//
you're reading...
Denting Cinta

Berjuta Rindu Untukmu, Ibu

bagus ^^Berjuta Rindu Untukmu, Ibu

“Kapan Pulang?” Tanya Ibu di sebuah senja. Di seberang, celoteh anak-anak hampir saja membuat suara Ibu kian tenggelam tak terdengar.  Sedang di luaran, hujan tumpah ruah membasahi tanah. Rinainya menjuntai-juntai mengiringi kerinduan yang belum usai.

“Ini Lebaran yang keberapa?” Tanyaku pada diriku sendiri. Sebuah sajak bertajuk “10 Zulhijah” buah karya Muhammad Ibrahim Ilyas pun terpatri dalam memori. Hingga, aku bertekad untuk mengulasnya. Menuliskan segala kenangan indah semasa di bangku sekolah dasar yang menyeruak mendesak-desak ke sebuah bengkel puisi; “Seribu Rupiah yang Kurindu dari Ibu”.

Ini bukan perkara seberapa besar uang yang engkau berikan untukku, Ibu. Tak ternilai, kataku. Semua kasih sayangmu, perhatianmu, dan segala pengorbanan yang telah engkau berikan tak kan dapat ditimbang dengan sebuah nominal.  Sebesar apapun nilai uang itu. Ah, lagi-lagi, justru aku yang sering hitung-hitungan. Hingga, saat engkau bertanya, kapan aku pulang. Tidak libur, banyak agenda dan seabrek alasan sering aku lontarkan.  Pun Lebaran Idul Adha kemarin.

Ibu, betapa kuingat, saat engkau berat melepas kepergianku di pulau seberang ini. “Nanti kalau sakit bagaimana? Siapa yang akan mengurusi?” ujarmu khawatir sambil membelai rambutku yang menjuntai. Bahkan, engkau masih belum percaya, saat kubilang, “Lagi aksi di depan Istana Negara, Bu. Menolak kenaikan BBM”, ketika engkau menelepon dari handphone Abang kala itu. “Aduh.. Nanti kecapekan sakit bagaimana?” kudengar nada suara Ibu pun meninggi. Kekhawatiran menyeruak menembus batas-batas nisbi.

Aih, Ibu, betapa engkau yang telah mengajarkanku tentang makna kepedulian, kekuatan dan kesederhanaan? Aku sedang ingin mengikuti jejakmu, Ibu. Meski aku masih tertatih. Hidup ini hanya sementara, ujarmu. Pesanmu tak lekang oleh waktu. “Harta-benda dan segala kenikmatan yang kita miliki pada akhirnya akan sirna” tandasmu di sebuah senja.

Ibu, matahariku. Melalui surat ini, aku ingin bercerita. Pagi tadi, Senin 19 November 2012 aku kembali mengikuti aksi sebuah gerakan Islam di depan Kedutaan Amerika Serikat, Jakarta. Aksi mengutuk serangan Israel ke Jalur Gaza yang telah menewaskan puluhan bahkan ratusan korban luka yang di antaranya terdapat anak-anak, perempuan dan orang tua.

Aih, Ibu, aku jadi teringat tawuran antar pemuda di kampung tetangga dulu. Tawuran karena memperebutkan perempuan. “Wanita memang rawan menjadi korban,” tandasmu. Hingga, engkaupun mewanti-wanti supaya aku menjaga dan menyayangi diriku. Duh Ibu, ingin sekali aku menceritakan semua perjalanan yang kulalui. Seperti dulu, engkau selalu mendengarkan setiap kisah yang telah kuukir bersama hari yang telah kulewati.

Ibu, pintu surgaku. Ampuni putri manismu ini. Yang hingga kini, bahkan belum mampu memenuhi segala asa dan citamu. Ucapku; bedug berbunyi bertalu-talu/ talunya terdengar di pulau seberang// degub hati menahan rindu/ takut tak jumpa masa nan datang//. Berjuta rindu untukmu, Ibu.

Kota Hujan menderai rinai, 19112012

*diikutkan dalam perlombaan menulis surat untuk ibu di esensi. namun belum berhasil.. ^_^

Iklan

About Ayatifa

Muslimah yang di besarkan di sebuah dusun yang bernama Kuamang Kuning di pedalaman Jambi, aktivitas sehari-harinya lebih banyak 'bersembunyi'. Hijrah ke Bogor untuk memenuhi hasrat petualangan intelektualnya. Menyukai dunia politik khususnya yang berkaitan dengan perempuan, keluarga dan generasi. Lahir di Sragen, 20 Juni lebih dari seperempat abad lalu. ^_^ Saat ini sedang belajar menulis untuk mengekspresikan diri. Memperoleh pengalaman yang sangat berharga saat numpang tinggal bersama Dara Apipb di Asrama Putri Bogor hingga menghantarkannya kepada tiga pertanyaan mendasar, "Dari mana kita berasal? Untuk apa kita hidup di dunia? Dan hendak kemana kita setelah kematian? Terkesan dengan sebuah bait, "Islam akan bangkit dengan atau tanpa kita. Lalu, apakah kita termasuk ke dalam orang-orang yang diam saja atau ke dalam barisan orang-orang yang memperjuangkannya?? Padahal, Islam akan tetap bangkit dengan atau tanpa kita." Belajar melawan, melalui perang pemikiran. Allahu Akbar!!!

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Assalamu’alaykum…

Demi Masa

Kini

Statistik Blog

  • 8,598 hits

Arsip

%d blogger menyukai ini: