//
you're reading...
Cerpen

WANITA BERTOPI BUNDAR

image201212240003_6Wanita Bertopi Bundar

Jumat sore adalah hari termacet di Jakarta. Menjelang weekend jalanan memang semakin padat. Bagi pekerja yang jauh dari keluarga. Mereka akan bergegas pulang untuk liburan bersama keluarganya.

Wanita itu memperlambat laju kendaraannya. Tol lingkar luar Jakarta menuju Jagorawi lumayan ramai lancar. Ia baru saja dari Kampus IPDN di jalan Ampera, Jakarta Selatan. Bertemu dosen ilmu politik berdiskusi mengenai kebobrokan sistem demokrasi beserta tawaran solusi untuk kembali  ke sistem Islam.

Sebenarnya tadi ia bertiga dengan temannya. Tapi kini ia tinggal sendirian di mobil. Sedang yang lainnya telah turun menuju rumah masing-masing. Di terowongan jalan Simatupang tiba-tiba mobil di depannya berhenti mendadak. Apakah ada kecelakaan, batinnya bertanya.

Dan benar saja, seperti yang biasa didengarnya di radio Elshinta. Di terowongan ini memang sering terjadi tabrakan beruntun. Kendaraan yang semula berjalan cepat ketika masuk terowongan tiba-tiba memperlambat jalannya karena pandangan berubah gelap. Dan, brak-brak-brak, tabrakan beruntun pun tak bisa dihindari.

Bersyukurlah, wanita bertopi bundar itu sudah memperlambat laju mobilnya dari semula. Agak aneh memang. Sepertinya ia ngantuk atau sedang memikirkan sesuatu. Radio di mobil sedang menyiarkan berita yang dibaca oleh penyiar kesayangannya. Tapi ia tak berkonsentrasi untuk mendengarnya. Dan tiba-tiba, ia menarik nafasnya dalam-dalam lalu dihembuskannya dengan cepat.

Tol Jagorawi sepi, tapi wanita bertopi bundar itu hanya mengendarai mobilnya dengan kecepatan 60 km/jam. Kecepatan segitu adalah kecepatan terendah di jalan Tol. Tiba-tiba ada seseorang yang muncul dari belakang dan duduk di sampingnya.

“Hai, berani sekali engkau mengungkapkan isi hatimu padanya. Apakah kautidak takut ia akan benci? Kamu itu tidak secantik mawar, seharum melati pun secerlang matahari!” hardik seseorang yang muncul tiba-tiba itu dengan keras sambil menunjuk-nunjuk mukanya.

Wanita bertopi bundar masih diam tak menghiraukan wanita itu. Diliriknya sekejab dan pandangannya kembali fokus ke jalanan.

“Kautahu, ia telah memetik pelangi. Dan akan dibawanya berlayar ke negeri seberang. Bahkan sebelum engkau datang. Jadi, pulanglah, pintu dan jendela rumahnya telah terkunci!” ujar wanita asing itu lagi.

“Apakah engkau juga tahu bahwa ia telah memetik hujan? Dan akan terbang bersama pelanginya?” tiba-tiba wanita bertopi bundar bertanya dan menghadapkan mukanya ke wanita asing itu.

Tapi, wanita asing hanya diam, mungkin kasihan setelah bertatap muka dan melihat telaga wanita bertopi bundar itu hampir tumpah.

“Kenapa kini engkau diam? Aku memang tidak secantik mawar, seharum melati pun secerlang matahari. Aku hanya punya sekeping hati. Izinkanlah aku di sini. Melihat ia terbang bersama pelangi.

Tiba-tiba wanita yang tak diundang itu telah menghilang. Wanita bertopi bundar pun tersadar bahwa ia harus segera sampai rumah. Awan hitam telah bergelayut di langit kota.

“Engkau ilalang, akarmu terjulur panjang. Pengobat luka-luka” ungkap wanita bertopi bundar pada seseorang yang berlari-lari di benaknya.

Keesokannya ia tetap menemui hujan. Berharap, ia kan berpendar menjadi pelangi..

Kota Hujan, 16.02.2013

Iklan

About Ayatifa

Muslimah yang di besarkan di sebuah dusun yang bernama Kuamang Kuning di pedalaman Jambi, aktivitas sehari-harinya lebih banyak 'bersembunyi'. Hijrah ke Bogor untuk memenuhi hasrat petualangan intelektualnya. Menyukai dunia politik khususnya yang berkaitan dengan perempuan, keluarga dan generasi. Lahir di Sragen, 20 Juni lebih dari seperempat abad lalu. ^_^ Saat ini sedang belajar menulis untuk mengekspresikan diri. Memperoleh pengalaman yang sangat berharga saat numpang tinggal bersama Dara Apipb di Asrama Putri Bogor hingga menghantarkannya kepada tiga pertanyaan mendasar, "Dari mana kita berasal? Untuk apa kita hidup di dunia? Dan hendak kemana kita setelah kematian? Terkesan dengan sebuah bait, "Islam akan bangkit dengan atau tanpa kita. Lalu, apakah kita termasuk ke dalam orang-orang yang diam saja atau ke dalam barisan orang-orang yang memperjuangkannya?? Padahal, Islam akan tetap bangkit dengan atau tanpa kita." Belajar melawan, melalui perang pemikiran. Allahu Akbar!!!

Diskusi

2 thoughts on “WANITA BERTOPI BUNDAR

  1. Walaupun saya tidak tahu persisnya apa yang ingin disampaikan oleh tulisan di atas, namun saya senang membacanya. Dan saya menyimpulkan cerita di atas bertutur tentang seseorang (wanita ) yang sangat letih jasmani dan pikirannya,(tetapi bukan mentalnya) lalu tanpa disadari muncul dalam benaknya cerita di atas . Semua bentuk-bentuk atau lambang di atas yang bisa mengurai hanya orang yang letih tadi. Sedangkan orang lain hanya bisa menikmati atau bertanya-tanya. atau bahkan tidak perduli.
    Salam kenal dari saya oldman Bintang Rina.

    Posted by bintangrina | 16 Februari 2013, 9:01 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Assalamu’alaykum…

Demi Masa

Kini

Statistik Blog

  • 8,598 hits

Arsip

%d blogger menyukai ini: