//
you're reading...
Esai Apresiatif

Di Senja KOTA Kumemetik Rindu

bandung malamDi Senja KOTA Kumemetik Rindu

Saya jatuh cinta padanya. Pada puisi beberapa bulan belakangan ini. Entah, sebenarnya saya masih sering gelisah pun bingung saat meniatkan diri untuk menulisnya. Akibat kebingungan memilih kata, puisi yang hendak saya tulis pun tak usai juga.

Kosakata yang saya kuasai masih sedikit, bahkan karena saya biasa menyampaikan ide atau pemikiran dengan bahasa yang lugas, tegas dan mungkin bisa dibilang tanpa “tedeng aling-aling”, akhirnya menulis puisi bagi saya tidak hanya menguras energi, tapi juga pikiran.

Lalu saya berpikir: sepertinya puisi bagi saya menjadi serupa “terapi” yang akan melatih dan memengaruhi saya untuk menjadi manusia yang lebih lembut dan imajinatif. Seorang teman juga heran dengan kebiasaan baru saya ini. Kemana-mana membawa buku puisi, meskipun masih menjadi pembaca awam.

Tiba-tiba saya pun teringat sebuah lagu yang semasa SD sering saya nyanyikan dengan iringan rebana, qasidahan; “Belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu. Belajar sesudah dewasa, laksana mengukir di atas air…”

Dari kutipan lagu tersebut, saya jadi membayangkan. Bagaimana ya, menulis puisi di atas air, mungkinkah? Hmm, sepertinya mungkin, bisa kan, saya naik perahu, berlayar di sungai Batanghari yang serupa naga tidur itu. Lalu saya meronce kata di atasnya.

Hehe, boleh kan saya berimajinasi. Bukankah mencintai itu serupa menanam pohon yang kelak ia bisa tumbuh atau mati tergantung dari perawatannya? Ya, semoga cinta saya padanya: puisi, kan menemu jalannya.

Hingga, pada suatu senja saya membaca puisi buah karya Karang Indah di dinding rumahnya. Sebagai usaha untuk menumbuhkan pohon cinta saya. Saya pun berfikir untuk membuat esai apresiasi. Berikut saya tulis ulang puisi yang dimaksud:

KOTA

telah lalu kota–kota, bercerita
pada semua jalannya
kepada roda-roda kembara
: aroma yang sama sehabis hujan

“ada simpang pada setiap arah
menemu tuju”

pada satu titik lelah
jalan-jalan kota di bawah sana
berganti cerita titik-titik lampu

nikmat kembara
pada saat roda kembali
mungkin yang baru
bila yang lama telah pecah
atau bahkan kereta yang berbeda
dengan muatan yang sama
: rindu

entah bila

Kota Kembang, 2013

Mengenal Karang Indah mengingatkan saya pada Abang yang telah berpulang sepuluh tahun lalu. Memetik gitar dengan lagu-lagu rindu nan syahdu. Saya belum banyak membaca puisi-puisi buah karyanya. Beberapa puisi yang saya baca baru yang berkisah seputar cinta, rindu yang menanti temu. Memang cinta dan rindu di sini tidak selalu bermakna jinsiy (hubungan kekasih antara laki-laki dan perempuan).

Mengeja “Karang” saya membayangkan sesuatu yang kukuh, tegar dari hempasan ombak laut, gelombang pasang, maupun badai yang menerjang. Meski Karang selalu diam, ia tetaplah Indah. Menyelaminya di kedalaman adalah impian.

Nah, pada sajak KOTA yang pada titimangsanya tertulis “Kota Kembang” ini. Saya melihat aku lirik ingin mengisahkan sebuah pengembaraan. Menurut saya juga bukan sebuah kebetulan. Bila, beberapa tahun terakhir ini penulis tinggal di Yogyakarta sedang bepergian beberapa hari ke Kota Kembang. Dan lahirlah sajak ini di sana.

Sajak KOTA ini terdiri dari lima bait tujuh belas larik. Komplit dengan judul dan titimangsa. Mengapa saya sebut “komplit”? Iya, saya perhatikan beberapa puisi KI seringkali ada yang belum lengkap. Belum ada judul dan lupa titimangsa. Aduhai, bisa juga bukan lupa dalam arti yang sesungguhnya, tapi Karang Indah memang sengaja belum membubuhkan nama dan tanggal lahir pada akte kelahirannya; puisi. Sehingga tidak berlebihan bila pada sajak KOTA ini saya katakan padanya; komplit.

telah lalu kota–kota, bercerita
pada semua jalannya
kepada roda-roda kembara
: aroma yang sama sehabis hujan

Bait pertama dibuka dengan kalimat, “telah lalu kota–kota, bercerita”. Saya menangkap, aku lirik sebagai seorang pengembara telah melalui berbagai kota. Dari satu kota ke kota berikutnya, dari satu peristiwa satu ke peristiwa yang lainnya. Dan “pada semua jalan yang dilewatinya” ini menceritakan berbagai kenangan yang berbeda-beda.

“Kepada roda-roda kembara” dan disambung pada larik berikutnya “: aroma yang sama sehabis hujan”, pada kalimat ini saya membayangkan seorang pengembara yang berkelana dari satu kota ke kota selanjutnya. Dinginnya hujan atau teriknya mentari menjadi teman yang tidak asing lagi. Namun, saat rinai hujan menjuntai, suasana keindahan dan kelembutannya ini mengingatkan aku lirik pada sebuah momen indah. Yang di manapun ia berada selalu teringat akannya. Bisa juga teringat kepada seorang kekasih (istri) atau putri cantik yang ia kasihi.

“ada simpang pada setiap arah
menemu tuju”

pada satu titik lelah
jalan-jalan kota di bawah sana
berganti cerita titik-titik lampu

Pada bait kedua dan ketiga di atas, jelas bahwa setiap jalan memiliki banyak kelokan, persimpangan, tanjakan, turunan juga tempat pemberhentian untuk rehat sejenak, tempat pengisian bahan bakar dan lainnya.

Kalimat, “ada simpang pada setiap arah menemu tuju” begitu benderang menjelaskan bahwa seorang pengembara harus jeli memilih jalan mana yang akan dipilihnya untuk segera sampai tujuan yang telah diimpikan. Namun juga harus waspada karena persimpangan bisa memberikan peluang kepada pengembara untuk berpindah haluan sehingga arah tuju pun berubah. Tapi tidak menutup kemungkinan juga justru jalan yang dipilih lebih mulus sehingga lebih cepat sampai tujuan meski semula belum terpikir untuk memilih melewatinya.

“pada satu titik lelah/ jalan-jalan kota di bawah sana/ berganti cerita titik-titik lampu” menandakan bahwa malam telah datang, “titik lelah” memperkuat penunjukan bahwa malam seringkali untuk istirahat siapapun yang seharian telah beraktivitas hingga lelah. Namun bila disambung larik selanjutnya. Aku lirik dalam hal ini pengembara, saya melihatnya sedang melanjutkan perjalanan malam sambil menikmati “titik-titik lampu” yang berpendar-pendar dari ketinggian tertentu di KOTA itu.

nikmat kembara
pada saat roda kembali
mungkin yang baru
bila yang lama telah pecah
atau bahkan kereta yang berbeda
dengan muatan yang sama
: rindu

entah bila

Roda kempes apalagi sampai pecah adalah ujian bagi seorang pengembara. Meskipun seseorang yang akan melakukan perjalanan jauh pasti telah menyiapkan ban serep beserta peralatannya. Pada bait ini saya membayangkan seorang pengembara yang menggunakan kendaraan beroda. Bila roda yang lama pecah maka akan diganti dengan yang baru. Atau bahkan berpindah kendaraan yang lainnya. Dengan tujuan yang tetap  sama : rindu. Sesuatu yang amat ingin ditemuinya.

Namun bila hal itu tidak dilakukannya (mengganti ban pecah atau berganti kendaraan atau mengganti sesuatu yang lain) merujuk pada bait penutup: “entah bila” ini, maka mungkin ia tak kan menemu rindunya.

Sungguh, mengeja-ulang bait-bait di atas memerintahkan saya untuk memikirkan sesuatu yang lain. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, ia berkata : “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam memegang pundakku, lalu bersabda : Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan sebagai orang asing atau pengembara. Lalu Ibnu Umar radhiyallahu anhuma berkata : Jika engkau di waktu sore, maka janganlah engkau menunggu pagi dan jika engkau di waktu pagi, maka janganlah menunggu sore dan pergunakanlah waktu sehatmu sebelum kamu sakit dan waktu hidupmu sebelum kamu mati.” [Bukhari no. 6416]

Imam Abul Hasan Ali bin Khalaf dalam syarah Bukhari berkata bahwa Abu Zinad berkata : Hadits ini bermakna menganjurkan agar sedikit bergaul dan sedikit berkumpul dengan banyak orang serta bersikap zuhud kepada dunia. Abul Hasan berkata : Maksud dari Hadits ini ialah orang asing biasanya sedikit berkumpul dengan orang lain sehingga dia terasing dari mereka, karena hampir-hampir dia hanya berkumpul dan bergaul dengan orang ini saja. Ia menjadi orang yang merasa lemah dan takut.

Begitu pula seorang pengembara, ia hanya mau melakukan perjalanan sebatas kekuatannya. Dia hanya membawa beban yang ringan agar dia tidak terbebani untuk menempuh perjalanannya. Dia hanya membawa bekal dan kendaraan sebatas untuk mencapai tujuannya. Hal ini menunjukkan bahwa sikap zuhud terhadap dunia dimaksudkan untuk dapat sampai kepada tujuan dan mencegah kegagalan, seperti halnya seorang pengembara yang hanya membawa bekal sekadarnya agar sampai ke tempat yang dituju. Begitu pula halnya dengan seorang mukmin dalam kehidupan di dunia ini hanyalah membutuhkan sekadar untuk mencapai tujuan hidupnya.

Merujuk dari hadis di atas, saya memahami bahwa kita semua hidup di dunia ini bagaikan seorang pengembara. Bilakah ada sebuah pertanyaan; “Dari mana kita berasal? Untuk apa kita hidup di dunia? Dan hendak kemana kita setelah kematian?” Sejatinya kita hanyalah mahluk yang lemah dan mudah berkeluh kesah. Diciptakan Allah untuk tunduk dan patuh atas segala perintahNya dan kelak kan kembali menujuNya.

Allah telah memberikan peta dengan segala rambu-rambuNya. Tergantung manusia sendiri hendak memilih jalan yang mana.

“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (kebajikan dan kejahatan). Namun dia tidak menempuh jalan yang mendaki lagi sulit. Tahukah kamu apakah jalan
yang mendaki lagi sulit itu?”
[al-Balad: 10-12]

Sesunggunya sebaik-baik tempat kembali adalah JannahNya. Tempat terbaik menuju temu yang selalu dirindu. Sekiranya inilah esai apresiasi sederhana saya. Ketidaktepatannya semua bermula dari ketidakjelian saya.

JINGGA

Jingga,

merah merona berpendar-pendar

Kunang-kunang terbang melayang

Menyelusup di balik belukar

Hening

Sunyi

Kumencari..

 

Crown Palace, 2012

 

Menanti hujan mereda. Di senja KOTA kumemetik rindu.

Al- Huriyah, 10.02.2013

Iklan

About Ayatifa

Muslimah yang di besarkan di sebuah dusun yang bernama Kuamang Kuning di pedalaman Jambi, aktivitas sehari-harinya lebih banyak 'bersembunyi'. Hijrah ke Bogor untuk memenuhi hasrat petualangan intelektualnya. Menyukai dunia politik khususnya yang berkaitan dengan perempuan, keluarga dan generasi. Lahir di Sragen, 20 Juni lebih dari seperempat abad lalu. ^_^ Saat ini sedang belajar menulis untuk mengekspresikan diri. Memperoleh pengalaman yang sangat berharga saat numpang tinggal bersama Dara Apipb di Asrama Putri Bogor hingga menghantarkannya kepada tiga pertanyaan mendasar, "Dari mana kita berasal? Untuk apa kita hidup di dunia? Dan hendak kemana kita setelah kematian? Terkesan dengan sebuah bait, "Islam akan bangkit dengan atau tanpa kita. Lalu, apakah kita termasuk ke dalam orang-orang yang diam saja atau ke dalam barisan orang-orang yang memperjuangkannya?? Padahal, Islam akan tetap bangkit dengan atau tanpa kita." Belajar melawan, melalui perang pemikiran. Allahu Akbar!!!

Diskusi

2 thoughts on “Di Senja KOTA Kumemetik Rindu

  1. kota kembang itu bandung , sama seperti kota lahir ane, :d

    Posted by Maxgrosir | 4 Februari 2014, 12:29 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Assalamu’alaykum…

Demi Masa

Kini

Statistik Blog

  • 9,150 hits

Arsip

%d blogger menyukai ini: