//
you're reading...
Politik [as-Siyasi]

Remaja Ngompol? Yuk…!

Ngomong Politik?

Ngomong Politik?

What? Remaja (masih) ngompol, ga salah tulis tuh? Hee, Tenang Bro, Sis, “Ngompol” yang akan kita bahas di sini bukan ngompol dalam arti pipis di celana saat tidur atau karena udah kebelet ga kuat nahan. Bukan, bukan itu, hehe.. Ngompol yang kita maksud adalah Ngomong Politik. Gimana, meski kita-kita masih remaja, bisa juga, kan, Ngompol alias Ngompol Politik? Setuju?

 
Menghitung hari detik demi detik masa kunanti apa kan ada. Jalan cerita kisah yang panjang, menghitung hari…

 
Apakah kalian tahu lagu itu? Dulu, lagu itu terkenal saat masa Emak kita masih muda, Teman. Sebelum tahun 2000-an. Yealah, mungkin kita-kita yang masih unyu ni waktu itu juga belum lahir, Haha.. Dulu, tu lagu yang tenar dinyayiin oleh KD alias Krisdayanti sering dipakai untuk backsounds operet saat adegan galau gitu. Duduk sendiri di bawah pohon rindang sambil mencetin kalkulator menghitung detik demi detik. Ups, kayaknya tu lagu bisa juga deh dipake untuk backsounds para caleg yang lagi galau menanti waktu pencoblosan tiba. Betul ga?

 
Nah, ngomong-ngomong masalah politik, nih, ya, tak lama lagi negara kita akan mengadakan “hajatan” besar, Bro, Sis. Eiit, kita jangan ngebayangin hajatan ni seperti nikahan atau sunatan. Ni ‘pesta’ lima tahunan, konon membutuhkan biaya yang tidak sedikit, bahkan perorangnya aja bisa merogoh kocek lebih dari ratusan juta rupiah sampai milyaran rupiah. Nah, kalau pesta beneran biasanya berakhir dengan bahagia, sayangnya pesta kali ini ga begitu, bahkan ada yang harus siap-siap jadi gila. Suer.

 
Kita bisa melihat, Pramono Anung, mantan Sekjen DPP PDIP dalam risetnya menyebutkan biaya kampanye tahun 2009, untuk artis terkenal yang nyaleg butuh biaya sekitar Rp 300 juta. Aktivis swadaya masyarakat bisa ngeluarin dana sekitar Rp 500 juta sampai Rp 1 milyar, sedang untuk purnawirawan TNI atau Polri butuh dana sekitar Rp 800 juta hingga Rp 1,5 milyar.

Hmmm, Uang?

Hmmm, Uang?

Nah yang fantastis adalah pengusaha yang bisa sampai mengeluarkan dana antara Rp 5 milyar sampai Rp 20-an milyar. Nah, lho, angka sebanyak itu duit semua, Broo, bukan daun yang bisa dipetik di kebun raya, hehe. Jujur, aku sih, belum pernah ngelihat uang sebanyak itu. 😀

 
Teman-teman kebayang, kan, kira-kira seberapa mahal biaya menuju “pesta” tanggal 9 April 2014 nanti? Nah, kalau calegnya tu berkantong cekak, dari mana coba mereka bisa mengeluarkan modal segitu banyak? Bahkan mecahin celengan jago 10 buah pun ga bakalan cukup. Akhirnya, bagi caleg yang berkantong tipis tapi ingin tetap eksis, biasanya akan mencari penyandang dana yang di belakangnya ada deal-deal politik, kesepakan-kesepakan alias perjanjian-perjanjian yang akan dijalankan ketika dah menang nanti. Hoho, teman-teman kebayang kan apa itu “deal-deal politik?” hihi, yah, semacam perjanjian dua orang yang saling “membutuhkan” gitu deh, pengusaha ga mau rugi dah ngeluarin modal besar..

 
Maka tak heran, bila saat ini temen-teman sering denger berita korupsi anggota legislatif. Iya, itu, diduga, salah satu pemicunya adalah ingin mengembalikan modal dan untuk mengumpulkan modal lagi agar tetap bisa nyalon dan kepilih di pemilu mendatang.
Selain itu, perlu kita ketahui juga, berdasarkan data dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) alokasi kursi di DPR pada pemilu 2014 ini tak berubah, yaitu tetap 560 kursi, sementara jumlah calon anggota yang terdaftar dari 12 partai sebanyak 6.607 orang, dan 90 persen anggota DPR yang telah menjabat saat ini mencalonkan kembali. Wiw, wiw, wiw, gimana, kebayang ga ketatnya persaingan mereka? Pusingg.. 6.607 orang caleg harus memperebutkan 560 kursi, yang ibu berarti peluang mereka menang adalah 0,085 persen. Glek!

 
Oh, tidaakk, yang mengerikan lagi, berdasarkan data Kementrian Kesehatan RI pada tahun 2010, setelah pemilu tahun 2009 lalu muncul 7.376 orang sakit jiwa baru dari para caleg yang gagal dalam meraih kemenangan pemilu. Hingga ada yang bunuh diri segala. Hiks..

Caleg = Calon Gila?

Caleg = Calon Gila?

Wiw, bener-bener ngeri! Aneh, kan, pesta tapi membuat penikmatnya tak berakhir bahagia. Bahkan pemerintah telah menyediakan kamar-kamar di berbagai RSJ di beberapa kota besar untuk mengantisipasi munculnya orang gila baru setelah hajatan pemilu 9 April nanti. Ngeri benget kan? Belom lagi membayangkan ritual aneh-aneh yang dilakukan para caleg untuk meraih kemenangan, berendam di sungai, ke dukun, meminum air bekas cuci kaki dan lain-lain. Duh, kalau “pesta” malah ga berakhir bahagia, jangan-jangan ada yang salah dengan konsep “pesta” itu sendiri, Bro?

 
Gimana, ga kerasa kan kita udah Ngompol alias Ngomongin Politik? Hehe, iyap, yang boleh ngomongin politik tu ga hanya yang udah jadi caleg atau pejabat aja, lagi. Kita-kita semua ni, meski sekarang masih unyu, kelak kan nerima tongkat estafet dari para tetua, ya, ga? Nah, kita jangan takut Ngompol alias Ngomong Politik. Bahkan politik tu bukan tentang coblos-menyoblos alias contreng-mencontreng doang, lho.. Politik tu luas, bahkan saat kita menulis surat ke penguasa tentang jalan kampung kita yang rusak, sekolah yang rubuh, tetangga kita yang ga bisa berobat, dll kita sejatinya telah berpolitik.

 
So, sejak sekarang kita harus jeli dan peka dengan berbagai kejadian di sekitar kita. Contohnya, terungkapnya penyikasaan PRT oleh istri jenderal, adanya penelantaran anak-anak di sebuah panti asuhan, maraknya situs porno dan video porno di kalangan remaja, dan masih banyak daftar peristiwa lainnya yang bakalan ga selesai kalau harus kita sebutin semua.

 
Lalu, apa ni yang kira-kita bisa kita lakuin? Pertama, kita harus meluruskan pengertian politik sehingga kita ga alergi lagi dengan yang namanya Ngompol alian Ngomong Politik. Iya, saat kita menyadari harus memikirkan saudara kita yang kekurangan, tersiksa atau tertimpa bencana dan segala hal yang menyakut kebutuhan hidup orang banyak berarti kita telah melaksanakan bagian dari berpikir politik.
Tak sampai di situ saja, yang kedua kita harus berani memuhasabahi para pejabat, baik anggota legislatif, menteri bahkan presiden dan lainnya yang masih sering lalai atau lupa dengan mengeluarkan atau menetapkan kebijakan yang menyengsarakan rakyat, misalnya kenaikan harga BBM, TDL, gas dan lainya untuk segera kembali pada jalan lurus dan tidak mendzolimi rakyat.

 
Nah, tentu kita tidak hanya mengritiknya tanpa penyelesaian, yang ketiga adalah memberi alternatif solusi atas berbagai persoalan rakyat tadi. Dimana, kita sebagai seorang muslim yang hanya berharap RidloNya, in syaa Allah segala solusi yang kita tawarkan harus bersumber dari Allah swt semata.

 
Yuk, mumpung “hajatan” belum berlangsung, masih ada waktu bagi kita semua untuk meluruskan niat, merenungi diri. Hukum siapakah yang akan kita perjuangkan pada “pesta” nanti, hukum Allah atau hukum buatan kita manusia yang lemah ini? Kepentingan rakyat atau kepentingan pribadi dan golongan yang selama ini telah menjadi motivasi?

 
Mari, bersama-sama, kita berikan suara kita pada yang sebenar-benar memperjuangkan hukum Allah! Remaja Ngomongin Politik? Yuk!

 
Ayati Fa
Kota Hujan, 22 Maret 2014

*ilustrasi dari internet

Iklan

About Ayatifa

Muslimah yang di besarkan di sebuah dusun yang bernama Kuamang Kuning di pedalaman Jambi, aktivitas sehari-harinya lebih banyak 'bersembunyi'. Hijrah ke Bogor untuk memenuhi hasrat petualangan intelektualnya. Menyukai dunia politik khususnya yang berkaitan dengan perempuan, keluarga dan generasi. Lahir di Sragen, 20 Juni lebih dari seperempat abad lalu. ^_^ Saat ini sedang belajar menulis untuk mengekspresikan diri. Memperoleh pengalaman yang sangat berharga saat numpang tinggal bersama Dara Apipb di Asrama Putri Bogor hingga menghantarkannya kepada tiga pertanyaan mendasar, "Dari mana kita berasal? Untuk apa kita hidup di dunia? Dan hendak kemana kita setelah kematian? Terkesan dengan sebuah bait, "Islam akan bangkit dengan atau tanpa kita. Lalu, apakah kita termasuk ke dalam orang-orang yang diam saja atau ke dalam barisan orang-orang yang memperjuangkannya?? Padahal, Islam akan tetap bangkit dengan atau tanpa kita." Belajar melawan, melalui perang pemikiran. Allahu Akbar!!!

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Assalamu’alaykum…

Demi Masa

Kini

Statistik Blog

  • 9,150 hits

Arsip

%d blogger menyukai ini: