//
you're reading...
Cerpen

SI MATA ELANG

mata elangSi Mata Elang

Ada sebuah lelucon; untuk mengatasi kemacetan Jakarta yang dibutuhkan bukanlah gubernur, tapi hari libur.

Dara tersenyum-senyum membacanya. Sebagai salah satu “aktivis” yang sering mondar-mandir Jakarta-Bogor. Ia memang merasakan betul bagaimana kemacetan Jakarta dari tahun ke tahun semakin parah.

Bahkan, pernah, saat ada perbaikan tiang pancang di salah satu ruas jalan tol. Ia membutuhkan waktu lima jam untuk pulang dari kawasan Pancoran ke Bogor. Imbas dari penutupan sebagian jalan itu menyebabkan kemacetan di mana-mana. Tol di berbagai ruas lumpuh.

Selain mendengarkan murotal atau berita dari RRI. Satu-satunya hiburan yang dilakukan Dara saat terjebak kemacetan adalah mengamat-amati mobil-mobil yang berdesak-desakan di depan atau di sampingnya.

Baginya, mobil-mobil itu seakan menjelma menjadi manusia dengan karakternya masing-masing. Ada yang serupa wanita cantik lagi genit, ibu-ibu setengah baya, bapak-bapak tua. Bahkan ada yang berdandan ala eksekutif muda, pun ada yang berjaket kulit berambut jabrik.

Tak jarang ia menemukan. Tiba-tiba antar sopir telah baku hantam, hanya memperebutkan secuil jalan. Bukan untuk dimiliki, tapi ingin saling mendahului. Atau marah-marah yang dari mulutnya menyembur hewan-hewan dari kebun binatang.

Tak hanya itu, siapa memiliki uang maka dialah yang menguasai jalan. Bagaimana tidak, saat semua orang terjebak gusar menahan lapar, sakit dan kegelisahan lain. Tiba-tiba ia menyelonong dengan pengawalan dan memerintahkan yang lain untuk menyingkir.

Dara semakin bingung; bukankah semasa SD ia mendapat pengajaran bahwa jalan raya itu milik umum? Ah, rakyat kecil lagi-lagi menjadi korban kaum kapital.

Di tengah kemacetan. Tiba-tiba Dara melihat sosok yang amat menarik perhatiannya. Ia melaju dengan mantab, tenang namun pasti. Dengan tatapan matanya yang tajam. Dara menjulukinya; Si Mata Elang.

Aih, ia pun tersenyum-senyum sendiri. Mendung yang sempat singgah di langit mukanya tiba-tiba sirna entah diterbangkan angin ke mana. Mungkin pada akhirnya ia hanyalah serupa pengamat diam.

Tiada lelah, Dara pun selalu mengunjungi pondoknya. Menikmati  puisi warna-warni serupa pelangi yang menempel di dinding-dinding. Menghayat-renunginya kadang membuatnya tersenyum, berbinar bahkan sering juga menitikkan air mata.

Lagi-lagi masih serupa tanya. Tak pernah mampu ia membaca isyarat sajak yang menjuntai-juntai. Pun, terkadang di alam pikirnya menyembul sebongkah batu yang mengunci rapat benteng kalbunya; aku adalah diriku, sendiri.

Si Mata Elang terus saja melaju. Di bawah rinai hujan ia berpacu. Jalanan mulai tersibak. Dara seakan kehilangan jejak. Ke mana Si Mata Elang pergi? Sinyal-sinyal keberadaannya seakan mati.

Dara masih tetap dara yang lalu. Menikmati kemacetan, berharap laju menemu: Si Mata Elang.

Di sini, di bawah rinai hujan.

 

Kota Hujan, 17.02.2013

 

Iklan

About Ayatifa

Muslimah yang di besarkan di sebuah dusun yang bernama Kuamang Kuning di pedalaman Jambi, aktivitas sehari-harinya lebih banyak 'bersembunyi'. Hijrah ke Bogor untuk memenuhi hasrat petualangan intelektualnya. Menyukai dunia politik khususnya yang berkaitan dengan perempuan, keluarga dan generasi. Lahir di Sragen, 20 Juni lebih dari seperempat abad lalu. ^_^ Saat ini sedang belajar menulis untuk mengekspresikan diri. Memperoleh pengalaman yang sangat berharga saat numpang tinggal bersama Dara Apipb di Asrama Putri Bogor hingga menghantarkannya kepada tiga pertanyaan mendasar, "Dari mana kita berasal? Untuk apa kita hidup di dunia? Dan hendak kemana kita setelah kematian? Terkesan dengan sebuah bait, "Islam akan bangkit dengan atau tanpa kita. Lalu, apakah kita termasuk ke dalam orang-orang yang diam saja atau ke dalam barisan orang-orang yang memperjuangkannya?? Padahal, Islam akan tetap bangkit dengan atau tanpa kita." Belajar melawan, melalui perang pemikiran. Allahu Akbar!!!

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Assalamu’alaykum…

Demi Masa

Kini

Statistik Blog

  • 8,598 hits

Arsip

%d blogger menyukai ini: