//
you're reading...
Serial Si Kembar Fath-Fa

Serial Si Kembar Fath-Fa: 3. Lelaki Berbaju Cokelat

Tulisan Peringatan "Calo Dilarang Masuk"

Tulisan Peringatan “Calo Dilarang Masuk”

Pagi ini Fa tergesa-gesa hendak pergi ke kantor samsat. Jatah “hidup” Si Hitam tinggal beberapa hari lagi. Bila tidak segera diperpanjang alamat bisa kena denda. Dan itu artinya bisa memotong uang jajan Fa. Karena, sudah sejak seminggu lalu Ibu menugaskan Fa untuk mengurus perpanjangan usia (pajak) Si Hitam, jadi segala resiko menjadi tanggungan Fa.

“Abang, bisakah menggantikan Fa bayar pajak Si Hitam? Fa padet banget ni harus liputan,” rengek Fa minggu lalu di hadapan Abangnya yang lagi menyeruput secangkir milo.

“Wah, maaf, ya, Fa. Abang pekan ini juga padet banget. Jelang DL pengembangan program nih. Sorry, Abang belum bisa bantu,” jawab Fath tergesa-gesa sambil berjalan ke arah garasi mengambil Si Jalu motor kesayangannya.

Huff, Fa agak bingung juga waktu itu, siapa yang harus pergi ke samsat. Jadilah, pagi ini, setelah ia mendapat izin dari redakturnya. Fa pun meluncur ke samsat sendirian.

Jalanan lumayan lancar, hanya beberapa titik yang agak tersendat karena jalanan rusak yang menyebabkan laju kendaraan sedikit terhambat. Sudah setahun lebih Fa tak mengunjungi kantor itu. Tahun lalu tugas Abang Fath yang harus memperpanjang usia Si hitam.

“Mau ke mana, Neng?” ujar Tukang Ojeg yang menjumpai Fa celingak-celinguk kebingungan.

“Kantor Samsat, di sebelah mana, ya, Pak?” ujar Fa dengan rasa syukur karena ada yang ramah memerhatikan kebingungannya.

“Ohh, ke sana, Neng. Mau bayar pajak, ya? Hayuk atuh kalau mau dibantu,” jawab Tukang Ojeg dengan semangat.

“Makasih, Pak, makasih…” jawab Fa cepat dengan menginjak pedal Si Hitam secara kencang.

Akhirnya, setelah berkendara kurang lebih satu jam, Fa bisa memakirkan Si Hitam di depan kantor Samsat juga. Tempat parkir di halaman kantor sudah penuh. Terpaksa Si Hitam ‘Mejeng” di pinggir jalan.

Jam masih menunjukkan pukul 09.07 wib. Masih pagi, semoga belum banyak yang antri, batin Fa berharap.

“CALO DILARANG MASUK!”

Sebuah kalimat paringatan menyambut kedatangan Fa. Wah, sudah semakin bagus nih, tidak akan ada calo lagi, batin Fa semakin senang. Tidak hanya satu, bahkan lebih dari lima tempat Fa menjumpai tulisan peringatan yang senada dengan kalimat di atas itu. Di spanduk besar, di depan pintu, di standing benner, bahkan ada ilustrasinya segala, dll.           

“Bu, mau fotokopi KTP dan STNK untuk bayar pajak tahunan,” ujar Fa kepada seorang Ibu yang menjaga tempat fotokopi di lingkungan kantor samsat.

“Bayar pajak tahunan ga perlu difotokopi, yang penting dah ada aslinya,” ujar Ibu itu sambil men-staples- KTP asli, STNK asli, dan bukti pembayaran pajak tahun sebelumnya pada sebuah map berwarna kuning.

 Tiba-tiba pandangan mata Fa menumbuk pada stumpuk BPKB, KTP, dan surat-surat lainnya yang dibawa oleh seorang lelaki. Mata Fa mulai menyelidik. Kenapa dia memfotokopi begitu banyak, batinnya bertanya-tanya.

 Lelaki itu belum terlalu tua, tapi juga tidak terlalu muda. Potongan rambutnya cepak, tapi agak sedikit “bergaya”, berkumis tipis tanpa jenggot. Menggunakan kemeja warna cokelat dengan tas hitam yang diselempang di bahunya.

 Karena khawatir antrian telah memanjang. Segera Fa berlari ke loket pendaftaran. Tanpa memerhatikan lelaki baju cokelat lebih lanjut yang masih berdiri menanti fotokopiannya usai. Tak berapa lama Fa mendengar nama Ibu dipanggil, iya, itu berarti Fa harus mengambilnya, heee. Di loket itu Fa mendapat sebuah kertas yang harus diisi peryataan bahwa berbagai surat-surat itu benar miliknya. Kemudian Fa berpindah ke loket di sebelahnya. (Posisi loket pendaftaran itu masih di luar ruangan). Sama, di situ juga terdapat banyak sekali peringatan bahwa calo dilarang masuk.

 Fa masuk ke ruang utama, berjajar loket-loket dengan berbagai tulisan yang menggelantung di hadapannya. Tak lupa, kalimat peringatan “calo dilarang masuk” dan sejenisnya pun terpajang di sana.

 Di loket 1, kertas yang tadi berisi peringatan di sobek sebelahnya. Sebelah diambil oleh petugas, sedang yang sebelah lagi diberikan ke Fa untuk dipakai sebagai tanda pengambilan nanti. Fa mendapat urutan ke-76. Di situ berkas juga diperiksa. Setelah itu Fa menunggu di sebuah kursi yang posisinya persis di hadapan loket-loket.

 “Di mana-mana banyak peringatan larangan calo, ya, Bu?” ujar Fa pada seorang Ibu yang duduk bersebelahan dengan Fa.

“Ahh, Neng, jangan percaya! Teuteup wae, calo mah banyak! Kalau kayak kita-kita gini yang ngurus sendiri, jadinya pasti lama!” ujar Ibu itu dengan sedikit kesal.

“Saya selalu ngurus sendiri tiap tahun. Selalu saja lama. Dan calo-calo itu tetap ada!” tambahnya lagi.

“Oya? Jadi tulisan-tulisan peringatan itu fungsinya hanya pemanis?” ujar Fa berharap mendapat kejelasan.

“Iya begitulah,” jawab Ibu tadi sambil berdiri karena namanya telah dipanggil.

 Mendengar jawaban Ibu itu, memori Fa kembali teringat pada lelaki berbaju cokelat di pojok ruang fotokopi. Haaaa, apakah lelaki tadi adalah salah seorang calo? Tanyannya pada dirinya sendiri. Tiba-tiba Fa menjadi deg-degan, jantungnya merasa berdebar lebih kencang dan berbagai perasaan lain pun berkecamuk di hatinya. Takut, was-was, bingung dan lannya.

 Pandangan mata Fa mengitari seluruh ruang. Penjaga-penjaga loket yang semuanya laki-laki dia amati satu-satu. Berbagai tulisan dibacanya. Tak luput, sebuah foto pasangan gubernur dan wakil gubernur yang bersandar di sebuah sudut ruang pun menjadi santapan matanya.

Ah, apakah gubernur dan wakil gubernur itu tahu bahwa di wilayah yang dipimpinnya masih banyak praktik curang? batin Fa mulai mengembara. Iya, mungkin tidak hanya di sini saja. Bisa jadi masih banyak di tempat-tempat lainnya. Apa yang harus Fa lakukan? Fa mulai gelisah. Buku mengenai parenting hadiah dari Mas Sinyo Egie yang mau dibacanya pun hanya dipeluknya saja.

“Kenapa Bapak tadi memfotokopi BPKB dan surat-surat lainnya banyak sekali? Bapak mengurusi punya siapa?” “Apakah Bapak calo? Kok, mem-fotokopi banyak banget?” Fa mencoba merangkai-rangkai kalimat yang kira-kira sopan dan bisa dijadikan pertanyaan kepada lelaki berbaju cokelat.

 “Ahhh, tidak, tidak, Fa di sini sendirian. Nanti kalau lelaki itu marah dan memanggil teman-temannya bagaimana?” Hati Fa berkecamuk, Fa makin khawatir, kalimat yang sudah dirancangnya pun akhirnya buyar kembali.

 Masih kebingungan memikirkan apa yang harus dilakukannya, tiba-tiba Fa mendengar nama ibunya dipanggil. Segera ia berjalan ke loket pembayaran. Alhadulillah, tidak terlalu lama, hanya satu jam-an sudah dipanggil untuk membayar, batin Fa agak sedikit terhibur.

“Satu juta sembilan ratus enam puluh tiga ribu,” ujar petugas di loket 3 yang duduk di hadapan Fa.

Fa menghitung sepuluh lembar uang ratusan ribu dan dua puluh lembar uang lima puluhan ribu.

“Ini, dua juta,” ujar Fa sambil menyerahkan uang kepada petugas. Sigap, petugas menerima uang dan segera menghitungnya dengan cepat. Wih, cepat juga menghitungnya, batin Fa lagi. Setelah mendapat kembalian, Fa masih harus menunggu lagi untuk mendapatkan bukti pembayaran pajaknya.

 Ait, baru saja duduk dan hendak menikmati biskuit yang dibawanya dari rumah, tiba-tiba lelaki berbaju cokelat muncul di hadapan Fa. Lelaki itu membawa banyak berkas dalam map berwarna biru, lalu diserahkan begitu saja di hadapan petugas di loket 4.

Lho, kok langsung di loket 4? Fa kembali gelisah. Bingung mau berbuat apa. Seakan berada di sebuah ruang yang dipenuhi dengan penipu brengsek yang berkoar-koar melarang penipu (baru) masuk ke dalam ruangan itu.

Lelaki Berbaju Cokelat Menyerahkan Berkas

Lelaki Berbaju Cokelat Menyerahkan Berkas

 Lalu, tak lama kemudian lelaki berbaju cokelat itu masuk kembali, mengambil surat-surat yang telah jadi. Oh, setelah itu seorang lelaki lain pun menyerahkan berkas di loket 4, masih dengan petugas yang sama.

Hati Fa kembali berkecamuk. Apakah perlu menanyai ke lelaki berbaju cokelat itu? Tiba-tiba Fa benar-benar merasa butuh kehadiran Abangnya, Fath. Abang Fath lagi ngapain ya, tahukan adiknya di sini lagi galau sendirian? Desis Fa.

Seakan sedang mencari sinyal, Fa mencoba mengikuti lelaki berbaju cokelat itu keluar. Lelaki itu sedang berbicara dengan lelaki yang tadi juga menyerahkan berkas di loket 4. “Cekrek”, meski hape Fa jadul, bersyukur masih bisa dipakai untuk mengambil gambar dengan jelas.

Lelaki Berbaju Cokelat Berbincang Dengan Temannya

Lelaki Berbaju Cokelat Berbincang Dengan Temannya

Segera Fa masuk kembali ke ruangan yang kebanyakan laki-laki itu dengan perasaan deg-degan. “Ibu, nanti kalau ngurus Si Hitam berdua ama Abang, ah,” rengeknya pada pesan singkat untuk Ibu.

 “Aisyah Rosyidah!”

Fa bangkit mengambil bukti pembayaran pajak Si Hitam. Hatinya gundah, suasanya terlalu gerah. Fa ingin segera pulang, perut pun terasa amat lapar, ingin cepat makan sebanyak-banyaknya.

Seettt..

Baru beberapa langkah keluar pintu, mata Fa langsung menumbuk lelaki berbaju cokelat yang sedang berbincang dengan lelaki lain. Secepat kilat terjadi transaksi serah terima. Sayang, meski Fa sudah mengaktifkan hapenya, tapi ia kelewat mengambil gambar. Transaksi tak bisa dibuktikan, hanya tersimpan dua orang lelaki yang sedang berbincang.

Usai Serah Terima

Usai Serah Terima

Lalu, dibacanya kembali sepenggal kegelisahan yang ditulisnya:

IRONI PAGI INI

di pintu, di loket, di spanduk, di mana-mana terpampang

: calo dilarang masuk!


oya? ini Indonesia

negeri muslim terbesar yang,

berbenduduk lebih 250 juta jiwa

kenapa tak pernah punya malu?

 

dia, dia, dia

juga tertulis islam pada katepenya

ngantri di samsat, 19.02.2014

Iklan

About Ayatifa

Muslimah yang di besarkan di sebuah dusun yang bernama Kuamang Kuning di pedalaman Jambi, aktivitas sehari-harinya lebih banyak 'bersembunyi'. Hijrah ke Bogor untuk memenuhi hasrat petualangan intelektualnya. Menyukai dunia politik khususnya yang berkaitan dengan perempuan, keluarga dan generasi. Lahir di Sragen, 20 Juni lebih dari seperempat abad lalu. ^_^ Saat ini sedang belajar menulis untuk mengekspresikan diri. Memperoleh pengalaman yang sangat berharga saat numpang tinggal bersama Dara Apipb di Asrama Putri Bogor hingga menghantarkannya kepada tiga pertanyaan mendasar, "Dari mana kita berasal? Untuk apa kita hidup di dunia? Dan hendak kemana kita setelah kematian? Terkesan dengan sebuah bait, "Islam akan bangkit dengan atau tanpa kita. Lalu, apakah kita termasuk ke dalam orang-orang yang diam saja atau ke dalam barisan orang-orang yang memperjuangkannya?? Padahal, Islam akan tetap bangkit dengan atau tanpa kita." Belajar melawan, melalui perang pemikiran. Allahu Akbar!!!

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Assalamu’alaykum…

Demi Masa

Kini

Statistik Blog

  • 8,598 hits

Arsip

%d blogger menyukai ini: