//
you're reading...
Cerpen

Ninis vs Abang

artikelsalahposting.blogspot.comNinis vs Abang

Ninis duduk tepat di belakang sopir. Badannya terguncang-guncang. Jalanan lintas timur Sumatera yang rusak parah membuat bus yang mengantarkannya ke Jawa bergoyang-goyang. Tatapannya kosong, pikirannyapun melayang ke beberapa hari lalu.

Malam Ahad Ninis sendirian di Simpang Kuamang, 30 menit sudah berlalu dari jadwal yang telah disepakati. Hatinya gusar, ditekan ponselnya dengan nama Abang. Berulangkali tak jua ada jawaban. Satu jam berlalu sudah, Ninis semakin ketakutan. Ia baru saja datang dari Semarang. Mudik karena Abangnya akan melangsungkan pernikahan.

“Laki-laki kalau sudah menikah biasanya akan lupa dengan saudaranya. Sibuk dengan keluarga barunya,” perkataan Yuk Mar tetangga kostnya kembali terngiang.

Hiks. Belum nikah saja janji menjemput tak ditepati. Gimana kalau dah menikah. Batin Ninis mulai membenarkan perkataan Yuk Mar.

Sejak kejadian malam itu. Ninis benar-benar mulai kehilangan Abang. Seminggu di rumah tak pernah bercakap-cakap sedikitpun dengan Abangnya. Kaku seperti kepada orang yang belum pernah kenal.

Setiap makan bersama keluarga besar, Abang dan istrinya selalu memisahkan diri. Ninis mulai sedih, kesal dan marah bercampur aduk menjadi satu. Kenapa harus memisah-misahkan diri gitu. Bahkan saat Ninis akan kembali ke Semarang, Abang tidak menyapanya sedikitpun. Apalagi mengantarnya seperti hari-hari lalu.

Tetet.. Tetet.. Ponsel Ninis bergetar, sebuah pesan singkat masuk membuyarkan lamunannya.

“Dek Ninis, maafkan Abang. Sejak Ninis datang, Abang bingung gimana mau mengajak bicara. Ada apa denganmu, Dek? Abang telah kehilanganmu”

Tiba-tiba mata Ninis menganak-sungai. Ia tak kuasa membendung gejolak hatinya. Ninis cemburu Abang, katanya dalam diam.

Kota Hujan, 13.02.2013

 

Iklan

About Ayatifa

Muslimah yang di besarkan di sebuah dusun yang bernama Kuamang Kuning di pedalaman Jambi, aktivitas sehari-harinya lebih banyak 'bersembunyi'. Hijrah ke Bogor untuk memenuhi hasrat petualangan intelektualnya. Menyukai dunia politik khususnya yang berkaitan dengan perempuan, keluarga dan generasi. Lahir di Sragen, 20 Juni lebih dari seperempat abad lalu. ^_^ Saat ini sedang belajar menulis untuk mengekspresikan diri. Memperoleh pengalaman yang sangat berharga saat numpang tinggal bersama Dara Apipb di Asrama Putri Bogor hingga menghantarkannya kepada tiga pertanyaan mendasar, "Dari mana kita berasal? Untuk apa kita hidup di dunia? Dan hendak kemana kita setelah kematian? Terkesan dengan sebuah bait, "Islam akan bangkit dengan atau tanpa kita. Lalu, apakah kita termasuk ke dalam orang-orang yang diam saja atau ke dalam barisan orang-orang yang memperjuangkannya?? Padahal, Islam akan tetap bangkit dengan atau tanpa kita." Belajar melawan, melalui perang pemikiran. Allahu Akbar!!!

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Assalamu’alaykum…

Demi Masa

Kini

Statistik Blog

  • 9,150 hits

Arsip

%d blogger menyukai ini: