dan hendak kemana kita setelah kematian? Terkesan dengan sebuah bait, "Islam akan bangkit dengan atau tanpa kita. Lalu, apakah kita termasuk ke dalam orang-orang yang diam saja atau ke dalam barisan orang-orang yang memperjuangkannya?? Padahal, Islam akan tetap bangkit dengan atau tanpa kita." Belajar melawan, melalui perang pemikiran. Allahu Akbar!!!

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Assalamu’alaykum…

Demi Masa

Kini

Statistik Blog

  • 9,150 hits

Arsip

%d blogger menyukai ini: