//
you're reading...
Cerpen

Teganya Kaujual Aku, Fhi!

indexTeganya Kaujual Aku, Fhi!

Brakkkk!!! Aduh, tergores sudah hidungku. Sekejap. Tiba-tiba pelajar berseragam putih abu-abu itu telah berhenti tepat di depanku. Wajahnya pucat, mungkin karena kaget. Untung saja dia tidak terluka, hanya selebor belakang motornya yang patah akibat ciuman mautku. Barangkali karena merasa bersalah memotong jalan tanpa memberi tanda. Kulihat pelajar itu pun berkali-kali meminta maaf kepada Fhi sambil menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dadanya.

Kulirik Fhi dari sudut ekor mataku. Datar, tanpa ekpresi, kemudian sedikit menganggukkan kepala tanda Fhi telah memaafkannya. Duh, Fhi hanya melirik lukaku sekilas, lalu memintaku untuk melanjutkan perjalanan. Sebenarnya ingin sekali aku merajuk, “Fhi, hidungku sakit”, ah, tapi aku tak tega mengungkapkannya.

***

Namaku Kiki. Aku yatim piatu. Aku dan Fhi seumuran. Tepatnya, Fhi lebih muda  tujuh bulan dariku. Dulu, saat Fhi kelas dua di Sekolah Dasar Islam Terpadu di kota Solo, ayah Fhi mengajakku tinggal bersama keluarga beliau. Sejak itulah aku selalu bersama Fhi dan keluarganya.

Nah, ketika Fhi diterima kuliah di sebuah universitas di Bogor lima tahun lalu. Aku-lah yang diutus ayah untuk menemani Fhi dalam setiap aktivitasya. Yup, aku telah berjanji pada ayah, juga diriku sendiri, akan melindungi Fhi.

Pernah, suatu hari aku sakit, Fhi pergi tanpaku. Naik KRL ke Jakarta. Dan pulangnya Fhi kecopetan. Ketika ayah mendengar kabar tetang sakitku, beliau pun langsung datang ke Bogor dan membawaku pulang ke Solo untuk berobat ke dokter langgannya. Sejak itu, aku tak berani membiarkan Fhi pergi sendirian lagi. Aku tahu, Fhi putri kesayangan ayah. Sungguh, bila ayah tahu, aku pun menyayangi Fhi. Bahkan, lebih dari sekedar saudara angkat.

Minggu kemarin Fhi di wisuda. Entahlah, sejak kedatangan ayah-bunda, Fhi jadi pendiam. Bahkan, hingga pagi tadi kami mengantar ayah-bunda ke bandara, Fhi tetap saja diam, datar. Dan puncaknya, hidung mancungku pun menjadi korban. Kenapa, ya, Fhi tidak biasa begitu? Aneh.

***

Di Bogor ini, aku dan Fhi menempati rumah mungil yang dibeli ayah. Tepatnya di daerah Tanah Baru. Meskipun hanya berdua, hari-hari tertentu di rumah selalu ramai. Ada acara MABIT -Malam Bina Iman dan Takwa- remaja putri, kajian tafsir QS. An-Nur ibu-ibu sekomplek, diskusi terbatas atau hanya sekedar rujakan.

Dan lucunya, semua pesertanya adalah perempuan. Haha, jadinya akulah yang paling cakep di rumah ini. Yes, setidaknya, itu anggapan Fhi terhadapku. Ups, tidak ding, Fhi belum pernah mengatakan itu. Itu sih doaku saja. Haha, ngarep!

Meski kuliah Fhi sudah kelar, Fhi akan tetap tinggal di Bogor. Begitu yang aku baca di buku agenda Fhi beberapa bulan lalu. Dan tentu saja, aku akan selalu bersamanya, menemaninya kemanapun Fhi pergi. Aksi ke DPR, Istana Negara, Monas, dll. Bisa dibilang, kemanapun Fhi pergi, aku selalu diajak serta. Hehe, di mana ada Fhi, di situ selalu ada aku.

Kami bagaikan sepasang kekasih yang tak terpisahkan. Iya, bayangkan saja, sudah 15 tahun aku bersama Fhi sejak ia masih di sekolah dasar. Lama, kan? Mungkin aku sudah gila. Aku sering bermimpi. Membayangkan pergi mengantarnya, bertiga atau berlima dengan putra-putri mungil yang lucu-lucu. Fhi, yakinlah, aku kan selalu menjagamu.

***

Bogor diguyur hujan. Brrrr, adzan subuh baru saja berkumandang. Dingin. Kuhangatkan tubuhku agak lama. Kudengar dari perbincangan kemarin, pagi ini kami akan pergi ke Serang. Fhi akan memandu acara Dialog Muslimah di sebuah TV Banten. Fhi bilang sih, kami hanya pergi berdua saja. Kesempatan, bathinku. Aku pun senyum-senyum sendiri.

Yes, pagi ini Fhi tampak sumringah. Iya, Fhi memang selalu bersemangat bila melakukan perjalanan. Bahkan bila salah alamat sekalipun, Fhi akan selalu senang, “Asyik, aku menemukan rute baru”, katanya sambil berusaha mengingat setiap jejak langkah yang telah dilewatinya. Itulah Fhi yang kukenal. Meski pendiam dan pemalu, tapi Fhi selalu bersemangat disetiap perjalanannya. Fhi, aku ingin menjagamu di sepanjang hayatku.

Hujan telah berhenti. Udara terasa sejuk menerpa tubuhku. Keciprak-keciprak, suara genangan air hujan terinjak kakiku. Pandanganku fokus ke jalanan, sesekali kulirik Fhi yang tampak memikirkan sesuatu.

“Kiki, hidup kita ini juga sebuah perjalanan.” Tiba-tiba Fhi membuka suara. “Dan kampung akhirat adalah tujuan terakhirnya. Allah telah memberikan peta dengan banyak rambu-rambu lalulitas, pun layaknya kita berkendara. Ada larangan, ada perintah, ada rambu hati-hati dan lain-lain.” Aku terdiam mendengar setiap kata yang dipaparkannya.

Libur tanggal merah membikin Jakarta terasa lengang. Ya, berduaan adalah waktu yang sangat menyenangkan bagiku. Fhi akan bercerita banyak hal. Meskipun, dalam hatiku aku selalu berharap, segera, kita tidak hanya berdua saja. Tapi bertiga atau berlima dengan putra-putri Fhi yang lucu-lucu. Duh, dadaku berdegub kencang membayangkan semua itu. Mungkin aku akan cemburu takut Fhi tidak sayang lagi padaku.

“Hayoo, Kiki melamun ya?” tiba-tiba sisi hatiku yang usil muncul menggodaku. Ups, cepat-cepat kukibas-kibaskan kepalaku. Aku tidak ingin Fhi melihatku bersedih. Gawat.

“Pergi, pergi, sana sembunyi” segera kuhalau sisi hatiku yang usil itu.

Duh, tiba-tiba kurasakan Fhi mencengkeramku erat, menatapku tajam. Segera aku menghindar dari tatapannya. Tubuhku berjingkat, berusaha menyembunyikan kegalauanku.

Aku mencuri-curi pandang. Kulihat Fhi tersenyum. Duuh, manis sekali. Dan lagi-lagi kulihat Fhi hanya tersenyum. Hm, ada apa dengan Fhi kemarin, ya? Mengapa menjadi pendiam sangat? Aku hanya bisa bertanya-tanya.

“Kiki, seperti yang kubilang tadi. Hidup kita bagaikan perjalanan, pun layaknya berkendara. Jalan mana yang telah kita pilih harus kita pertanggungjawabkan. Terkadang kita terpikat untuk memasuki TOL Dalam Kota. Tapi, saat kita telah berada di dalam, rupanya kemacetan begitu mengular. Apakah kita akan keluar lagi? Lewat mana? Apakah kita menyesal dengan pilihan itu?” aku hanya melirik Fhi. Aku tahu, pertanyaan itu sesungguhnya dia tujukan untuk dirinya sendiri.

“Oiya, Kiki, bagaimana pendapatmu setiap melewati persimpangan? Misalnya, simpang Pancoran, Mampang atau simpang yang lainnya? Terbayangkah olehmu apabila kamu berjalan sendiri dan berusaha menyeberangi jalan itu? Takut tertabrak? Ragu-ragu, khawatir atau bagaimana?” lanjutnya. Dan lagi-lagi aku hanya diam membisu mendengarkan setiap pertanyaan Fhi.

“Dan tentu kamu ingat, bagaimana saat ada pejalan kaki yang akan menyeberang di hadapan kita?” Fhi melanjutkan pertanyaannya.

“Bila pejalan kaki itu ragu-ragu, kita pun jadi bingung. Tapi bila pejalan kaki itu yakin saat menyeberang, maka kita pun mantab juga, apakah mau berhenti atau terus berjalan” deg, kalimat Fhi kali ini membuatku malu. Aku masih sering ragu saat harus mengambil keputusan. Bingung dengan pilihanku sendiri.

Kulirik Fhi tersenyum diakhir kalimatnya. “Yakinlah dengan setiap keputusanmu” tutupnya. Aku pun ikut tersenyum, lega rasanya melihat Fhi-ku ceria kembali. Kufikir, Fhi telah memutuskan sesuatu yang besar. Semangat Fhi, bathinku.

Tak terasa kami pun telah sampai di kota Serang. Aku berteduh di bawah pohon rambutan yang sedang berbunga. Fhi masuk ke Gedung Graha Pena dengan menenteng tas ranselnya. Angin berhembus sepoi-sepoi. Aku pun tertidur, lelap.

***

Pagi ini udara Bogor dingin sekali. Angin berhembus kencang. Kulilitkan selimut hingga menutupi kepalaku. Aku malas kemana-mana. Ztztz..

“Aku suka Kiki, Abang. Kiki kuat kok, dia sudah lima belas tahun bersamaku” tiba-tiba kudengar Fhi sedang berbincang dengan seseorang lewat telephone.

Kubuka telingaku lebar-lebar. Aku tidak tahu siapa seseorang yang dipanggil “Abang” itu. Fhi tidak pernah menceritakannya kepadaku dan aku pun belum pernah bertemu dengannya sekalipun. Entahlah, tiba-tiba ada sesuatu yang menyeruak di dalam dadaku. Cemburu! Siapa dia? Kenapa aku disebut-sebut dalam perbincangan itu? Aku gelisah, huh, kenapa aku harus mendengar perbincangannya? Kesal!

“Baiklah, bila demikian, Fhi ikut Abang saja” tutupnya.

Deg. Apakah Fhi mau pergi? Ikut kemana? Ahh, mengganggu tidur saja. Pagi-pagi sudah bikin penasaran. Huh, siapa sih Abang itu? Menyebalkan!

Fhi, bukankah kita akan bersama sampai maut memisahkan kita? Bukankah kita akan berjalan-jalan bersama, bertiga atau berlima dengan putra-putri mungil yang lucu-lucu? Hatiku bertanya-tanya sendiri mendengar kalimat terakhir Fhi dengan orang tidak jelas itu. Huff, lupakah dengan janji kita, Fhi? Kenapa tidak pernah mengenalkan aku dengan orang aneh itu? Siapa dia, kenapa kamu harus ikut bersamanya? Aku menjadi uring-uringan. Gelisah, cemburu bercampur aduk menjadi satu.

Tiba-tiba aku menjadi pendiam. Bahkan, tak secuil katapun keluar dari mulutku saat Fhi mengantarkanku ke sebuah rumah mewah di daerah Taman Kencana. Kali ini aku merasa akan kehilangan Fhi-ku.

***

Aahh, aku menggeliatkan tubuhku yang kaku-kaku. Mataku kukerjap-kerjapkan, silau. Dimana ini? Terasa asing. Aku berusaha mengingat-ingat kenapa aku bisa sampai ke sini? Hah, iya, aku ingat, sejak Fhi mendapat telephone dari orang misterius yang bernama “Abang” itu. Hiks tiba-tiba aku amat sedih sekali. Rupanya, sudah sebulan aku berada di rumah mewah ini dan sejak itu aku tak pernah bertemu Fhi lagi.

Di sini aku bosan, aku tak pernah jalan-jalan. Paling-paling bapak tua yang memandikanku dan menghangatkan tubuhku. Aku benar-benar tidak kerasan di sini. Aku ingin pulang dan bersama Fhi lagi.

“Fhi, Fhi” hiks, kupanggil-panggil nama Fhi-ku. Aku berharap Fhi akan menjemputku dan mengajakku pulang. Tapi, Fhi tak datang-datang juga. Suaraku serak, aku capek memanggil-manggilnya. Hingga, aku pun tertidur lagi. Berharap bertemu Fhi di alam mimpi.

“Haa, pagi ini kita akan aksi di depan Istana Merdeka?” Asyik.. aku melonjak kegirangan. Pasti rame sekali, akupun tersenyum-senyum bahagia.

Set, kurasakan sebuah tangan yang tidak asing lagi menyentuh pundakku. Aku terjingkat, terbangun, mimpiku pun buyar. Saat kulihat siapa yang berdiri di depanku, akupun tak jadi marah meski telah merusak mimpi indahku.

“Fhiiiii…!!!” aku berteriak kencang, “Kemana saja? Aku kangen jalan-jalan ke DPR, aksi di Istana, ke Monas, Bundaran HI dan lain-lain. Hari ini kita akan pergi ke sana kan, Fhi?” aku memberondong Fhi dengan segudang pertanyaan. Kutatap mata Fhi yang masih tak berubah. Ceria.

“Kiki, maaf ya, aku lama tidak menemuimu. Bagaimana, betah disini kan?” Fhi menyapaku lembut.

“Kenalkan, itu Elang” lanjutnya. Bagaikan tercucuk hidungku, kuikuti saja kemana telunjuk Fhi mengarah. Sebuah mobil Toyota Harrier menatap tajam ke arahku. Si Mata Elang, bathinku mengeja.

“Dan ini Abang”, lanjut Fhi sambil menggandeng seseorang yang belum kukenal.

“Insya Allah minggu depan aku pindah ke Palembang ikut Abang ke sana. Jaga dirimu baik-baik, ya”

Tiba-tiba pandanganku terasa gelap, mataku berkunang-kunang. Kurasa ada sesuatu yang menempel di punggungku. “DIJUAL CEPAT TOYOTA STARLET Hub. 081218917189.”

“Teganya, kaujual aku, Fhi!” Hiks. Tubuhku melemas, aku pun terjatuh pingsan.

Crown Palace, 18 Mei 2012

*Teruntuk Riri. Bukankah rinai hujan telah menyampaikannya padamu? Semoga kelak, kita kan bertemu di Jannah-Nya.. aamiin.

Iklan

About Ayatifa

Muslimah yang di besarkan di sebuah dusun yang bernama Kuamang Kuning di pedalaman Jambi, aktivitas sehari-harinya lebih banyak 'bersembunyi'. Hijrah ke Bogor untuk memenuhi hasrat petualangan intelektualnya. Menyukai dunia politik khususnya yang berkaitan dengan perempuan, keluarga dan generasi. Lahir di Sragen, 20 Juni lebih dari seperempat abad lalu. ^_^ Saat ini sedang belajar menulis untuk mengekspresikan diri. Memperoleh pengalaman yang sangat berharga saat numpang tinggal bersama Dara Apipb di Asrama Putri Bogor hingga menghantarkannya kepada tiga pertanyaan mendasar, "Dari mana kita berasal? Untuk apa kita hidup di dunia? Dan hendak kemana kita setelah kematian? Terkesan dengan sebuah bait, "Islam akan bangkit dengan atau tanpa kita. Lalu, apakah kita termasuk ke dalam orang-orang yang diam saja atau ke dalam barisan orang-orang yang memperjuangkannya?? Padahal, Islam akan tetap bangkit dengan atau tanpa kita." Belajar melawan, melalui perang pemikiran. Allahu Akbar!!!

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Assalamu’alaykum…

Demi Masa

Kini

Statistik Blog

  • 9,150 hits

Arsip

%d blogger menyukai ini: