//
you're reading...
Opini

Menguntai Kata Menebar Cinta

hati-muslimah-580x402Menguntai Kata Menebar Cinta

Krisis  multidimensi kini telah mengepung masyarakat kita. Mulai dari tatanan ekonomi kapitalistik yang hanya berpihak pada pengusaha dan pemilik modal, perilaku politik oportunis yang sarat kepentingan. Budaya hedonistik, sikap sosial egoistik dan individualistik, sikap beragama yang sinkretistik, dan paradigma pendidikan yang berasas materialistik.

Kini, sesungguhnya masyarakat benar-benar di ambang kehancuran. Manusia sulit untuk mendapatkan kebahagiaan dan kesejahteraan. Mirisnya, bila kerusakan parah ini tidak segera menemukan solusi, maka sejarah peradaban manusia tinggal menghitung hari. Lalu, di mana posisi manusia sekarang?

Dalam pelajaran sosiologi SMA, dikatakan bahwa manusia adalah mahluk sosial yang membutuhkan manusia lain dalam mengarungi kehidupannya. Manusia akan berinteraksi dengan sesamanya melalui media apapun dan bahasa yang beraneka ragam.

Dan melihat masa kini, dengan perkembangan teknologi yang begitu pesat memang membuat manusia di belahan bumi manapun bisa terhubung. Tapi selain dampak positif itu, menurut penulis juga ada semacam habit yang menjadikan manusia sibuk memerhatikan laptop, tablet atau ponselnya dan tidak peduli dengan kondisi di sekitarnya.

Iya sepertinya interaksi secara langsung menjadi berkurang. Misalnya berbelanja. Kini manusia tidak lagi harus ke pasar untuk memperoleh barang yang dibutuhkan, tapi cukup dengan membelinya lewat media online. Bahkan tidak hanya itu, mencari jodoh, berdiskusi, sampai yang serius sekalipun yaitu kampanye politik, bisa melalui media ini.

Lalu, mengapa penulis menyinggung mengenai media online dan peranannya dalam interaksi manusia masa kini? Iya, karena hal itu populer beberapa tahun terakhir dan bila dihubungkan dengan kebobrokan umat yang kini telah merajalela sebagaimana yang telah penulis singgung di atas. Ia, media online itu juga mempunyai andil di dalamnya. Ia menjadi salah satu pintu masuknya berbagai pemikiran ke benak-benak kita, manusia. Dan bila ada pertanyaan; di mana posisi manusia, dan apa yang bisa diberikan? Kita bisa mengatakan padanya; kita (manusia) punya cinta dan kata.

Definisi Kita, Kata dan Cinta

Manusia (kita) adalah mahluk yang paling sempurna. Kita dianugrahi akal oleh Sang Maha Pencipta. Sehingga karena keberadaan akallah kita (manusia) berbeda dengan mahluk lainnya. Dan dengan akal itu pula, kita seharusnya mampu memikirkan keberadaan manusia, kehidupan, alam semesta beserta isinya sebagai tanda-tanda untuk menuju yang satu yaitu kebenaran yang hakiki.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal.” (TQS. Ali Imran [3] : 190)

Menurut KBBI, Kita adalah pronomina persona pertama jamak, yang berbicara bersama dengan orang lain termasuk yang diajak bicara. Kita juga bisa menunjukkan kesatuan perasaan antara kita: fungsi ideologi membangun sikap; dan sifat mementingkan kebersamaan dalam menanggung suka duka (saling membantu, saling menolong, dsb).

Sehingga menurut penulis dalam esai ini. Kita bukan saja sebagai pelaku yang harus saling tolong menolong dan berkasih sayang dalam melakukan perbaikan. Tapi, Kita juga sebagai objek yang harus rela untuk berubah, yaitu kita semua sebagai manusia sempurna.

Sedangkan definisi Kata, masih merujuk dari KBBI: 1 adalah unsur bahasa yang diucapkan atau dituliskan yang merupakan perwujudan kesatuan perasaan dan pikiran yang dapat digunakan dalam berbahasa; 2 ujar; bicara; 3 Ling a morfem atau kombinasi morfem yang oleh bahasawan dianggap sebagai satuan terkecil yang dapat diujarkan sebagai bentuk yang bebas; b satuan bahasa yang dapat berdiri sendiri, terjadi dari morfem tunggal (misal batu, rumah, datang) atau gabungan morfem (misal pancasila, mahakuasa). Dan Kata juga bisa berarti ujar-ujar (kata-kata kias, peribahasa, dsb).

Dengan demikian penulis berkesimpulan, Kata adalah sesuatu yang penting dan tak terpisahkan dalam kehidupan kita (manusia). Sehingga kita sebagai manusia  bisa saling berkomunikasi, berdiskusi menyampaikan berbagai pemikiran dan perasaan di berbagai waktu dan tempat. Baik secara lisan maupun tulisan.

Sementara kata Cinta, mengutip dari KBBI: 1 suka sekali; sayang benar: orang tuaku cukup – kepada kami semua; — kepada sesama makhluk; 2 kasih sekali; terpikat (antara laki-laki dan perempuan): sebenarnya dia tidak — kepada lelaki itu, tetapi hanya menginginkan hartanya; 3 ingin sekali; berharap sekali; rindu: makin ditindas makin terasa betapa — nya akan kemerdekaan; 4 kl susah hati (khawatir); risau: tiada terperikan lagi — nya ditinggalkan ayahnya itu; dan masih banyak yang lainnya.

Merujuk dari KBBI itu, penulis menyimpulkan, Cinta tidak saja berarti suka, kasih, ingin antara laki-laki dan perempuan semata tapi juga kepada sesama mahluk. Dan sungguh luar biasa, bila kita bertanya ke beberapa orang arti Cinta ini, maka kita akan memperoleh jawaban yang sangat beragam.

Dengan demikian dari ketiga kata ini, Kita, Kata dan Cinta. Penulis berpikir bahwa ketiganya merupakan sesuatu yang unik yang saling berhubungan antara satu dengan yang lainnya. Kita adalah manusia yang akan menebarkan cinta lewat kata.

Memaknai Cinta

Cinta memiliki beragam definisi. Setiap orang dengan kepala yang berbeda akan mendefinisikan cinta sesuai dengan apa yang telah menjadi pemahamannya. Seorang muslim yang menjadikan Islam sebagai landasan dan tujuan hidupnya akan berbeda dengan orang kafir dalam memakanai cinta.  Dalam Islam cinta tertinggi harus ditujukan kepada Allah dan RasulNya. Cinta dan bencinya seorang Muslim terhadap manusia lain pun haruslah karena Allah semata.

Sebagaimana hadis dari Anas ra, sesungguhnya Rasulullah saw bersabda:

“Ada tiga perkara, siapa saja yang memilikinya ia telah menemukan manisnya iman. Yaitu orang yang mencintai Allah dan RasulNya lebih dari yang lainnya, orang yang mencintai seseorang hanya karena Allah, dan orang yang tidak suka kembali kepada kekufuran sebagaimana ia tidak suka dilemparkan ke dalam neraka.” (Mutafaq’alaih).

Dalam hadis yang lain dari Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Muslim, Rasulullah  saw bersabda:

“Sesengguhnya kelak di hari kiamat Allah akan berfirman, ‘Di mana orang-orang yang saling mencintai karena keagunganKu? Pada hari ini Aku akan memberikan naungan kepadanya dalam naunganKu disaat tidak ada naungan kecuali naunganKu’. (HR. Muslim).

Menyimak dari hadis-hadis di atas. Sungguh, kita akan menemukan keteladanan yang agung yang terdapat pada diri orang-orang terdahulu. Mereka begitu mulia dalam memaknai cinta. Betapa berbedanya dengan generasi sekarang yang hidup dalam kungkungan sistem kapitalistik sekuler, sehingga memaknai cintanya pun sebatas pada kepentingan dan hawa nafsu belaka.

Bagaimana Nabi Ibrahim, demi cintanya kepada Allah rela untuk menyembelih Ismail, putra yang amat diharap dan diidam-idamkannya, yang pada akhirnya diganti Allah dengan domba.

Pun Salman Al Farisi, shahabat Rasul otak strategi perang parit. Ridha memberikan semua tabungannya kepada Abu Darda, shahabat yang saat itu mengantarnya untuk meminang seorang wanita tapi wanita pujaan Salman itu justru menolaknya dan memilih Abu Darda, pengantarnya. Juga kisah shahabiyah Ummu Imarah, demi cintanya kepada Allah dan Rasulnya, begitu tulus mengantarkan anak-anaknya ke medan jihad hingga menemu syahid. Dan masih banyak lagi kisah-kisah lainnya.

Sungguh, sejatinya, cinta adalah fitrah. Setiap manusia akan memiliki rasa cinta, kasih sayang, ingin memiliki, lemah lembut, rindu dan sejenisnya. Cinta juga merupakan manivietasi dari penampakan gharizah nau’ (naluri untuk mempertahankan jenis).

Dalam buku Mafahim Islamiyah, Muhammad Husain Abdullah memaparkan bahwa naluri adalah potensi alami yang ada pada diri manusia untuk menjaga dan melestarikan kelangsungan hidupnya, untuk menjaga spesiesnya, dan agar mendapat petunjuk mengenai adanya al-Khalik (Al Izzah: 2003). Salah satunya adalah gharizatun nau’ (naluri untuk mempertahankan jenis) yang diantara penampakannya bisa berupa rasa cinta dan kasih sayang.

Sebagaimana halnya saat penulis menanyakan ke beberapa orang dekat. Penulis menemukan beberapa jawaban mengenai cinta ini. Ada yang mengatakan bahwa cinta adalah kasih sayang ibu kepada anaknya yang tak pernah putus sepanjang masa. Cinta adalah universal yang tidak hanya bermakna hubungan laki-laki perempuan, tapi cinta kepada semuanya. Bahkan, juga ada yang tidak berkenan untuk menjelaskan makna cinta. “Cinta itu subjektif dan beberapa kali orang bertanya kepadaku tak pernah sekalipun aku memberi penjelasan,” ujarnya.

Melihat kondisi masyarakat yang semakin memprihatinkan ini. Penulis berkesimpulan bahwa cinta memang bukan sebatas hubungan pria-wanita, yang bahkan dunia pun menjadi miliknya berdua sedang yang lain mengontrak. Tapi, cinta hakiki adalah cinta yang lahir karena kecintaanya kepada Allah semata dan untuk memperoleh ridhaNya.

Sehingga, saat seorang mengingatkan saudaranya untuk shalat, menutup aurat, menjauhi zina, tidak korupsi, perlunya diterapkan hukum potong tangan dan razam bagi pencuri dan pezina serta hanya berhukum pada aturan yang diturunkah Allah semata, adalah bukti cinta kita terhadap sesama.

Sungguh, kepada pemimpin negeri-negeri Muslim di manapun berada. Kemaksiatan terbesar  saat ini adalah tidak diterapkannya Al-quran dan Sunnah sebagai perundang-undangan yang mengatur kehidupan manusia. Sehingga berbagai kemaksiatan yang kini merajalela tidak pernah tuntas.

Untuk itu, bila Anda mencintai rakyat kalian sebagaimana Rasul yang begitu cinta terhadap ummatnya. Bahkan tiada kata yang terucap selain; ummati, ummati, ummati menjelang kepulangan menemu Rabbnya. Sungguh, kembalilah kepada Tuhanmu yang menciptakan. Campakkan sistem kapitalis kufur dan ganti dengan sistem Islam. Sehingga krisis multi dimensi mulai dari tatanan ekonomi kapitalistik sampai pendidikan yang berbasis materialistik yang saat ini menimpa manusia dapat teratasi. Pun kerusakan dunia beserta isinya karena ulah manusia akan terselesaikan.  Sungguh, Kita adalah manusia yang bisa menebarkan cinta lewat kata.[]

Kota Hujan, 10 Februari 2013

dimuat di islampos.com : http://islampos.com/menguntai-kata-menebar-cinta-43113/

Iklan

About Ayatifa

Muslimah yang di besarkan di sebuah dusun yang bernama Kuamang Kuning di pedalaman Jambi, aktivitas sehari-harinya lebih banyak 'bersembunyi'. Hijrah ke Bogor untuk memenuhi hasrat petualangan intelektualnya. Menyukai dunia politik khususnya yang berkaitan dengan perempuan, keluarga dan generasi. Lahir di Sragen, 20 Juni lebih dari seperempat abad lalu. ^_^ Saat ini sedang belajar menulis untuk mengekspresikan diri. Memperoleh pengalaman yang sangat berharga saat numpang tinggal bersama Dara Apipb di Asrama Putri Bogor hingga menghantarkannya kepada tiga pertanyaan mendasar, "Dari mana kita berasal? Untuk apa kita hidup di dunia? Dan hendak kemana kita setelah kematian? Terkesan dengan sebuah bait, "Islam akan bangkit dengan atau tanpa kita. Lalu, apakah kita termasuk ke dalam orang-orang yang diam saja atau ke dalam barisan orang-orang yang memperjuangkannya?? Padahal, Islam akan tetap bangkit dengan atau tanpa kita." Belajar melawan, melalui perang pemikiran. Allahu Akbar!!!

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Assalamu’alaykum…

Demi Masa

Kini

Statistik Blog

  • 8,598 hits

Arsip

%d blogger menyukai ini: