//
you're reading...
Serial Si Kembar Fath-Fa

Serial Si Kembar Fath-Fa: 1. Dialog Tengah Malam

man is...Malam itu langit Cibubur menderai rinai. Angin berhembus melalui celah-celah jendela. Dingin. Di balik selimutnya, Fa menyelusup sambil memeluk guling. Pukul 02.09 WIB dini hari. Terlihat tangan Fa sedang menggapai-gapai handphone jadulnya. Sebuah pesan bertengger di inbox kesayangannya sejak pukul 23.30 WIB.

“Life, what is all about?” Fa membaca isi pesan dari Abangnya, Fath.

Meski tidak identik, sebagai anak kembar, mereka sering melakukan berbagai kegiatan bersama-sama. Iyup, akhir-akhir ini, kakak-beradik yang ngakunya menyukai filsafat itu sedang terlibat diskusi seru mengenai hidup dan kehidupan. Jangan salah, kadang mereka juga bertengkar, lho. Biasanya sih Fa ngambek karena Abangnya salah bicara atau yang lainnya.

“What is life?” Fa balik bertanya ke Fath yang dilihatnya masih nguprek-nguprek pekerjaannya.

“Bila Abang bertanya dengan pertanyaan di atas ke berbagai orang, maka akan ada beberapa versi jawaban, bisa sama bisa pula berbeda.” Fa mendekat ke Abangnya yang masih tak berpaling.

“Abang tahu, mereka bisa menjawab: life is tumbuh, berkembang dari kecil menjadi besar, seperti anak-anak yang tumbuh menjadi dewasa; atau ada juga yang menganggap, life is perjuangan, sehingga setiap orang harus berjuang mengarungi kehidupannya; pun ada juga yang bilang life is pilihan, karena manusia hidup tak sekedar ditakdirkan Tuhan, tapi memilih dalam setiap aktivitisnya; but, ada juga yang bilang, life is ibadah for God dengan berbagai penjelasannya.” Fa menjawab pertanyaannya sendiri dengan panjang lebar.

Sebenarnya sih dia ingin bicara pakai bahasa Inggris. Hehe, tapi karena kemampuan Inggris Fa masih amat-sangat terbatas. Ya, gitu deh, jadinya-ngaco. Entah tu anak saat pelajaran English dulu ngapain aja. ^_^

“Dari beberapa jawaban di atas, for me, semuanya benar.” Lanjut Fa dengan gaya sok filosofis.

“Jadi menurutmu, hidup itu tumbuh, perjuangan, pilihan, dan ibadah?” Tanya Fath dengan mata yang sudah lima watt.

“Ye, Abang. Iyalah, bagi Fa, hidup tidak hanya tentang pertumbuhan dan perkembangan secara biologis. Namun juga ibadah dalam arti luas.. hehe, dalam ibadah mencakup pilihan-pilihan, dan dalam ibadah juga mencakup perjuangan-perjuangan. Jadi bagi Fa, pertanyaan yang membuat Fa harus berpikir tentang hidup adalah: 1. Dari mana kita berasal? 2. Untuk apa kita hidup di dunia? 3. Kemana kita setelah kematian?”

“Iya, Abang ngerti. Itulah yg membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Makhluk lainnya sudah tunduk pada-Nya, manusia diberikan pilihan,” jawab Fath kalem.

“Ih, Abang, tunggu dulu.. Maksud Fa dari hidup adalah pilihan di sini adalah, bahwa hidup bukan saja sekedar mengikuti arus penciptaan. Misal ada yg mengatakan, ‘what is life?’ Lalu mereka menjawab, ya karena dah diciptakan Tuhan, misalnya.. Nah jawaban yg semisal itu seakan membuat seseorang tak mau berbuat apapun, tak mau berusaha atau berjuang dalam mengarungi hidupnya kecuali telah ‘pasrah’ karena menganggap hidupnya adalah bukan pilihannya, atau seakan dia tak bisa berbuat apapun tentang hidupnya.” Sanggah Fa dengan semangat empat lima.

Heran, apakah perempuan memang begitu? Coba lihat, Fath hanya bicara beberapa kata. Aih, Fa sudah berbusa-busa saking semangatnya.. hehe..

Sayangnya, menanggapi pernyataan Fa yang panjang kali lebar itu, Fath Si Kutu Buku hanya berhamhem-hamhem sambil menyandarkan kepalanya di sofa.

“Abang, ada yang bilang, ‘man is a rational animal’, what abaut it?” lanjut Fa manja dengan sok keinggris-inggrisan. hehe..

“Bisa..” jawab Fath singkat dengan mata yang hampir terpejam.

Tapi, seakan baru teringat sesuatu, Fa langsung mendekati Abangnya. “Tunggu, Abang. Kalimat Abang: ‘mahluk lain sudah tunduk padaNya sedang manusia diberi pilihan’ itu, menurut Fa kok, justru seakan manusia boleh memilih untuk tidak tunduk kah? Hmm, lho bukankah manusia juga lahir dalam keadaan fitrah? Gimana sih maksud Abang?” kejar Fa menuntut penjelasan.

Bahkan, seakan tak melihat Abangnya yang sudah teler, Fa masih saja bersemangat diskusi. Dia malah sudah berlari ke kamarnya untuk mengambil buku-buku yang sekiranya bisa dijadikannya referensi.

“Rational = having the capacity to reason. Iya, manusia diberikan pilihan, boleh memilih untuk baik atau tidak, memilih beriman atau menolak, diberi kebebasan untuk memilih, namun, tidak bisa mengelak dari akibat pilihannya itu. Mau baik silahkan, mau jahat silahkan, tanggung sendiri akibatnya. Dan pilihan Abang sekarang adalah untuk tidur. Selamat tidur. Wassalamu’alaykum,” tulis Fath di sebuah kertas HVS.

Sekembalinya dari kamar dan hanya menemukan sebuah pesan yang tergeletak begitu saja di meja. Tiba-tiba mulut Fa manyun beberapa centi.

“Ih, Abang Fath, mah, lain kali jangan ngajak diskusi sebelum Abang tidur, deh.. Ga asyik tahu, orang udah panas, eh, tiba-tiba ditinggalin..” Fa agak kesal ke abangnya.

Dialog yang biasanya baku, lupa sudah. Hehe, tu dua anak yang mengaku menyukai filsafat memang selalu berbicara dengan serius dan baku. Entahlah, apa nikmatnya jadi orang serius begitu, ya?

“Apa sih, gangguin orang mau tidur aja, udah lanjutin besok diskusinya..” teriak Fath dari kamarnya dengan tidak  merasa telah melakukan kesalahan apapun.

“Gitu tu, lakilaki memang ‘man is a rational animal’. Sebel! Sebel!” rajuk Fa manja.

Namun, tiba-tiba Fa ketawa sendiri, membayangkan kelucuan dari kalimat, ‘man is a rational animal’ untuk laki-laki. Sementara Fath sendiri sudah tak mendengar apapun. Mimpi indah di atas pulau kapuk.

“Hei, kenapa bengong begitu, Fa? Hayoo bangun shalat!” Teriak Ibu yang melihat Fa terbengong-bengong sendiri. Ibu telah mengenakan mukena batik Bali, wajahnya yang semakin banyak kerutan membuat wajah Ibu kian berwibawa.

“Ibuuuuu, Abang tu, Bu. Masak, ngajak diskusi, eh, lah tu Fa ditinggalin.” Rajuk Fa di hadapan Ibu dengan mulut yang menyang-menyong.

“Heee, yaudah, shalat yuk. Biarin aja abangmu tidur dulu, kasihan baru balek dari luar kota.” Ajak Ibu dengan senyum lembut.

Jam di kamar Fa menunjukkan pukul 03.02 dini hari. Fa masih bertanya-tanya dalam pikirnya sendiri. “Bagaimana dengan ‘Man is a rational animal’ itu?” batinnya.

***

Keesokan harinya, sebuah pesan masuk ke handphone butut Fa.

“Haha, maaf ya adik kecil, bila Abang telah membuatmu kesal. Memangnya ‘man is a rational animal’, yang Fa maksud itu apa?”

Seakan membalas kekesalannya, Fa tak segera meladeni ajakan diskusi dari Abangnya. “Hehe, nanti ah, Migren Fa kambuh nih, Fa mau bobok”, balasnya cepat.

“Okay, santai sajo. Adik Abang Fath istirahat sajo dulu” balas Fath lagi.

Fa diam. Kalau smsnya dibalas terus, bisa ga jadi tidur, nih, sungutnya.

*to be continew…

Kota Hujan, 13 Feb 2014

Iklan

About Ayatifa

Muslimah yang di besarkan di sebuah dusun yang bernama Kuamang Kuning di pedalaman Jambi, aktivitas sehari-harinya lebih banyak 'bersembunyi'. Hijrah ke Bogor untuk memenuhi hasrat petualangan intelektualnya. Menyukai dunia politik khususnya yang berkaitan dengan perempuan, keluarga dan generasi. Lahir di Sragen, 20 Juni lebih dari seperempat abad lalu. ^_^ Saat ini sedang belajar menulis untuk mengekspresikan diri. Memperoleh pengalaman yang sangat berharga saat numpang tinggal bersama Dara Apipb di Asrama Putri Bogor hingga menghantarkannya kepada tiga pertanyaan mendasar, "Dari mana kita berasal? Untuk apa kita hidup di dunia? Dan hendak kemana kita setelah kematian? Terkesan dengan sebuah bait, "Islam akan bangkit dengan atau tanpa kita. Lalu, apakah kita termasuk ke dalam orang-orang yang diam saja atau ke dalam barisan orang-orang yang memperjuangkannya?? Padahal, Islam akan tetap bangkit dengan atau tanpa kita." Belajar melawan, melalui perang pemikiran. Allahu Akbar!!!

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Assalamu’alaykum…

Demi Masa

Kini

Statistik Blog

  • 8,598 hits

Arsip

%d blogger menyukai ini: