//
you're reading...
Esai Apresiatif

MEMETIK HUJAN DI CATATAN LEPAS EYANG

hjnMEMETIK HUJAN DI CATATAN LEPAS EYANG

“Apa yang kauinginkan dari puisi? Setulus apakah engkau mencintainya?

Malam itu, sepulang dari rumah teman, berjuta tanya berseliweran di kepala. Seorang teman menyebutkan beberapa judul buku karya penulis ternama. “Buku ini sudah kaubaca? Buku itu sudah kaubaca? Buku anu sudah kaubaca? Buku ia? Buku dia?” Dan saya hanya bisa menjawab dengan menggelengkan kepala bolak-balik, “Belum, belum, belum, belum ada yang saya baca dari buku-buku penulis terkenal itu.”

“Lalu, apa yang kauinginkan dari puisi?” Mengutip pernyataan Dimas Arika Mihardja dalam sebuah esainya yang saya baca di Bengkel Puisi Swadaya Mandiri (BPSM), “Puisi selalu menawarkan daya tarik berupa tawaran dunia fantasi yang diolah berdasarkan letupan diksi dan imajinasi.” Bagi saya, puisi adalah jenis tulisan yang bisa digunakan untuk menuangkan sebuah ide-pemikiran dengan bentuk yang berbeda dari artikel, esai atau jenis tulisan lainnya. Puisi tidak saja mengedepankan keindahan bahasa tapi juga harus mengandung makna yang dalam sehingga dapat dipetik pelajaran bagi siapa saja yang membacanya. Namun, puisi dengan diksi-diksi (pilihan kata) yang indah dan imajinasi yang kuat memang bisa menghantarkan pada simpulan yang beragam. Dan bilakah pembaca A berbeda dalam menafsiri sebuah puisi dengan pembaca B bahkan berbeda dengan penulisnya sekalipun. Saya hanya bisa turut mengatakan; ini bukanlah perkara benar atau salah. Tapi, puisi telah menjadi milik pembacanya, sehingga akan berkecenderungan untuk multi tafsir sesuai dengan maklumat-informasi terdahulu yang dimiliki seseorang.

Saya jadi teringat ketika saya bertanya kepada seorang kakak mengenai puisinya. Ia, justru menjawab dengan sebuah pertanyaan balik, “Mengapa kamu harus selalu diterang-jelaskan?” Aih, dan saya tampak seperti wartawan infotaimen yang mengulik narasumber dengan berbagai pertanyaan-pertanyaan menjurus dan privat. Duh, kenapa saya masih takut juga untuk membaca puisi dan berimajinasi? “Puisi bukanlah ayat suci, janganlah kautakut salah menafsiri,” ujar seorang teman yang lain. Aha, sungguh, saya harus benar-benar berdamai dengan diri saya sendiri. Puisi bukanlah tulisan jurnalistik yang harus mengandung unsur 5 W + 1 H (what, where, when, why, who, dan how). Puisi mempertaruhkan gaya pengungkapan, apapun temanya dengan tetap harus berimbang antara isi dan bungkus, jawab Abah melalui pesan singkat di suatu pagi.

“Melangkahlah sekali sebagai awalan. Langkah selanjutnya akan terasa ringan meski batuan terjal siap menghadang.” Meski belumlah sempurna, saya harus memberanikan diri melangkah. Dan ajang Indonesian Poetry Idol (IPI) di BPSM ini semoga bisa menjadi langkah awal saya untuk memulai mencintainya: puisi.

CATATAN LEPAS

Hujan yang, biasanya kau kenal, lembut dan santun itu berubah perangainya.

Sejak kemarin sore hingga pagi ini tingkahnya mengesalkanmu.

Tak sedetik pun waktumu berlalu tanpa kehadirannya.

13012013

Puisi yang terpilih dalam ajang Indonesian Poetry Idol (IPI) Januari 2013 ini adalah buah karya Yang Kung. Mekipun berjudul “CATATAN LEPAS” saya tidak bosan-bosan membacanya. Hujan yang telah saya petik tidak akan saya lepas begitu saja. Saya belum mengenal Yang Kung, karena memang warga BPSM yang saya kenal di dunia nyata pun baru sedikit. Dan karena keterbatasan diri, saya juga belum bisa membaca semua karya-karya di bengkel. Namun, meskipun baru kali ini saya membaca sajak Eyang. Menyebut “Eyang” membangkitkan kenangan masa kecil saya bersama Eyang Kakung. Sosok Eyang senantiasa mengingatkan saya pada kewibawaan, kematangan dan penghormatan. Anak-anak, menantu-menantu, cucu-cucu langsung datang mengadap bila Eyang yang memanggil.

Yang Kung (saya menyebut Eyang) dalam CATATAN LEPASnya bukanlah sekedar menulis catatan atau coretan yang selanjutnya dilepas-bebaskan atau bahkan terbuang karena tak lagi diperlukan. CATATAN LEPAS Eyang begitu lembut mengurai pesan yang tersimpan. Pilihan katanya tidak rumit, tidak juga berbunga-bunga namun tetap indah dan halus teruntai dalam satu kesatuan; judul, isi dan titimangsa. Meski tidak panjang, hanya menjuntai tiga larik dalam satu bait, tapi tetap menyimpan pesan yang tidak hanya sepenggal siang.

“Hujan yang, biasanya kau kenal, lembut dan santun itu berubah perangainya.” Pada larik pertama ini Eyang menyajikan sajaknya dengan kalimat yang sederhana. Meskipun demikian, puisi tetaplah karya tulis yang mempertaruhkan keindahan bahasa. Sehingga harus meletupkan imaji bagi siapa saja yang membacanya.

“Hujan,” saya artikan sebagai seorang wanita yang memiliki perangai lembut, santun dan mudah berurai airmata. “Hujan yang, (sudah) biasanya kau kenal. lembut dan santun itu, (kini telah) berubah perangainya. “kau kenal” yang apabila merujuk pada EYD, cara penulisan kata ganti ku-, -ku, dan kau- seharusnya disambung. “kau kenal” menjadi “kaukenal”. Namun, meskipun menggunakan kata ganti orang kedua yaitu engkau-kau, sepertinya Eyang hendak berbincang kepada siapa saja (pembaca) dan juga dengan dirinya sendiri yang diserupakan kepada orang lain dengan panggilan “kau”.

Selanjutnya larik kedua semakin memperjelas bahwa seseorang, bisa jadi Eyang Putri yang biasanya lembut dan santun itu, “Sejak kemarin sore hingga pagi ini tingkahnya mengesalkanmu.” Di usianya yang telah senja, termasuk seorang wanita yang konon memiliki akal 1 dan nafsu 9 seringkali memiliki kemauan atau keinginan yang tidak mudah dipahami atau dimengerti oleh laki-laki atau orang lain termasuk oleh Eyang Kakung sekalipun. Sehingga kondisi yang salah paham itu bisa menyebabkan uring-uringan yang berlangsung semalaman dan mengesalkan karena belum juga menemukan jawaban. Wanita sebenarnya sering bertanya-tanya, kenapa laki-laki tidak juga mengerti apa yang dimaui kaum hawa. Namun, rupanya laki-laki juga sering bertanya-tanya, apa sih maunya wanita?

Hingga pada kondisi yang tidak bertemu ini dapat menyebabkan kekesalan di kedua belah pihak. Padahal, bukankah seharusnya sudah saling mengenali? Karena “Tak sedetik pun waktumu berlalu tanpa kehadirannya.” Iya, seharusnya tidak perlu ada kekesalan karena ia selalu bersamamu dalam setiap waktu. Bukankah kehadirannya selama ini telah begitu bertarti dalam hidupnya? Lalu kenapa hanya dengan persoalan yang sepele itu telah membuat kesal?

Itulah, “hujan” yang saya tafsiri sebagai seorang wanita yang lembut, santun, dan mudah berurai air mata. Bukan, bukan karena kelemahannya ia berurai airmata tapi karena kelembutan dan ketulusannya.

Oiya, bilakah di atas saya mengatakan bahwa puisi adalah jenis tulisan yang bisa digunakan untuk menuangkan sebuah ide-pemikiran dengan bentuk yang berbeda dari artikel, esai atau jenis tulisan lainnya. Maka, dari CATATAN LEPAS Eyang tersebut saya juga ingin memetik pelajaran  lain. Sekaligus mendamaikan diri sendiri; bahwa puisi memungkinkan untuk banyak ditafsiri.

Memang, seringkali menemukan teks puisi yang tidak saja berisi pemikiran-pemikiran yang rumit, ditulis dengan diksi yang rumit bahkan dengan berbagai simbol yang tidak mudah dipahami. Menghadapi realita yang demikian, saya sebagai pembaca pemula bukan saja membutuhkan kaca pembesar, teropong bahkan mikroskop untuk menerawangnya. Tapi, berbagai alat bantu itu tidak akan berfungsi maksimal jika kita sebagai pembaca belum memiliki informasi atau pengetahuan apapun mengenainya. Pada akhirnya, seorang penyair harus mampu menentukan, kepada siapakah puisinya itu hendak ditujukan.

Taqiyuddin an-Nabhani (2003: 152) dalam bukunya Hakikat Berpikir menyatakan bahwa yang diperlukan untuk memahami teks sastra adalah dengan adanya cita rasa terdahulu. Sedangkan jalan untuk mewujudkan cita rasa adalah dengan banyak membaca teks-teks sastra. Dan lagi, pertanyaan; “Buku apa sajakah yang telah engkau baca?” kembali menari-nari di kepala.

Berikut ini, kembali saya tulis ulang sajak Eyang;

CATATAN LEPAS

Hujan yang, biasanya kau kenal, lembut dan santun itu berubah perangainya.

Sejak kemarin sore hingga pagi ini tingkahnya mengesalkanmu.

Tak sedetik pun waktumu berlalu tanpa kehadirannya.

13012013

Membaca kembali sajak  Eyang yang bertitimangsa 13 Januari 2013 di atas. Berbeda dengan sebelumnya yang saya menafsiri “Hujan” sebagai wanita. Kini, diiringi untaian gerimis ritmik, saya berusaha membaca “Hujan” pada kata pertama sajak Eyang tersebut dengan makna sebenarnya. Hujan sebagai peristiwa alam turunnya butir-butir air dari langit ke permukaan bumi. Di mana hujan juga merupakan siklus air di bumi.

“Hujan yang, biasanya kau kenal, lembut dan santun itu berubah perangainya.” Pemilihan kata ganti “kau” ini membuat pembaca seakan sedang diajak berbincang oleh Eyang secara langsung. Eyang berpesan dalam larik pembuka puisinya itu bahwa hujan yang, (tanda “koma” setelah kata “yang” adalah sebagai penegasan, menjelaskan keadaan “hujan”) yang sejatinya telah biasa  kau (pembaca dan semua manusia) kenali sebagai sesuatu yang lembut dan santun namun kini berubah perangainya.

Lembut dan santun di sini bisa menggambarkan keindahan, keceriaan dan kehalusan. Sebagaimana  hujan seringkali mengiringi keceriaan anak-anak bermain-main di halaman (keceh), dan bila bertemu cahaya matahari maka akan menampakkan selengkung warna pelangi yang begitu lembut dan memesona. Bahkan dalam adegan film-film percintaan (termasuk film India) hujan seringkali menjadi momen penting dalam sebuah adegannya. Dan hujan juga membawa berkah bagi setiap mahluk di muka bumi ini; tumbuh-tumbuhan, hewan, pun manusia sebagai mahluk yang paling sempurna.

Lalu bagaimana dengan perubahan perangai hujan? Iya, Eyang mengingatkan kita semua bahwa hujan yang lembut dan santun tadi bisa juga marah, menjadi sesuatu yang mengesalkan hingga bahkan menakutkan. Ketika hujan berpadu bersama angin dan halilintar dengan intensitas yang tinggi sungguh membuat suasana memang menjadi mencekam, menakutkan. Air hujan bisa menyapu apa saja yang ditemuinya, tak pandang bulu. Hal ini tampak diperjelas pada larik selanjutnya; “Sejak kemarin sore hingga pagi ini tingkahnya mengesalkanmu.” Larik ini menjelaskan sebuah keadaan bahwa hujan turun tak henti-hentinya, sejak kemarin sore hingga pagi hari bahkan bisa berlanjut pada hari-hari lainnya. “tingkahnya mengesalkanmu”, dikarenakan hujan tiada henti, berbagai aktivitas seringkali terhambat, kemacetan lalulintas di mana-mana, cucian berhari-hari tidak kering bahkan bisa menghantarkan pada tanah lonsor, banjir bandang dan bencana lainnya.

“Tak sedetik pun waktumu berlalu tanpa kehadirannya.” Pada larik ketiga sekaligus sebagai penutup ini, Eyang menegur secara lembut. Bahwa, kita semua tak sedetik pun waktu berlalu tanpa kehadirannya; hujan. Selama bumi masih berputar, maka hujan akan senantiasa mengiringi kehidupan. Tapi, bukankah kita sebagai manusia seharusnya sudah paham bagaimana sifat (air) hujan? Dan bagaimana dampak yang akan ditimbulkannya? Sehingga bila manusia benar-benar telah mengenalinya, maka segala perubahan perangai hujan seharusnya bisa terselesaikan. Karena sejatinya manusia itu sendirilah yang telah membuat hujan menjadi tak dikenalinya. Eyang mengingatkan kita bahwa keseimbangan alam tergantung pada tangan-tangan manusia itu sendiri.

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (TQS. Al-Baqarah : 164)

Demikianlah apresiasi sederhana saya. Memetik hujan di catatan lepas Eyang ini, semoga menjadi langkah awal saya untuk mencintainya. Mencintai puisi, yang saya seringkali masih gelap terhadapnya. “Hingga, setulus apakah engkau mencintainya?”

Kota Hujan, 23.01.2013

Iklan

About Ayatifa

Muslimah yang di besarkan di sebuah dusun yang bernama Kuamang Kuning di pedalaman Jambi, aktivitas sehari-harinya lebih banyak 'bersembunyi'. Hijrah ke Bogor untuk memenuhi hasrat petualangan intelektualnya. Menyukai dunia politik khususnya yang berkaitan dengan perempuan, keluarga dan generasi. Lahir di Sragen, 20 Juni lebih dari seperempat abad lalu. ^_^ Saat ini sedang belajar menulis untuk mengekspresikan diri. Memperoleh pengalaman yang sangat berharga saat numpang tinggal bersama Dara Apipb di Asrama Putri Bogor hingga menghantarkannya kepada tiga pertanyaan mendasar, "Dari mana kita berasal? Untuk apa kita hidup di dunia? Dan hendak kemana kita setelah kematian? Terkesan dengan sebuah bait, "Islam akan bangkit dengan atau tanpa kita. Lalu, apakah kita termasuk ke dalam orang-orang yang diam saja atau ke dalam barisan orang-orang yang memperjuangkannya?? Padahal, Islam akan tetap bangkit dengan atau tanpa kita." Belajar melawan, melalui perang pemikiran. Allahu Akbar!!!

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Assalamu’alaykum…

Demi Masa

Kini

Statistik Blog

  • 9,150 hits

Arsip

%d blogger menyukai ini: