//
you're reading...
Aneka Lomba

GIVEAWAY : Kenangan Terindah

Cover Kumpulan Dongeng Anak Karya Hastira Soekardi

Cover Kumpulan Dongeng Anak Karya Hastira Soekardi

Kenangan masa kecil apa yang kamu ingat sampai sekarang, Fa? Banyak! Iyap, mengingat-ingat kenangan masa kecil,masa sekolah di Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar, sekolah lanjutan dan seterusnya memang sesuatu yang menyenangkan. Hmm, kenapa kenangan masa kecil terasa lebih “indah” di banding kenangan setelah “dewasa”? Lalu, apakah setelah dewasa ini kenangannya menjadi tak menyenangkan? Hoho, tentu tidak, hanya, menurut saya, saat masih kecil dulu, saat kita masih belum baligh, banyak kata-kata atau kegiatan yang kadang lucu karena kepolosan kita, kita belum banyak tahu berbagai hal, dan ga malu kalau salah bertanya atau yang lainnya. Meski pun setelah agak besar malu-malu juga.. ehhe..

 
Setelah kepindahan keluarga kami ke Jambi, pengalaman seru banyak sekali saya alami. Sebagai anak desa, tempat bermain kami adalah ladang, hutan dan tempat-tempat seru lainnya. Karena kampung kami jauh dari kota dan jalan keluar-masuk desa pada waktu itu masih parah (becek, rusak belum diaspal), pergi ke kota khususnya Jawa menjadi cita-cita terpendam yang luar biasa.

 
Masa itu, tahun 90-an, fasilitas di desa kami masih terbatas, di sekolahan kami jarang buku-buku bacaan, listrik belum ada, jadi penerangan di kampung kami masih memakai lampu minyak atau disel bagi yang memilikinya. Lalu, apakah kami merasa kegelapan? Hmm, tidak juga, karena bulan seringkali bersinar terang, bintang-bintang bertaburan, atau di lain waktu kami membakar damar di halaman sebagai penerangan.

 
Wow, kenangan itu benar-benar luar biasa. Dengan cemilan ubi rebus, kacang rebus, pisang goreng, dan lainnya orang-orang dewasa berbincang tentang harga sembako yang naik, harga getah karet yang turun atau tentang perpolitikan. Kami, anak-anak bermain petak umpet, kupu-kupuan, orang-orangan, gobak sodor, dan permainan lain. Dan tak kalah seru, bapak atau ibu suka bercerita tentang Bawang Merah-Bawang Putih, Ande-Ande Lumut, atau tentang seorang anak buruk rupa yang selamat dari gigitan ular. Duuuh, sudah banyak yang lupa nih, kisah detailnya gimana.

 
Hmm, mengingat-ingat dongeng yang pernah diceritakan Bapak atau Ibu, saya berpikir pelajaran yang dapat kita ambil adalah tentang kesederhanaan, kesabaran, tidak sombong, kepahlawanan dan etika baik lainnya. Meski kisah itu diulang-ulang, saya ga pernah bosan mendengarnya. Selain mendengarkan kisah di malam hari di bawah terang bulan atau taburan bintang bersama teman-teman di halaman. Bapak Ibu juga sering mendongeng saat menjelang tidur. Iyap, kisahnya itu-itu lagi, Bawang Merah Bawang Putih, Ande-Ande Lumut, atau anak buruk rupa yang selamat dari gigitan ular dan beberapa kisah lainnya yang aku sudah lupa (ketukar-tukar). Anehnya aku tak pernah bosan.

 
Ibu bercerita, ada 10 anak desa yang suka menggembalakan sapi dan kambing. Dari 10 penggembala itu ada seorang anak yang buruk rupa, dia paling miskin, tubuhnya penuh luka dan korengan, karenanya dia ga memiliki teman. Ibu bilang, karena dari luka korengnya mengeluarkan bau tak sedap, maka dia dijauhi teman-temannya pun suka menjadi bahan ledekan. Akhirnya Si Anak Buruk Rupa ini menggembalakan kambingnya sendirian.

 
Suatu hari saat lagi menggembalakan kambing terjadi hujan yang cukup lebat, 9 anak berteduh di sebuah lubang yang menyerupai gua. Kasihan Si Anak Buruk Rupa, dia tak boleh masuk ke gua itu oleh teman-temannya, sehingga dia kehujanan sendirian. Tiba-tiba setelah hujan berhenti, gua tempat berteduh 9 anak tadi sudah tidak ada lagi. Dicari-cari tetap tak ketemu, ternyata mulut gua itu adalah mulut ular raksasa yang sedang terbuka karena kelaparan. Sembilan anak yang berteduh di dalam gua tadi telah menjadi santapan ular, dan terkadang ular itu menggerak-gerakkan ekornya hingga membuat bumi bergetar. Si Anak Buruk Rupa yang sabar atas segala penderitaannya selamat dari marabahaya.

 
Hoho, kadang saya tergelitik ingin membuktikan di mana keberadaan ular yang gerakan ekornya bisa menggoncangkan bumi itu. Ketika saya tanyakan Ibu, Ibu bilang ularnya berada di dalam tanah di pulau Jawa, sehingga di Jawa sering terjadi gempa. Bersyukur, kisah itu, mensugesti saya untuk tidak menghina seseorang yang kekurangan, miskin dan lainnya. Selain itu, Ibu juga mengajarkan nyanyian, setiap dongeng biasanya Ibu kisahkan sambil bernyanyi. Meski Ibu adalah Ibu generasi dahulu yang tak bisa membaca aksara karena tidak mendapat kesempatan sekolah. Wow, selain kepandaian Ibu berkisah sambil bernyanyi dengan nada lagu karangan beliau sendiri tadi, kami anak-anak beliau belum ada yang mengalahkannya berhitung cepat. Salut!

 

Sekarang sudah banyak kisah yang bisa kita peroleh baik dari buku maupun internet. Harusnya tidak harus menunggu bertemu “Si Mata Elang” dan memiliki putra-putra sendiri baru bercerita indah. Di Taman Baca, atau tempat lainnya, kita bisa bertemu anak-anak penerus generasi bangsa dan bercengkrama dengannya.

 

Kota Hujan, 30 Maret 2014

 

Tulisan ini diikutsertakan dalam Giveaway Mamahtira

 

 

Iklan

About Ayatifa

Muslimah yang di besarkan di sebuah dusun yang bernama Kuamang Kuning di pedalaman Jambi, aktivitas sehari-harinya lebih banyak 'bersembunyi'. Hijrah ke Bogor untuk memenuhi hasrat petualangan intelektualnya. Menyukai dunia politik khususnya yang berkaitan dengan perempuan, keluarga dan generasi. Lahir di Sragen, 20 Juni lebih dari seperempat abad lalu. ^_^ Saat ini sedang belajar menulis untuk mengekspresikan diri. Memperoleh pengalaman yang sangat berharga saat numpang tinggal bersama Dara Apipb di Asrama Putri Bogor hingga menghantarkannya kepada tiga pertanyaan mendasar, "Dari mana kita berasal? Untuk apa kita hidup di dunia? Dan hendak kemana kita setelah kematian? Terkesan dengan sebuah bait, "Islam akan bangkit dengan atau tanpa kita. Lalu, apakah kita termasuk ke dalam orang-orang yang diam saja atau ke dalam barisan orang-orang yang memperjuangkannya?? Padahal, Islam akan tetap bangkit dengan atau tanpa kita." Belajar melawan, melalui perang pemikiran. Allahu Akbar!!!

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Assalamu’alaykum…

Demi Masa

Kini

Statistik Blog

  • 8,598 hits

Arsip

%d blogger menyukai ini: