//
you're reading...
Esai Apresiatif

Mencari Maklumat Yang Tertinggal Di 10 Zulhijah

Mencari Maklumat Yang Tertinggal Di 10 Zulhijah (Seribu Rupiah yang Kurindu dari Ibu)

Ahai, bilakah ada yang mengatakan bahwa masa anak-anak adalah masa yang indah. Maka, saya ingin katakan bahwa; saya pribadi bahkan ingin mengulangnya kembali. Tapi, keinginan saya itu tentu tidaklah mungkin terwujud. Kecuali hanya dengan memandangi potret diri, mengingat-ingat dan mengenangnya dalam berbagai bentuk dan refleksi.

Seusai membaca puisi bertajuk 10 Zulhijah buah karya MII yang ternyata setelah saya telusuri adalah Muhammad Ibrahim Ilyas. Sungguh, telah mengurai kembali kenangan indah saya semasa duduk di bangku sekolah dasar. Malamnya gema takbir membahana. Di surau yang hanya sekali lompat dari teras rumah, teman-teman telah berkumpul dengan peralatannya. Galon, panci, gitar, kincringan terpegang erat di tangan mereka. Masing-masing grup unjuk kebolehan. Melantunkan takbir berganti-gantian hingga fajar datang menjelang. Aduhai betapa riangnya malam.

Seusai melaksanakan shalat Idul Adha. Bapak membagi-bagikan uang receh kapada teman-teman grup takbiran. Barangkali Bapak akan bilang; “Ini honor konser semalaman”. Ah, dan saya selalu tak mendapat bagian. Maka libur sekolah Idul Adha akan kami habiskan untuk bermain kasti di tanah lapang. Bila lapar telah menyerang, kami serbu soto ayam Ibu yang ayamnya setiap hari saya beri makan.

Tidak hanya libur sekolah. Lebaran juga bisa saya jadikan alasan untuk mengambil cuti membantu Ibu membereskan rumah. Seharian bermain kasti, gobaksodor dan permainan lain hingga kantuk datang tak tertahankan. Semua terkulai, tertidur beramai-ramai di surau.

“Ini hadiah dari Ibu,” Ibu menyodorkan uang logam seribu rupiah bergambar burung garuda di satu sisi dan pohon kelapa sawit di sisi yang lainnya. Wuahh.. Mata saya langsung berbinar-binar melihatnya. Tak menunggu lama, uang logam pun telah berpindah tangan.

Saya timang-timang dan  amat-amati. Otak saya pun langsung berputar. Memikirkan untuk apa uang akan  saya gunakan. Bila jajan di sekolah sehari seratus rupiah maka uang seribu akan  saya habisan dalam sepuluh hari. Aduh, sayang sekali. Jarang-jarang kan mendapatkan hadiah seribu rupiah kecuali di hari istimewa. Saya kian gelisah.

Ahai, Lebaran selanjutnya, rupanya saya mendapat hadiah uang seribu lagi dari Ibu. Hingga terburai tanya; “Kenapa Lebaran tidak terus-terusan?” pikir saya sambil termenung di bawah pohon kedondong yang tumbuh di halaman rumah.

Duh, rindu saya pun kini kian membuncah. Lho, bukankah seharusnya saya menulis sebuah esai yang mengulas puisi tersebut? Bukan malah bercerita kenangan masa lalu. Tapi, dengan jujur harus saya katakan. Setelah membaca tajuk puisi tersebut saya langsung teringat; uang seribu dari Ibu.

Sebenarnya saya masih kebingungan juga bagaimana menulis esai yang baik. Teman bilang, “Puisi bukanlah ayat suci. Jangan takut keliru.” Dan tulisan ini adalah tulisan perdana saya dengan niatan mau menulis esai dari sebuah puisi. Meskipun hasilnya masih jauh dari harapan.

Dalam buku Hakikat Berfikir, Taqiyuddin an-Nabhani menjelaskan empat komponen yang terlibat dalam proses berfikir. Pertama, fakta atau realitas, yaitu sesuatu yang berada dalam jangkauan penginderaan manusia. Kedua, panca indera, meliputi indera penglihatan, pendengaran, perasa, penciuman dan indera peraba. Ketiga, otak yang sehat. Dan keempat adalah informasi terdahulu atau pengetahuan awal mengenai sesuatu hal.

Aduhai, sehari saja saya tak mengunjungi BPSM, berpuluh puisi telah mengantri untuk dinikmati.  Dan lagi-lagi, saya masih sering kegelapan, membaca tanpa bisa memahaminya. Indah memang, tapi tak juga saya mengerti. Lalu di mana letak permasalahannya? Iya, bilakah puisi saya ibaratkan sebuah hidangan. Ia telah terhidang dengan indah nan menggoda, tercerap ke dalam otak melalui berbagai indera. Tapi karena saya belum memiliki pengetahuan yang memadai tentang hidangan tersebut. Akhirya saya belum bisa menyingkap apa saja yang terkandung di dalamnya. Baru sebatas memandang dan tergoda dengan segala keindahannya. Menikmati tanpa memahami. Bukankah saya harus mencari maklumat yang masih tertinggal itu? Sungguh. Pun ketika saya menyukai puisi bertajuk 10 Zulhijah buah karya MII ini;

10 ZULHIJAH

jauh dari arafah, ziarah waktu mendaras langit, sejak subuh sampai senja berpamit. tubuh rindu menuai sumpah, rusuh membusur jejak panah sejarah

wahai ibrahim, ismail kecil mengubur gigil takwil. mimpimu menetap di cakrawala, merentang ruas luas ikhlas dan rela, padang pengorbananku haus dahaga.

20121 (seharusnya 2012)

~mii~

Zulhijah, ia adalah bulan terakhir dalam penanggalan Hijriyah. Di mana dalam penanggalan Hijriyah ini, jumlah hari dalam setiap bulannya hanyalah 29 atau 30 hari. Senja (Magrib) adalah pertanda bahwa hari baru telah dimulai. Tanggal 10 pada bulan Zulhijah merupakan hari raya umat Muslim yang setiap tahun senantiasa dirayakan oleh kaum Muslimin di mana pun berada. Hari raya ini ada yang mengenalnya dengan Idul Adha, Idul Kurban, Lebaran Haji, Besaran dan bahkan bisa jadi masih banyak lagi sebutan yang belum saya ketahui.

Dalam kisah disebutkan, Ibrahim mengunjungi Mekah sebanyak lima kali. Pertama saat mengantar Hajar dan kala itu Ismail masih bayi. Ibrahim meninggalkan mereka berdua  di lembah yang tandus. Kedua, sebelum perintah penyembelihan Ismail melalui mimpi, hingga pelaksanaannya. Dan kunjungan ketiga, Ibrahim tidak bertemu Ismail, Ibrahim berpesan melalui istrinya untuk mengganti palang pintu. Pun pada kunjungannya yang keempat, Ibrahim juga tidak bertemu Ismail. Beliau pun berpesan memalui istri Ismail, agar Ismail mempertahankan palang pintunya.  Hingga pada kunjungan yang kelima Ibrahim membangun Ka’bah bersama Ismail sebagaimana yang telah diperintahkan Allah kepadanya. Kemudian diberi petunjuk batas-batas tanah Haram dan juga bagaimana tuntunan ibadah Haji oleh Malaikat Jibril.

Bersama Ismail, Ibrahim memasang tanda-tanda batas tanah Haram atas petunjuk Jibril. Hingga, ketika berjalan di sebuah padang, Jibril hendak memberitahu sebuah batas. Namun rupanya Ibrahim telah mengetahuinya, “Arafah” ujar Ibrahim, yang dalam bahasa Arab berarti “sudah mengetahui”. Kini, setelah berabad-abad lamanya, setiap tanggal 9 Zulhijah, padang Arafah  telah menjadi tempat berkumpulnya kaum Muslimin dari segala penjuru untuk memenuhi seruanNya.  Bagi saya, puisi bertajuk 10 Zulhijah yang diunggah MII di BPSM ini momennya sangat pas. Bertepatan dengan hari raya Idul Adha (10 Zulhijah).

Sejatinya, peristiwa  Idul Adha memang tidak bisa dipisahkan dari keluarga Ibrahim Alayhissaalam. Di mana, Idul Adha merupakan momen peringatan pengorbanan dan ketaatan keluarga Ibrahim terhadap perintah Allah untuk menyembelih puteranya, Ismail.  Sebagaimana tertuang pada bait kedua; wahai ibrahim, ismail kecil mengubur gigil takwil. mimpimu menetap di cakrawala, merentang ruas luas ikhlas dan rela, padang pengorbananku haus dahaga.

Perintah ini tentu sangat berat.  Baginya, Ismail tentu bukan hanya seorang anak biasa. Ismail adalah buah hati, harapan dan kecintaannya yang sudah lama dirindukan dan dimohonkan oleh Ibrahim dan isterinya Hajar. Hingga, tatkala usia Ibrahim sudah mulai senja, Ismail baru lahir dari rahim istri beliau, Hajar.

Sungguh, begitu bahagia keluarga ini menerima karunia Allah yang sangat dirindukan dan diidam-idamkannya.  Namun, ketika Ismail mulai tumbuh berkembang sebagai seorang anak, turunlah sebuah perintah Allah supaya Nabi Ibrahim menyembelih putra yang didambanya itu.

“Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, Ibrahim berkata, ‘Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu’” (TQS, Ash-Shaffat [37] : 102)

Betapa ini adalah ujian ketaatan seorang hamba terhadap perintah Tuhannya?  Dan keluarga Nabi Ibrahim mampu melewati ujian ini.  Allah pun membalas ketaatan ini dengan digantinya Ismail dengan seekor domba. Penyembelihan kurban dan ibadah haji inilah yang pada akhirnya disyariatkan kepada Rasulullah Muhammad SAW untuk dilakukan oleh umat Islam. Meskipun dalam puisi ini tidak digambarkan perjuangan Hajar berlarilari dari Marwah ke Shafa. Namun, puisi karya MII di atas telah mengetuk hati kita untuk mengambil pelajaran dari sebuah ketaatan, konsekuensi dari keimanan kita. Jadi, selayaknyalah bahwa keluarga Nabi Ibrahim AS merupakan contoh keluarga yang diliputi oleh totalitas ketaatan atas perintah Allah SWT.

Mari kita jujur, bagaimanakah sikap kita saat ini? Apakah kita telah memiliki ketaatan total kepada Allah dan RasulNya? Sebagaimana Keluarga Ibrahim? Sudahkah kita menaati Allah dan RasulNya dalam setiap perintah dan laranganNya? Sudahkah kita menerapkan seluruh aturan Allah dan RasulNya dalam seluruh aspek kehidupan kita?

Sesungguhnya, siapakah yang lebih kita cintai, Allah atau “Ismail”? Siapakah yang lebih kita sayangi, Allah atau diri kita sendiri? Siapakah yang lebih kita takuti, Allah atau atasan? Siapakah yang lebih kita turuti, hawa nafsu kita ataukah perintah Allah? Ismail yang masih belia begitu tulus ikhlas tunduk dengan perintah Allah, lalu di manakah kita? Sudahkah kita berkurban sebenar-benarnya kurban?

Ketika Allah memerintahkan kita shalat, kita segera melaksanakannya. Ketika Allah memerintahkan kita berpuasa, kita juga segera melaksanakannya. Ketika Allah memerintahkan kita haji dan berkurban, kita berupaya untuk melaksanakknya. Pun ketika kita dilarang memakan babi dan meminum khamr kita pun segera meninggalkannya.

Lalu, mengapa ketika Allah memerintahkan kita untuk meninggalkan riba, kita enggan? Ketika Allah memerintahkan kita untuk menerapkan hukum dan aturanNya, kemudian kita abai? Kinilah saatnya kita berkurban. Mengurbankan segala apa yang kita punya. Tidak hanya berhenti pada penyembelihan kambing, sapi, atau unta. Namun pengorbanan harta, waktu, jiwa dan raga kita demi tegaknya agamaNya yang mulia. Mari kurbankanlah “Ismail” kita.

“Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu.” (TQS. Al-Hajj [22] : 37)

Pada akhirnya, “Ini Lebaran yang keberapa?” Aih, masa cepat nian berlalu. Tak terasa, waktu yang dijanjikan pun hampir berujung temu.

bedug berbunyi bertalu-talu. talunya terdengar di pulau seberang

degub hati menahan rindu. takut tak jumpa masa nan datang

sendiri menikmati rinai yang menjuntai-juntai mengiringi kerinduan yang belum usai,

kota hujan, 12112012

Iklan

About Ayatifa

Muslimah yang di besarkan di sebuah dusun yang bernama Kuamang Kuning di pedalaman Jambi, aktivitas sehari-harinya lebih banyak 'bersembunyi'. Hijrah ke Bogor untuk memenuhi hasrat petualangan intelektualnya. Menyukai dunia politik khususnya yang berkaitan dengan perempuan, keluarga dan generasi. Lahir di Sragen, 20 Juni lebih dari seperempat abad lalu. ^_^ Saat ini sedang belajar menulis untuk mengekspresikan diri. Memperoleh pengalaman yang sangat berharga saat numpang tinggal bersama Dara Apipb di Asrama Putri Bogor hingga menghantarkannya kepada tiga pertanyaan mendasar, "Dari mana kita berasal? Untuk apa kita hidup di dunia? Dan hendak kemana kita setelah kematian? Terkesan dengan sebuah bait, "Islam akan bangkit dengan atau tanpa kita. Lalu, apakah kita termasuk ke dalam orang-orang yang diam saja atau ke dalam barisan orang-orang yang memperjuangkannya?? Padahal, Islam akan tetap bangkit dengan atau tanpa kita." Belajar melawan, melalui perang pemikiran. Allahu Akbar!!!

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Assalamu’alaykum…

Demi Masa

Kini

Statistik Blog

  • 9,150 hits

Arsip

%d blogger menyukai ini: