//
you're reading...
Puisi

Mencari Jejak Hujan

 

MENCARI JEJAK HUJAN
: US

PERJALANAN
sobat, ingatkah engkau dengan perjalanan pagi itu?
kita, bersepuluh menyusuri jalan chairil anwar
penyair berjuluk “si binatang jalang”
ini bekasi, cepat sekali engkau melangkahkan kaki. terdepan
hingga ke tujuan

DALAM RUANGAN
aku terdiam di sudut ruang. terpaku menatapmu
berbincang menyampaikan kritikan. aih, tibatiba aku gagu
menahan geligi yang ngilu. haha jangan makan permen mulu, ujarmu

JALAN PULANG
pengamen bergantigantian. sepanjang jalan menyanyikan
beragam lagu. mengiringi diskusi kita yang semakin seru
hingga hujan tumpah ruah membasahi tanah. terjebak kita bersama
di kedai, diskusi pun terjadi lagi sambil menanti hujan pergi
aha, rinai hujan masih saja menjuntaijuntai. berpisah kita
menerobos derainya yang belum usai

DI JEJAK HUJAN
: cengkrama hujan
melancip
mencicip aku

laron di hadap lampu
jalanan mati

: hujan pun menghunjami aku
menderu
merejamrejam tudungku

ayo, bertancaplah
kejaran hujan pun sering mendatangkan rupiah
lihatlah, mereka tertawatawa renyah

: sobat, apakah hujan
masih mencengkramaimu?
di sini hujan menyisakan rinainya
daundaun bambu tertunduk malu
hihi, kanopi itu memayu melingkupiku

: sisa hujan
menyahdukan
kemacetan
lampulampu mengerlip
bintang pada malam
batubara
belum sampai juga
neh
fuuuh

sepanjang jalan, 21102012

KEESOKAN HARI
“saya tengah kurang sehat” tulismu di siang hari
hanya saja aku sibuk sendiri

pun senja itu. betapa malangnya aku
pesanmu baru kubaca saat sang surya hampir tiba
semalaman ponselku terdiam dalam angan
syafakumullah. Dia Yang Maha Pengasih
begitu menyayangimu

aiha, aku ingat; “sakit adalah malam
yang membuat mengada embun di batuan, di
daunan, di kelopak bunga, di helai sayap serangga
semakin pekat malam pertanda semakin dekat fajar”
tulismu kala itu

selamat malam, kawan
kuyakin cerlang kan segera datang
di sini aku
masih mencari jejak hujan

crown palace, 23102012

Iklan

About Ayatifa

Muslimah yang di besarkan di sebuah dusun yang bernama Kuamang Kuning di pedalaman Jambi, aktivitas sehari-harinya lebih banyak 'bersembunyi'. Hijrah ke Bogor untuk memenuhi hasrat petualangan intelektualnya. Menyukai dunia politik khususnya yang berkaitan dengan perempuan, keluarga dan generasi. Lahir di Sragen, 20 Juni lebih dari seperempat abad lalu. ^_^ Saat ini sedang belajar menulis untuk mengekspresikan diri. Memperoleh pengalaman yang sangat berharga saat numpang tinggal bersama Dara Apipb di Asrama Putri Bogor hingga menghantarkannya kepada tiga pertanyaan mendasar, "Dari mana kita berasal? Untuk apa kita hidup di dunia? Dan hendak kemana kita setelah kematian? Terkesan dengan sebuah bait, "Islam akan bangkit dengan atau tanpa kita. Lalu, apakah kita termasuk ke dalam orang-orang yang diam saja atau ke dalam barisan orang-orang yang memperjuangkannya?? Padahal, Islam akan tetap bangkit dengan atau tanpa kita." Belajar melawan, melalui perang pemikiran. Allahu Akbar!!!

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Assalamu’alaykum…

Demi Masa

Kini

Statistik Blog

  • 8,598 hits

Arsip

%d blogger menyukai ini: